
Sawahlunto perkuat jangkauan mitigasi longsor dengan melibatkan Forum Lurah

Sawahlunto (ANTARA) - Pemerintah Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, memperkuat jangkauan mitigasi risiko tanah longsor melalui koordinasi dan peningkatan kapasitas penanggulangan bencana sampai ke tingkat Pemerintah Kelurahan dengan melibatkan Forum Lurah di kota itu.
Ketua Forum Lurah Kota Sawahlunto yang juga Lurah Pasar, Fauzan Delesa, di Sawahlunto, Kamis, mengatakan kelurahan memiliki risiko bencana dengan karakter kerawanan yang berbeda sehingga diperlukan kerja sama dalam menjalankan mitigasi dan pemetaan kondisi wilayah.
“Semua lurah punya risiko yang sama, jadi pas untuk saling bekerja sama dalam menjalankan mitigasi dan pemetaan. Tantangannya ada pada anggaran maupun sejumlah kendala lapangan lain, namun kalau koordinasi berjalan dengan baik maka bisa dimusyawarahkan dan pasti ada solusi,” katanya.
Menurut dia, koordinasi antarkelurahan diperlukan untuk membahas kondisi kerawanan, kebutuhan mitigasi, serta kendala yang ditemukan di lapangan. Penguatan tersebut juga membutuhkan dukungan sumber daya manusia, logistik, dan anggaran operasional.
Sementara Kepala Pelaksana BPBD Kota Sawahlunto Hilmed mengatakan salah satu target bidang pencegahan dan kesiapsiagaan adalah membentuk Kelurahan Tangguh Bencana (Katana) sekaligus Kelompok Siaga Bencana (KSB) di seluruh kelurahan di Kota Sawahlunto.
Target tersebut menjadi bagian dari penguatan mitigasi berbasis informasi kerawanan.
Sebelumnya hasil survei dan pemetaan BPBD yang disampaikan pada September 2026 menunjukkan sejumlah kondisi yang perlu mendapat perhatian dalam menghadapi potensi banjir dan tanah longsor, antara lain terganggunya resapan air akibat penebangan pohon penahan tanah di lereng, riol jalan yang tidak tersedia atau tidak berfungsi, daya tampung riol yang tidak maksimal, serta rumah warga yang belum memiliki talang air.
Sejumlah kelurahan di Sawahlunto memiliki potensi rawan tanah longsor, antara lain Aur Mulyo, Kubang Sirakuk Selatan, Kubang Sirakuk Utara, Pasar, Air Dingin, Saringan, Lubang Panjang, Durian I, dan Durian II. Kondisi wilayah yang berbukit dan lembah menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam mitigasi.
Hilmed mengatakan Kelurahan Tangguh Bencana merupakan wilayah yang memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman, mengurangi kerentanan, meningkatkan kapasitas, beradaptasi, serta cepat pulih dari dampak bencana. Pembentukan KSB menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas tersebut di tingkat kelurahan.
Penguatan KSB membutuhkan dukungan sumber daya manusia, logistik, dan anggaran operasional. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat koordinasi, pemanfaatan informasi kerawanan, serta pelaksanaan mitigasi sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Pewarta: Yudha Ahada
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026
