Pengamat: Pasangan capres-cawapres agar serius berantas stunting

id Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute Umi Lutfiah,Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute Umi Lutfiah stunting,Jokowi-Ma'ruf dan Pra

Arsip: Perajin menunjukkan mobil mainan yang dimodifikasi bergambar pasangan calon presiden di desa Singocandi, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (5/10/2018). (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/ama)

Jakarta (ANTARA News) - Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute Umi Lutfiah berharap dua pasangan capres-cawapres yang bertarung dalam Pilpres 2019 untuk serius dalam memberantas gangguan kesehatan kekerdilan atau stunting.
   
"Ada dua hal yang harus ditambahkan dari program kerja Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi terkait stunting," kata Umi di Jakarta, Senin.
   
Dia mengatakan dua pasangan capres-cawapres agar fokus menyasar remaja perempuan untuk memberantas stunting. Remaja perempuan sebagai pencetak generasi bebas stunting harus memiliki gizi yang baik terlebih dahulu.
   
Menurut dia, peningkatan peran perempuan dalam ekonomi keluarga dan pengasuhan anak juga sangat strategis. Perempuan yang memiliki posisi ekonomi yang baik dalam keluarga akan memiliki daya tawar yang lebih baik.
   
"Perempuan yang dilibatkan dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak diperkuat dengan daya tawar yang baik akan memiliki kekuasaan dalam pengambilan keputusan keluarga, salah satunya dalam penentuan belanja keluarga. Harapannya, belanja keluarga akan lebih mengutamakan gizi anak/ balita daripada konsumsi tidak penting, seperti rokok," katanya.
   
Tidak kalah penting, kata dia, dua paslon untuk memperkuat sinergi lintas kementerian/ lembaga dalam upaya penurunan prevalensi stunting. 
   
Dua paslon, lanjut dia, memang sudah mencanangkan program pemberantasan stunting. Tetapi agar program itu tidak hanya menjadi janji saja jika pasangan terkait terpilih sebagai RI-1 dan RI-2 tapi direalisasikan secara nyata.
   
"Besar harapan kita, masyarakat Indonesia bahwa program kerja yang sudah luar biasa bagus ini tidak hanya terpasang manis dalam dokumen janji kampanye saja. Lebih dari itu, semua masyarakat Indonesia menantikan eksekusi nyata dari program-program tersebut agar tercipta Indonesia bebas stunting dan berdaya saing," katanya.
   
Umi mengatakan persoalan stunting penting untuk disentuh paslon capres-cawapres mengingat biaya penanganan stunting balita akan jauh lebih mahal daripada upaya pencegahannya.
   
Stunting, kata dia, dapat mengakibatkan keterbelakangan kognitif dari penderita sehingga akan menyebabkan ketidakmampuan sumber daya manusia Indonesia untuk bersaing dengan negara lain. Hasil studi juga menyebutkan bahwa stunting dapat menurunkan 2-3 persen Produk Domestik Bruto Indonesia atau setara dengan Rp300 triliun per tahun. 
   
Umi juga memuji dua pasangan calon capres-cawapres yang mengusung program pemberantasan gangguan kesehatan kekerdilan pada anak. "Baik Jokowi-Ma’ruf maupun Prabowo-Sandi memiliki perhatian besar terhadap isu stunting," katanya.
   
Dia mengatakan hal itu nampak dari munculnya berbagai program kerja dua paslon yang mendukung penurunan prevalensi stunting. Dua pasangan kandidat juga menyadari kekerdilan merupakan persoalan yang harus diselesaikan bersama-sama.
   
Kendati begitu, beberapa poin pemberantasan stunting dua paslon masih belum tajam seperti disebut di atas terkait pelibatan remaja perempuan dan peningkatan sinergi antarlembaga.

Baca juga: Perlu intervensi gizi cegah gagal tumbuh menjadi kerdil

Baca juga: Orang tua berpengetahuan, kunci agar anak tidak kerdil

Baca juga: Dosen Riau hasilkan tepung untuk atasi "stunting"

Pewarta : Anom Prihantoro
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar