Pola pemberitaan ala cerita detektif

id bahasa pers, bahasa jurnalistik,jurnalisme,jurnalistik

Koran-koran di sebuah lapak di Jakarta, Rabu (10/5/2017). (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Menyimak kecenderungan penulisan berita lempang pada media massa dalam jaringan yang perkembangannya sangat pesat belakangan ini, pengamat media massa akan mafhum bahwa pola penulisan berita konvensional, yang terkenal dengan frasa "piramida terbalik", sudah dicampakkan awak redaksi.

Dalam pola konvensional, seorang pewarta sebelum memulai menulis berita, dalam pikirannya sudah terbayang poin-poin terpenting apa yang akan diangkat menjadi judul dan teras berita.

Pembaca disuguhi informasi terpenting atau termenarik di alinea awal berita. Jika sang pembaca tak punya waktu untuk melanjutkan membaca alinea berikutnya, dia sudah memperoleh informasi terpenting, yang menjadi pokok berita itu.

Alinea selanjutnya adalah penjabaran lebih lanjut dan detil tentang pokok berita yang ditulis di alinea awal itu. Kantor-kantor berita di seluruh dunia menerapkan hukum besi penulisan berita lempang itu.

Namun, jagat pemberitaan kini berubah drastis dengan hadirnya teknologi komunikasi informasi, yang rohnya dijelmakan dalam bentuk pemberitaan interaktif lewat internet.

Salah satu perubahan mencolok adalah lahirnya gaya penulisan berita yang tak lagi konvensional dengan menempatkan elemen terpenting di bagian awal alinea berita. Kini yang jamak ditemui di media-media dalam jaringan adalah pola penulisan berita yang menyerupai cara novelis menggubah cerita detektif, dengan mengulur-ulur membeberkan jawaban atas misteri yang dinarasikan di halaman-halaman awal.

Jurnalis dan penyunting sengaja menyamarkan inti pesan berita di judul dan teras. Maka judul-judul menggoda berikut ini banyak ditemukan: "Inilah Faktor Utama Gagalnya Inggris Melaju ke Final Piala Dunia 2018", "Megawati Mengatakan Tiga Hal Strategis Kepada Jokowi", "Makin Mengerucut, Ini Kandidat Cawapres Prabowo".

Dengan membaca judul-judul semacam itu, pembaca tak mendapatkan informasi substansial konkret. Hanya dengan membaca tubuh berita secara utuh, pembaca baru mengetahui isi berita.

Jurnalis kantor berita yang menulis dengan pola piramida terbalik akan menyuguhkan berita-berita dengan judul di atas, dengan mengemukakan substansi atau isi berita. Judul-judul di atas bisa jadi terumuskan dalam kalimat berikut: "Faktor Ketenangan Mental Singkirkan Inggris menuju Final Piala Dunia 2018".

Untuk dua judul berita berikutnya, pewarta dan redaktur tentu tak harus menyebut poin-poin yang menjadi inti berita di judul. Tapi cukup memilih poin terpenting sebagai informasi utama berita.

Perubahan pola penulisan yang dilakukan jurnalisme siber itu bisa dimaklumi karena yang menjadi target media dalam jaringan adalah durasi pembacaan atas teks berita oleh pembaca. Strategi itu menjadi bagian dari perolehan pendapatan media bersangkutan. Pengiklan komersial membayar media dalam jaringan karena jumlah pembaca dan durasi pembacaan atas teks.

Meskipun tren penulisan gaya cerita detektif, yang meletakkan informasi inti di bagian tengah atau akhir tubuh berita menggejala saat ini, bukan berarti berita lempang yang ditulis dengan pola piramida terbalik hilang dari jagat pemberitaan. Gaya penulisan berita lempang tetap eksis dan memenuhi lalu lintas informasi.

Namun, lokasinya lebih banyak di kanal-kanal media penyiaran seperti radio dan televisi. Saluran media sosial juga menjadi sumber distribusi berita lempang yang ditulis dengan standar konvensional.

Yang menarik dari perkembangan penulisan berita model cerita detektif itu adalah peluang lahirnya pola-pola tata kata atau yang sering disitilahkan dengan jargon "sintaksis" pada berita-berita yang terbit di media dalam jaringan.

Pola sintaksis itu merupakan pengayaan lebih variatif dari pola penulisan judul dengan formulasi kalimat tunggal atau kalimat majemuk setara yang biasa digunakan oleh penulis berita lempang model konvensional.

Jika sintaksis judul berita yang ditulis secara konvensional umumnya mengandung satu pokok pikiran, tata kata dalam judul berita ala cerita detektif mengandung lebih dari satu pokok pikiran.

Jika judul berita dalam bentuk sintaksis konvensional berbunyi seperti "Amien Rais: Ada Tokoh Pindah Posisi yang Bingungkan Umat", pola kalimat judul berita lempang dalam jaringan akan berbunyi sebagai berikut: Setelah TGB Dukung Jokowi, Amien Rais:" Umat Mencatat Sosok yang Pindah Posisi."

Tentu pengayaan seperti itu bisa dipandang sebagai berkah dari perkembangan penulisan judul yang berpola konvensional menuju pola atau gaya penulisan cerita detektif. Redaktur dituntut untuk menyusun kalimat judul yang tak cuma berbentuk kalimat tunggal. Dengan demikian, ada tuntutan kreativitas dalam berkalimat.

Di balik perubahan pola penulisan itu, ada hukum besi yang tak tergantikan sampai saat ini terkait dengan format bahasa pemberitaan. Artinya, jurnalis konvensional dan yang mutakhir nonkonvensional sama-sama memanjakan pembaca dengan menulis atau menyajikan berita dalam prinsip penulisan kalimat jurnalistik yang hemat, jelas, lugas dan logis.

Bahasa pers mestilah (relatif) pendek, menghindari kalimat yang ambigu, tak gramatikal, ruwet alias "njlimet" dan mematuhi logika. Untuk prinsip hemat dan jelas, lugas, pewarta dan penyunting bisa menguasainya dengan cepat.

Namun, untuk mempertahankan kemampuan menulis dengan bahasa yang logis, pewarta dan penyunting perlu terus menjaga kapastitas rasio berpikir.

Tak jarang kalimat yang tak logis nongol bahkan di media-media besar arus utma yang ditangani jurnalis dan redaktur berpengalaman. Berikutini adalah salah satu contoh kalimat yang tak logis, yang termuat di salah satu media besar yang terbit di Jakarta beberapa waktu lalu: " Suara merdu seorang penyanyi perempuan itu diiringi tiga orang lelaki yang menabuh gendang."

Proposisi kalimat itu jelas tak logis. Kenapa? Apa mungkin tiga orang pria mengiringi suara? Yang logis: suara penyanyi diiringi suara gendang yang ditabuh tiga orang pria.

Kekhilafan dalam menulis kalimat yang tak bernalar memang jarang ditemui. Namun, ketika hal itu terjadi, pembetulannya membutuhkan kepekaan dan kejelian redaktur dalam memaknai kalimat, sebelum mereka melakukan pembetulan alias koreksi yang niscaya.

Baca juga: Debat paradigmatik berbahasa pers
Baca juga: Bahasa Indonesia jurnalistik tidak sekadar komunikatif
Baca juga: Sintaksis jurnalistik
Baca juga: Ragam lisan bahasa pers
Baca juga: Bahasa Media Semakin Memprihatinkan


 

Pewarta : Mulyo Sunyoto
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar