Bawaslu DKI terima laporan dugaan politik uang di Jaktim

id Bawaslu DKI,Pemilu,Politik Uang

Ketua Bawaslu DKI Jakarta, Muhammad Jufri, ketika ditemui di Kantor Bawaslu DKI Jakarta, Kamis (18/4/2019). (ANTARA/Prisca Triferna)

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta menyatakan telah menerima laporan dugaan politik uang menjelang pemungutan suara Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 pada Rabu (17/4/2019).

"Saya sudah mendapat informasi dari teman-teman Jakarta Timur, bahwa ada anggota KPPS (kelompok penyelenggara pemungutan suara) yang melakukan pembagian amplop berisi uang menjelang hari pemungutan suara," ujar Ketua Bawaslu DKI Jakarta Muhammad Jufri di Jakarta, Kamis.

Sebelumnya, muncul laporan yang menyebutkan dugaan terjadinya politik uang dalam bentuk pembagian amplop berisi uang di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Bawaslu DKI Jakarta sudah meminta Bawaslu Jakarta Timur untuk melakukan investigasi mendalam dan mengambil langkah penanganan jika kejadian tersebut sudah terbukti terjadi.

"Saya sudah minta kepada teman Jakarta Timur untuk melakukan investigasi dan penanganan, agar kasus itu ditangani serius kalau memang itu terjadi," katanya.

Menurut Jufri, konfirmasi dan penanganan kasus tersebut akan memakan waktu karena Bawaslu Jakarta Timur masih melakukan investigasi hingga saat ini.

"Temuan ini ditemukan oleh teman Jakarta Timur dari informasi yang mereka dapatkan. Temuan ini kemudian disampaikan pada kami. Ini sementara masih dalam penanganan di wilayah Jakarta Timur. Penanganan pelanggaran itu butuh waktu, jadi masih dalam proses," Jufri.

Pemilu dilaksanakan serentak pada Rabu (17/4/2019) di seluruh Indonesia dan untuk pertama kalinya, menggelar pemilihan presiden dan anggota legislatif secara bersamaan.

Pemilu serentak ini diikuti 190.770.329 warga negara Indonesia di dalam dan luar negeri.

Baca juga: Bawaslu Jateng usut 27 kasus dugaan politik uang
Baca juga: Bawaslu akan telusuri dugaan praktik politik uang di Yogyakarta

Pewarta : Prisca Triferna, Taufik Ridwan
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar