Humaniora kemarin, kenaikan iuran BPJS hingga waspada virus nCov

id Humaniora kemarin,Virus nCov,Vaksin antraks

Ternak Sapi Gorontalo Disuntik Vaksin Antrax Petugas Dinas Perikanan Kelautan dan Peternakan menyuntikkan vaksin pada sapi ternak di Desa Ulapato A, Kabupaten Gorontalo, akhir pekan lalu. Penyuntikan vaksin pada sapi di daerah tersebut agar sapi memiliki kekebalan tubuh terhadap virus antrax sebagai langkah penanggulangan penyebaran. (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)

Jakarta (ANTARA) - Terdapat beragam berita humaniora kemarin, Senin (20/1) yang masih menarik untuk disimak para pembaca, diantaranya kenaikan iuran BPJS Kesehatan, waspada virus nCov di Korea dan Jepang hingga pesawat "ultra light" buatan anak Indonesia.
 

Berikut sejumlah berita humaniora yang masih menarik untuk dibaca pagi ini.
 

DPR minta pemerintah cari solusi kenaikan iuran BPJS Kesehatan
 

Komisi IX DPR meminta pemerintah untuk mencari solusi atas kenaikan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang memberatkan sebagian masyarakat, terutama peserta kelas III kategori pekerja bukan penerima upah dan bukan pekerja.
 

Dalam kesimpulan rapat kerja Komisi IX DPR bersama Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dan Direktur BPJS Kesehatan Fachmi Idris, di Jakarta, Senin, Komisi IX DPR menyatakan kesimpulan rapat kerja pada 12 Desember 2019 tentang penggunaan kelebihan dana kenaikan iuran peserta BPJS Kesehatan yang akan digunakan untuk menutup selisih kenaikan peserta kelas III kategori pekerja bukan penerima upah dan bukan pekerja tidak dapat dilaksanakan.
 

Oleh karena itu, Komisi IX DPR meminta Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto bersama BPJS Kesehatan, Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), dan Dewan Pengawas BPJS Kesehatan berkoordinasi dan berkonsolidasi mencari solusi atas kenaikan iuran BPJS Kesehatan, terutama untuk peserta kelas III kategori pekerja bukan penerima upah dan bukan pekerja.
 

Baca beritanya: di sini
 

Kemenkes imbau pelancong ke Korea dan Jepang waspada nCov

Kementerian Kesehatan mengimbau para pelancong yang ingin mengunjungi Korea dan juga Jepang untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap virus novel coronavirus atau nCov mengingat kasus penyakit tersebut dilaporkan di kedua negara itu.
 

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono di Jakarta, Senin, mengatakan saat ini pemerintah Indonesia secara resmi telah mengeluarkan imbauan perjalanan WNI jika berkunjung ke China, khususnya di Wuhan Provinsi Hubei karena terdapat KLB nCov.
 

Simak beritanya: di sini
 

Hewan ternak harus divaksin antraks supaya tidak menular pada manusia
 

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan hewan ternak harus divaksinasi dengan vaksin antraks supaya penyakit itu sehingga tidak menularkannya pada manusia yang bisa menyebabkan kejadian luar biasa (KLB) antraks.
 

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan di Jakarta, Senin, agar kejadian penyakit antraks pada manusia tidak terulang lagi di kemudian hari maka seluruh hewan ternak harus divaksinasi penyakit antraks sehingga tidak terjangkit penyakit tersebut.
 

Berdasarkan data Kemenkes, kejadian kasus antraks yang terjadi beberapa waktu lalu yaitu Desember 2019 di Kabupaten Gunung Kidul DIY juga pernah terjadi di daerah yang sama pada Juni 2019.
 

Baca beritanya: di sini
 

KSP: Pembuat pesawat asal Pinrang inspirator luar biasa
 

Pembuat pesawat "ultra light" asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Chaerul, yang viral di media sosial mendapat apresiasi dari Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko sebagai inspirator bagi pemuda.
 

"Semangatnya ini perlu anak-anak muda untuk melihat Mas Khairul ini sebagai inspirator yang luar biasa. Dia memiliki keberanian untuk melakukan sesuatu yang baru. Dia memiliki semangat yang sangat kuat untuk mewujudkan keinginannya," kata Moeldoko dalam jumpa pers di Bina Graha Jakarta, Senin.
 

Menurut Moeldoko, semangat inovatif dari Chaerul bisa menjadi pembelajaran para pemuda Indonesia.

Simak beritanya: di sini


Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar