Padang, (Antaranews Sumbar) - Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I Branch Sumatera Barat menyatakan konsumsi gas non subsidi Bright Gas mengalami kenaikan dari 18.500 tabung pada Februari 2017 menjadi 43.039 tabung pada Februari 2018.

Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR I Rudi Ariffianto ketika dihubungi dari Padang, Rabu, menjelaskan, pada Februari 2017 realisasi penjualan Bright Gas ukuran 12 kg dan 5,5 kg sebanyak 18.850 tabung sedangkan pada Februari 2018 penjualan Bright Gas mencapai 43.039 tabung.

Penjualan sebanyak 43.039 tabung itu terdiri dari 22.312 tabung Bright Gas ukuran 5,5 kg dan 20.727 tabung berukuran 12 kg yang dijual di kawasan Sumatera Barat.

"Kami berharap tentu konsumsi gas non subsidi ini terus meningkat setiap bulannya," kata dia.

Terkait wacana konversi atau pemindahaan gas bersubsidi 3 kg yang biasa disebut gas melon ke gas non subsidi Bright Gas, pihaknya masih menunggu instruksi dari pemerintah.

"Apabila ada instruksi dilakukan konversi oleh pemerintah tentu akan kami laksanakan namun hingga saat ini belum ada," kata dia.

Sementara terkait rencana peluncuran Bright Gas berukuran 3 kilogram yang bertujuan menyukseskan program konversi dari gas bersubsidi ke gas non subsidi, pihaknya masih belum mendapat instruksi.

"Hal itu tentu butuh pendataan ulang dan kami belum menerima perintah melakukan hal tersebut. Kita tunggu saja arahan dari pemerintah terkait rencana tersebut," ujarnya.

Ia mengatakan PT Pertamina akan memperketat kanal distribusi penyaluran elpiji bersubsidi tiga kilogram mengantisipasi terjadinya pengoplosan karena dapat merugikan masyarakat selaku konsumen.

"Untuk agen maupun pangkalan dilakukan pencatatan terstruktur siapa yang menjadi konsumennya secara manual untuk kemudian dikirim ke Pertamina," kata dia.

Ia menyampaikan Pertamina berupaya memastikan pasokan elpiji tiga kilogram benar-benar sesuai target peruntukannya.