Logo Header Antaranews Sumbar

Menapak jejak Siti Nurbaya di Kota Padang

Kamis, 1 Oktober 2026 15:05 WIB
Image Print
Wisatawan berpose di Kota Tua Padang. (ANTARA/HO-Dokumentasi Cagak Sastra.)

Padang (ANTARA) - Siti Nurbaya telah menjadi ikon bagi Kota Padang, Sumatra Barat. Ada jembatan Siti Nurbaya, Festival Siti Nurbaya dan tentu juga ada Gunung Padang yang dianggap sebagai lokasi kuburan Siti Nurbaya. Saya telah mengenal Siti Nurbaya karya Marah Rusli sejak hampir empat puluh tahun lalu. Tak lama setelah menamatkan novelnya, saya mengunjungi wilayah Muara Batang Arau dan Gunung Padang agar bisa merasakan aura dari latar novel itu. Saat itu belum ada jembatan melintasi Batang Arau sehingga saya bisa merasakan naik perahu menyeberangi sungai seperti dikisahkan dalam novel.

Pada Minggu, 27 September 2026, saya punya kesempatan menyusuri kembali jejak tokoh itu bersama peserta acara ‘Telusur Sastra’ yang digagas Yayasan Cagak Inti Kreativa. Jam menunjukkan pukul 7.30 WIB ketika saya sampai di Masji Al Hakim di pantai Padang, lokasi tempat kami berkumpul. Setelah menikmati sarapan, pada jam 8.30 kami bergerak menuju wilayah Ambacang dengan naik Odong-Odong. Di sana rombongan berhenti sejenak untuk menyaksikan bangunan sekolah dan gereja dari zaman Belanda yang terpelihara baik. Kata Deddy Arsya, penyair dan sejarawan yang menjadi pemandu, di daerah itulah dulu lokasi sekolah dasar Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri.

Selanjutnya kami menuju wilayah Alang Laweh, tempat tinggal kaum bangsawan Padang masa lalu. Di pinggir jalan utama berjejer rumah batu beratap tinggi dengan jendela besar dan halaman luas. Di halaman terlihat sampah berserakan dan jendela masih tertutup. Odong-odong membawa rombongan ke arah Ranah, Pasar Gadang, dan wilayah kota tua di Muara. Jalan sepanjang pantai itu dipenuhi bangunan tua; gudang, kantor bank dan perusahaan serta hotel. Untungnya bangunan di tempat ini sebagian besar terawat dengan baik dan dialihfungsikan menjadi kafe, wahana bermain serta museum.

Selepas gerbang masuk, kami menapak jalan tembok yang rapi di samping rumah nelayan yang sedang istirahat. Sebentar kemudian kami sampai di sebuah benteng dengan meriam tua yang besar. Benteng itu dibangun Belanda untuk mengawasi kapal yang keluar-masuk pantai Padang. Dari belukar dan pepohonan di balik benteng muncul beberapa monyet ekor panjang yang merupakan hewan endemik di sini. Monyet yang ramah dan sama sekali tak mengganggu.

Setelah melewati anak tangga yang tinggi, akhirnya kami sampai di sebuah celah sempit di antara dua batu besar. Kami berjalan pelan sambil menunduk dan berhenti di tembok petak tanpa mejan. Itulah kuburan Siti Nurbaya, yang terletak di tebing dengan pemandangan langsung ke laut luas.

Naik beberapa tangga lagi, kami di sebuah taman. Di sini panoramanya jauh lebih cantik. Kita bisa memandang ke segala arah dengan bebas karena letaknya yang tinggi. Pantai Muara dengan kapal dan bangunan tua di arah selatan, pantai Air manis dengan pasir putih dan Pelabuhan Teluk Bayur di arah utara. Di tengah laut terlihat beberapa pulau kecil. Tapi kita tidak menemukan lagi kuburan cina yang besar dan penuh riasan karena kuburan itu telah dipindah ke arah Bungus. Inilah taman bermain Siti Nurbaya bersama teman-temannya yang diceritakan di awal novel.

