Pembangunan Bendungan Rotiklot NTT agar diikuti jaringan irigasi

id bendungan rotiklot,menteri pupr

Bendungan Rotiklot di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. (Dokumentasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengutarakan harapannya agar pembangunan Bendungan Rotiklot di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diresmikan Presiden Joko Widodo, Senin, diikuti pembangunan jaringan irigasinya.

"Pembangunan bendungan diikuti oleh pembangunan jaringan irigasinya. Dengan demikian bendungan yang dibangun dengan biaya besar dapat bermanfaat karena airnya dipastikan mengalir sampai ke sawah-sawah milik petani," kata Basuki Hadimuljono dalam rilis yang diterima di Jakarta, Senin.

Apalagi, menurut Menteri Basuki, ketersediaan air menjadi penting bagi pembangunan di NTT yang memiliki curah hujan lebih rendah dibanding daerah lain.

Untuk itu, ujar dia, kunci kemajuan di NTT yaitu adanya ketersediaan air yang memadai baik untuk air minum maupun keperluan pertanian dan peternakan.

Berdasarkan data Kementerian PUPR, Bendungan Rotiklot merupakan salah satu dari 49 bendungan baru yang dibangun pada periode 2015-2019.

Bendungan dengan kapasitas hingga sebesar 3,3 juta meter kubik itu juga sudah dilakukan pengisian sejak bulan Desember 2018.

Manfaat bendungan tersebut adalah untuk memenuhi kebutuhan air baku masyarakat dan kegiatan Pelabuhan Atapupu sebesar 40 liter/detik, suplai irigasi seluas 149 hektar, dan pariwisata.

Bendungan Rotiklot juga berfungsi mengurangi risiko banjir yang kerap terjadi di Kabupaten Belu yang memiliki musim hujan singkat yakni sekitar 3 bulan namun intensitasnya tinggi.

Pembangunan bendungan Rotiklot yang berbatasan langsung dengan Timor Leste dikerjakan oleh PT. Nindya Karya (Persero) - PT. Universal Suryaprima (KSO) menggunakan dana dari APBN senilai Rp496 miliar.

Baca juga: Indah dari ketinggian, Bendungan Rotiklot bakal jadi wisata baru NTT
Baca juga: Bendungan Rotiklot mampu airi 139 hektare sawah

Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar