Logo Header Antaranews Sumbar

Pengamat: Pemimpin Indonesia Ideal Perpaduan Sipil-Militer

Kamis, 20 Maret 2014 06:31 WIB
Image Print

Pandeglang, (Antara) - Pengamat dari Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Banten Raya Hendriyana, M.Si menyatakan, Presiden dan Wakil Presiden Indonesia idealnya perpaduan sipil-militer atau sebaliknya. "Bisa saja presidennya berlatar belakang militer wakilnya sipil, atau presidennya sipil dan wakilnya berlatar belakang militer," katanya di Pandeglang, Rabu. Menurut dia, dengan kondisi negara yang sarat dengan berbagai permasalahan, masih dibutuhkan sosok berlatar belakang militer yang memiliki jiwa berani dan sikap tegas. Ia menyatakan, saat ini sudah bermunculan beberapa figur calon presiden, baik yang berlatar belakang militer maupun sipil, jadi sebenarnya pilihan-pihannya itu sudah ada. "Dari militer yang saat ini sudah muncul Wiranto dan Prabowo Subianto dan sipil Joko Widodo dan Aburizal Bakri. Kita juga masih menunggu pemenang konvensi calon presiden dari Partai Demokrat," katanya. Mengenai kans dari masing-masing capres yang telah muncul, menurut dia, semua memiliki peluang, tentunya tergantung kemampuannya meyakinkan masyarakat. "Kalau bicara peluang saya kira semunya punya, dan jika siapa yang paling mampu, semuanya juga yakin mampu karena mereka putera terbaik bangsa ini," katanya. Namun yang pasti, kata dia, siapa pun yang nanti terpilih menjadi presiden, tidak akan berhasil menyelesaikan berbagai masalah bangsa jika hanya sendirian dan tak mau merangkul berbagai pihak. "Masalah bangsa kita ini cukup pelik dan banyak, karena itu tidak akan bisa diselesaikan hanya oleh satu-dua orang, harus melibatkan semua unsur yang memang memiliki keinginan untuk memajukan negara," ujarnya. Mengenai formulasi usia dan kedaerahan dalam pasangan capres/cawapres, menurut dia, kedua hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan. "Kalau saya tidak mempermasalahkan batasan umur atau daerah, tua atau muda dan dari Jawa ataupun non-Jawa tidak masalah. Patokannya semua warga negara berhak mencalonkan atau dicalonkan sebagai calon presiden atau wakil presiden," ujarnya.(*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026