Saat istirahat di puncak Gunung Padang itulah saya teringat sebuah gagasan menarik yang ditulis Navis dalam buku Geo-Sastra dan Seni Minangkabau. Buku tipis itu sengaja ditulis untuk acara wisata dalam rangkaian Pertemuan Sastrawan Nusantara IX tahun 1997 yang bertempat di INS Kayutanam. Dalam buku itu Navis menunjukkan tiga rute yang bisa ditempuh untuk mengeliling Sumatra Barat. Rute pertama menuju Pariaman, Lubuk Basung, Maninjau, Bukittinggi, Padang Panjang dan kembali ke Kayu Tanam. Rute kedua menuju Padang, Solok, Batusangkar, Padang Panjang dan kembali ke Kayu Tanam. Rute ketiga menuju Padang Panjang, Singkarak, Solok, Padang dan kembali Kayu Tanam.

Menarik sekali, setiap nagari yang dilalui dan dijelaskan hal-hal petning tentang wilayah itu. Ada beberapa kategori data yang disampaikan. Pertama, tokoh; penulis, sastrawan, seniman, intelektual hingga ulama yang berasal dari nagari tersebut. Misalnya ketika melewati Maninjau, dijelaskan bahwa dari wilayah itulah berasal ulama Haji Rasul, Hamka, M. Natsir, hingga sastrawan Nur St. Iskandar, Leon Agusta.

Hal kedua yang dijelaskan adalah karya sastra. Misalnya, ketika melewati Padang Panjang dijelaskan bahwa tempat pacuan kuda Bancah Laweh menjadi latar dari novel Tenggelamnya Kapal van Der Wijk, sedangkan perguruan Sumatra Thawalib dan wilayah sekitar Pasar Usang menjadi latar dari novel Di Bawah Lindungan Ka’bah.

Hal ketiga yang dijelaskan adalah peristiwa penting yang terjadi di daerah tertentu. Ketika melewati wilayah Kamang di kabupaten Agam, dijelaskan tentang pemberontakan pajak. Begitu sampai di Silungkang diceritakan tentang pemberontakan Siliungkang. Demikian seterusnya pada daerah lain.

Meskipun buku di atas penting dan menarik, sayangnya tidak banyak biro travel dan pemandu yang memanfaatkan peluang yang disajikannya. Peluang ini bisa dilihat dari dua sisi. Dari sisi pariwisata, hal ini bisa menjadi peluang untuk wisata dengan minat khusus. Dengan cara ini, berwisata bukan sekadar menikmati panorama alam dan kuliner, tapi sekaligus memperluas wawasan pengetahuan. Bagi pencinta sastra, seni dan intelektual, wisata seperti ini akan menjadi alternastif baru untuk menikmati karya seni. Menikmati karya seni tidak saja dengan membaca, menonton atau mendengar, tapi juga mendatangi lokasi di mana karya itu dilahirkan. Dengan cara ini karya seni terasa lebih dekat dan enak untuk dipahami.

Tantangan utama dari peluang ini adalah wawasan pengetahuan. Pengelolaan wisata minat khusus seperti ini membutuhkan wawasan dalam bidang sastra, seni, agama dan intelektual. Tanpa wawasan itu tak ada kisah yang bisa dibagikan, juga tak bisa dirancang jalur yang akan dilewati. Solusi sementara sudah tersedia di buku yang disebut di atas. Untuk jangka panjang, mau tak mau tentu harus dengan membaca karya para pengarang dari daerah ini.

Bagi alumni dan peminat sastra, sesungguhnya ini peluang usaha yang menarik. Untuk usaha wisata kini tidak perlu modal besar karena bis wisata bisa disewa, penginapan dan tempat makan bisa dikerjasamakan. Bekal pengetahuan sastra dan kesenian dapat dimanfaatkan untuk memulai wisata dengan minat khusus dengan membuat open-trip dengan peserta terbatas. Dimulai dengan 4-5 orang wisatawan seminggu, kegiatan ini punya prospek bagus di mana depan.

Hingga hari ini, karya para sastrawan, seniman, intelektual dan ulama Minangkabau masih amat populer. Karya mereka banyak diterbitkan ulang dan dibaca peminat lintas generasi. Rasa ingin tahu pembaca tentang wilayah asal para penulis itu masih amat tinggi. Lagi pula, penulis dan sastrawan baru terus bermunculan. Tentu saja program wisata untuk penikmat seni, pembaca sastra, dan karya intelektual akan tetap punya peluang.

*Penulis adalah dosen sastra modern di FIB, Universitas Andalas.



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026