TKN berduka atas meninggalnya WNI di Selandia Baru

id Abdul kadir karding

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding (tengah). (Antaranews/Riza Harahap)

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-KH Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding mengatakan pihaknya turut berduka atas meninggalnya WNI dalam peristiwa teror di Selandia Baru.

"Kami turut berduka cita atas meninggalnya sejumlah jamaah khususnya WNI di masjid di Kota Chrischurch New Zealand yang menjadi korban penembakan brutal Breton Tarrant," kata Karding dalam siaran pers di Jakarta, Jumat.

Dia menegaskan penembakan itu menunjukkan bahwa fanatisme dan radikalisme menjadi fenomena global yang mesti terus-menerus diwaspadai.

"Dari kasus di Chrischurch kita tahu bahwa fanatisme dan radikalisme tidak melulu karena urusan agama tapi juga sikap nasionalisme berlebihan sehingga merasa mereka yang asing adalah ancaman," ujar dia.

Menurutnya kasus di Christchurh menjadi alarm sekaligus pekerjaan rumah bagi bangsa Indonesia untuk menyelesaikan masalah radikalisme dan fanatisme.

"Kita bisa memulainya dengan mengakhiri segala bentuk intoleransi dan persekusi terhadap sesama anak bangsa. Bangunlah solidaritas bahwa negeri ini milik kita bersama," ujar dia.

Karding mengatakan Presiden Jokowi memberi perhatian serius terhadap peristiwa ini. Presiden mengecam keras perilaku teror yang tidak berperikemanusiaan tersebut.

"Pak Jokowi berharap WNI di luar negeri selalu waspada dan hati-hati," kata dia.

Dia berharap Polri, BIN, BNPT, dan lembaga terkait yang menangani kasus-kasus terorisme mawas diri terhadap potensi serangan teroris di Indonesia pascaserangan terhadap jamaah Masjid di Chrischurch.

Dia juga berharap Kemenlu dan Kedubes RI memberikan imbauan dan langkah-langkah yang cepat dan terukur terkait potensi ancaman teror kepada para WNI selaku imigran di luar negeri.

"Ini penting lantaran sentimen antiimigran sedang menguat di beberapa negara," kata dia.

Pewarta : Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar