Menkes ingin pemerintah-swasta kolaborasi riset obat asli Indonesia

id OMAI,bahan baku farmasi,obat asli indonesia

Menkes Terawan Agus Putranto ketika menemui awak media usai kunjungan ke fasilitas penelitian Dexa di Cikarang, Jawa Barat pada Jumat (22/2/2020) (ANTARA/Prisca Triferna)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto memberikan arahan agar pusat riset obat tradisional Kementerian Kesehatan melakukan kolaborasi dengan pihak-pihak yang ingin mengembangkan obat berbahan baku asli Indonesia.

"Obat modern asli Indonesia (OMAI), tadi saya perintahkan Tawangmangu itu pusat riset obat tradisional Kementerian Kesehatan paling besar. Saya suruh saling tukar dan kolaborasi riset. Saya kasih SPJ kalau datang ke sini supaya mereka mau mendukung pabrik yang ingin (memproduksi) OMAI," kata Menkes Terawan ketika berkunjung ke fasilitas penelitian Dexa di Cikarang, Jawa Barat pada Jumat.

Menkes Terawan merujuk kepada Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenkes yang berada di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah.

Hal itu perlu dilakukan agar pengembangan obat alami yang berbahan baku asli Indonesia dapat berkembang di tengah ancaman krisis bahan baku yang dapat terjadi karena terhentinya produksi bahan baku farmasi di China akibat merebaknya COVID-19, menurut mantan kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto itu.

Baca juga: Menkes dorong perluasan penggunaan obat berbahan baku asli Indonesia

Indonesia menggantungkan kebutuhannya akan bahan baku farmasi dari negara-negara lain seperti China, dengan sekitar 90 persen bahan baku berasal dari impor. Dari angka tersebut, Indonesia memenuhi kebutuhannya dengan 60 persen impor dari China.

Berdasarkan fakta tersebut, Menkes melihat potensi akan obat-obatan dengan bahan baku asli Indonesia. Tidak hanya akan membuat kebutuhan bahan baku farmasi terjamin dan membuat Indonesia lepas dari impor tapi juga pengembangan OMAI akan membantu menekan harga obat dan membuatnya lebih terjangkau.

"Karena bagaimanapun meski hambatan perdagangan itu dikatakan bisa tetap dibuka tetapi mereka (China) tidak produksi jadi membuat perdagangan menurun. Ini kesempatan dari dalam negeri untuk memperkuat diri dan kesempatan luar biasa bagi bahan baku asli dalam negeri," kata Menkes Terawan.

Baca juga: EMA percepat pengembangan vaksin dan obat lawan virus corona
 

Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar