Lukman Edy sebut puisi doa Neno puncak kebohongan kubu Prabowo

id Lukman Edy,Puisi Neno Warisman, Neno Warisman, pilpres 2019

Juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Lukman Edy. (Istimewa)


Jakarta (ANTARA News) - Politikus PKB Lukman Edy menilai puisi doa Neno Warisman dalam acara Munajat 212 merupakan puncak kebohongan yang dilakukan kubu capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga.

"‘Doa sesat’ Neno Warisman adalah puncak dari kebohongan yang dibangun," kata Lukman Edy dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu. 

Lukman mengatakan puisi doa Neno Warisman, yang merupakan bagian tim sukses Prabowo-Sandi, tidak lagi menyasar umat Islam, bangsa Indonesia atau berupaya mendelegitimasi KPU.

Puisi doa yang berisi kebohongan itu, menurutnya, disodorkan kepada Allah SWT. 

"Ini di luar batas orang normal, di luar kebiasaan akal sehat," kata Lukman. 

Wakil Direktur Bidang Saksi Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf itu mengatakan dalam puisi doanya, Neno menyatakan tidak akan ada lagi orang menyembah Allah SWT jika Jokowi menang. 

"Dia tidak pantas mengucapkan doa itu, apalagi hanya untuk sebuah tujuan menang pemilu. Ini adalah kebohongan dan hoaks kepada Maha Pencipta, Allah SWT," tegasnya. 

Lukman mengingatkan sebelumnya kubu Prabowo telah berulang kali melakukan kebohongan. 

Misalnya, dengan mendesain ijtima ulama dan menggiring opini umat Islam, dengan cara mengatakan Prabowo akan menggandeng beberapa ulama populer sebagai calon pasangannya. 

Namun, faktanya Prabowo malah menggandeng Sandiaga Uno dengan pertimbangan memiliki dana kampanye yang melimpah, serta belakangan menyatakan Sandiaga adalah ulama milenial. 

Selain itu, kata dia, kubu Prabowo melalui Ratna Sarumpaet juga berbohong menciptakan dramatisasi operasi plastik untuk membuat hoaks soal kriminalisasi.

Kemudian kubu Prabowo juga kerap berupaya mengkriminalisasi KPU dengan berbagai tudingan seperti soal DPT ganda, kotak suara kardus, temuan kontainer surat suara tercoblos, hingga tudingan soal penyelenggaraan debat capres yang berpihak. 

"Sasaran mereka menggertak KPU dan membangun opini bahwa KPU tidak profesional, penuh kecurangan, tidak independen, tidak netral, dan pantas untuk ditolak hasil pemilunya kalau Joko Widodo yang menang," kata Lukman. 

Baca juga: PBNU ingatkan Neno Warisman tak mengandaikan pilpres sebagai perang

Baca juga: TKN: Neno tidak fanatik agama, dia terjerat fanatisme politik

Baca juga: Rommy harap Neno Warisman bertobat

 

Pewarta : Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Sigit Pinardi
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar