Padang, (Antara) - Badan Pengendalian Dampak Lingkungan daerah(Bapedalda) Sumatera Baratb(Sumbar) melakukan pengujian kualitas udara di beberapa kabupaten yang terkena efek kabut asap paling parah.


         "Hasil pengujian ini nanti akan menjadi dasar bagi pemerintah untuk menetapkan kebijakan menindaklanjuti kabut asap ini," kata Kepala Bapedalda Sumbar, Asrizal Asnan di Padang, Jumat.


          Menurutnya, permintaan datang hampir dari semua daerah, terutama yang berbatasan langsung dengan provinsi tetangga yang menjadi sumber asap seperti Kabupaten Dhamasraya dan Limapuluh Kota.


         "Sayangnya, karena alat kita terbatas, kita tidak bisa langsung menanggapi semua permintaan, terpaksa dilakukan bergantian," katanya.


         Dia mengatakan, alat pengukur kualitas udara milik Pemprov Sumbar itu hanya satu unit.


         Hasil pengukuran menggunakan alat ini juga tidak bisa langsung keluar, harus melewati proses uji labor sehingga dari segi waktu kurang efektif," katanya.


         Meski demikian, Bapedalda Sumbar menurut dia akan melayani semua permintaan yang masuk.


         "Besok, kita akan lakukan pengujian di Kabupaten Limapuluh Kota yang berbatasan langsung dengan Provinsi Riau," katanya.


         Asrizal Asnan menyebutkan, asal kabut asap di Sumbar bukan dari pembakaran lahan di daerah itu, tetapi dari provinsi tetangga.


         "Pantauan kita, titik api di Sumbar tidak terlihat, tetapi di provinsi tetangga seperti Riau dan Jambi memang cukup banyak," katanya.


         Secara umum, untuk Sumbar indeks partikel dalam udara(PM10) tanggal 4 September 2015 menurutnya sekitar 145 mg/m3 atau Indeks Standar Pencemar Udara(ISPU) kategori sedang.


         "ISPU ini fluktuatif, kadang sedang, kadang tidak sehat, karena itu kita belum rekomendasikan pemerintah daerah untuk mengamvil tindakan seperti meliburkan pelajar sekolah," katanya.


          Dia mengatakan, rekomendasi yang diberikan Bapedalda saat ini adalah meningkatkan kewaspadaan bagi seluruh masyarakat.


         "Kalau memang tidak terlalu penting keluar rumah, sebaiknya beraktivitas di rumah saja," katanya.


         Meski demikian, Bapedalda menurutnya terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan maupun Badan Penanggulangan Bencana jika keadaan memburuk.


         "Kalau kualitas udara memburuk kita rekomendasikan Dinas Kesehatan dan BPBD untuk bagikan masker," katanya.


         Sementara itu, salah seorang warga Kota Payakumbuh, Pendi (35) mengatakan, dia lebih memilih untuk meliburkan anaknya yang bersekolah di PAUD untuk sementara.


         "Kalau untuk orang dewasa, kabut asap ini mungkin masih belum berbahaya, tetapi anak lima tahun ketahanan tubuhnya tentu masih lemah. Saya liburkan anak untuk sementara menunggu kualitas udara membaik," katanya. (*)


Pewarta : Agung Pambudi
Editor :
Copyright © ANTARA 2026