WHO: Stigmatisasi bisa mempersulit pengendalian COVID-19

id virus corona,COVID-19,wabah corona

Presiden Princess Cruises Jan Swartz membentuk hati dengan kedua tangannya ke arah kapal pesiar Diamond Princess saat penumpang turun dari kapal setelah menjalani karantina akibat penularan COVID-19 di dermaga di Yokohama, Jepang, Kamis (20/2/2020), dalam gambar yang didapatkan dari video di media sosial. (REUTERS/PRINCESS CRUISES)

Jakarta (ANTARA) - Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengemukakan bahwa stigmatisasi publik terhadap kelompok orang dari daerah yang terdampak epidemi COVID-19 berpotensi mempersulit pengendalian infeksi selama epidemi serta memperparah masalah kesehatan.

Laporan WHO mengenai penularan COVID-19 per 24 Februari 2020 yang disiarkan di laman resmi organisasi menyebutkan adanya peningkatan jumlah laporan mengenai stigmatisasi publik terhadap orang dari daerah yang terdampak COVID-19.

Stigma publik, menurut WHO, bisa menyebabkan orang ingin menyembunyikan penyakitnya untuk menghindari diskriminasi, membuat orang yang sakit tidak ingin mengunjungi fasilitas kesehatan, dan mencegah orang menerapkan pola hidup sehat.

Kondisi yang demikian, menurut badan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu, berpotensi memperparah masalah kesehatan dan penularan virus serta mempersulit pengendalian penyakit infeksi selama epidemi.

Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies/IFRC) bersama UNICEF dan WHO sedang menyiapkan panduan berbasis komunitas dan kampanye global untuk mencegah stigmatisasi terkait COVID-19.

Badan Kesehatan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa pemerintah, media, dan komunitas berperan penting dalam mencegah dan menghentikan stigmatisasi terkait COVID-19.

Menurut WHO, penyebaran fakta-fakta mengenai penularan serta penanganan dan pencegahan penyakit akibat infeksi virus corona baru sangat penting dalam upaya mencegah stigmatisasi.

Orang-orang yang berpengaruh dalam masyarakat seperti pemimpin agama atau selebritas bisa digandeng dalam kampanye untuk mendukung kelompok yang menghadapi stigmatisasi.

Selain itu, WHO menilai pentingnya menyampaikan cerita mengenai orang yang terserang COVID-19 dan pulih, atau mereka yang mendampingi orang yang terinfeksi.

Badan PBB juga menekankan pentingnya menggambarkan kelompok-kelompok etnis berbeda yang terdampak COVID-19 dan bagaimana komunitas bekerja sama mencegah penyebaran penyakit tersebut.

"Laporan media harus berimbang dan kontekstual, menyampaikan informasi berbasis bukti, dan membantu memerangi rumor atau kesalahan informasi yang bisa memicu stigmatisasi," kata WHO.

Berdasarkan laporan WHO per tanggal 24 Februari 2020, kasus positif COVID-19 secara global bertambah 715 kasus menjadi total 79.331 kasus. Sebanyak 77.262 kasus dilaporkan di China, tempat COVID-19 menyebabkan 2.595 orang meninggal dunia.

Di Indonesia hingga kini belum ada laporan kasus COVIF-19 yang terkonfirmasi. 

Baca juga:
PM Abe minta warga Jepang kerja dari rumah cegah penularan COVID-19
Semua pasien terjangkit corona di Vietnam berhasil disembuhkan

Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar