
Ketum DDII: pemimpin datang dan pergi, dakwah tak boleh berhenti

Padang (ANTARA) - Dakwah ibarat perahu yang terus didayung siapa pun nakhodanya, ia tidak boleh berhenti. Pesan itu disampaikan Ketua Umum Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII),H. Fathurrahman Mahfudz, dalam Rapat Kerja DDII Provinsi Sumatera Barat di Ruang Pertemuan Yarsi Sumbar, Padang, Minggu (4/10/2026).
"Jangan pernah kita berhenti tangan mendayung. Pemimpin bisa datang dan pergi, yang tidak berhenti adalah dakwah ilallah," ujarnya di hadapan sekitar 35 peserta, secara luring dan daring.
Pembukaan raker turut dihadiri pengurus DDII Pusat, yakni Wakil Ketua Umum Teten Romli, Wakil Ketua Umum Ahmad Misbahul Anam, dan Sekretaris Umum Dwi Budiman.
Dari DDII Sumbar hadir Ketua Majelis Pertimbangan Badrul Mustafa Kemal, Ketua Majelis Pakar Zainul Daulay, Ketua DDII Sumbar Prof. Efrinaldi bersama jajaran pengurus dan Pengurus Muslimat DDII Sumbar.
Fathurrahman menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya raker. Menurutnya, ini merupakan rapat perdana bersama DDII tingkat provinsi sejak ia menjabat Ketua Umum DDII Pusat.
Ia mengajak pengurus bercermin pada tiga pertanyaan: apa yang terlewat, apa yang baru, dan apa yang membedakan DDII dari yang lain. Menurutnya, jawaban atas tiga hal itu penting di tengah perjalanan dakwah yang sudah panjang.
Ia menilai digitalisasi bergerak sangat cepat dan menjadi tantangan serius bagi dunia dakwah. DDII, katanya, membutuhkan satu strategi program yang menjawab tantangan zaman agar seluruh kegiatan tetap menjangkau umat. Raker ini menjadi titik awal untuk itu.
Di sisi kelembagaan, DDII Pusat akan membenahi manajemen organisasi. Saat ini DDII sudah memiliki Laznas dan diteguhkan dengan badan wakaf, sementara unit usaha Dewan Da'wah akan dimaksimalkan.
Arah ini penting agar dakwah memiliki dukungan yang berkelanjutan. Aset wakaf dan unit usaha yang dikelola produktif dapat kembali membiayai dakwah, pendidikan, dan layanan sosial, sehingga dakwah tidak hanya bergantung pada bantuan sesaat.
Ketua DDII Sumbar Prof Efrinaldi mengajak seluruh pengurus menggerakkan organisasi dan memastikan program kerja terlaksana serta berdampak.
"Roda ini mesti berputar, mesti berdinamika," katanya.
Ia memandang dakwah sebagai amanah yang dijalankan lewat lisan, tulisan, dan aksi nyata, dengan keteladanan sebagai pijakan.
"Dakwah itu merangkul, bukan memukul," ujarnya.
Dakwah bil hal atau aksi nyata menjadi penekanan, sejalan dengan pesan tokoh pendiri DDII, Mohammad Natsir.
Prof. Efrinaldi juga menyoroti kondisi umat. "Umat ini mesti cerdas, dan banyak yang belum sehat," katanya.
Wujud nyatanya adalah penyuluhan kesehatan dan khitanan massal di Kabupaten Dharmasraya yang digelar bersama Yarsi Sumbar.
Semangat kolaborasi turut digaungkan dari pusat. Fathurrahman menyebut DDII diundang ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) akhir bulan lalu dalam sebuah pertemuan yang dihadiri sejumlah tokoh, termasuk Perdana Menteri Malaysia.
Menurutnya, DDII, ABIM, dan organisasi lain yang hadir sama-sama lahir dari inspirasi Mohammad Natsir. Ia menambahkan, hubungan Malaysia dengan Sumatera Barat sangat baik, sehingga terbuka peluang kerja sama dakwah yang lebih luas.
Konsolidasi yang digaungkan kedua pimpinan juga menyasar DDII kabupaten/kota sebagai ujung tombak dakwah yang paling dekat dengan masjid dan persoalan warga. Penguatan itu mencakup kepengurusan yang aktif, program yang jelas, serta kapasitas da'i dan kader.
Perhatian khusus diarahkan ke Kepulauan Mentawai. Pembinaan berkelanjutan, mulai dari ketersediaan da'i, pendidikan, hingga pendampingan sosial dan ekonomi, menjadi kebutuhan utama. Dakwah di sana perlu dijalankan secara santun, menghormati kearifan lokal, dan menjaga kerukunan antarumat beragama.
Melalui raker ini, DDII berharap gerak dakwah semakin serentak dan terukur, dari pusat kota sampai pulau terluar, demi kemaslahatan umat.
Pewarta: Relis
Editor: Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
