Logo Header Antaranews Sumbar

Dari Potensi ke Nilai Ekonomi: Transformasi Wisata dan UMKM Bukik Apik Puhun

Jumat, 25 September 2026 21:38 WIB
Image Print
Tim Pengabdian Masyarakat Unand  melakukan pendampingan pengembangan wisata di Tapian Tabiang Barasok di Kelurahan Bukik Apik Puhun, Kecamatan Guguak Panjang, Kota Bukittinggi (Antara/HO-Unand)

Padang (ANTARA) - Pengembangan Tapian Tabiang Barasok di Kelurahan Bukik Apik Puhun, Kecamatan Guguak Panjang, Kota Bukittinggi, tidak hanya diarahkan untuk menarik wisatawan. Destinasi wisata alam berbasis masyarakat itu juga dikembangkan bersama usaha lokal agar aktivitas pariwisata dapat membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Upaya tersebut menjadi bagian dari Program Nagari Binaan Universitas Andalas yang dimulai pada 2026 dan dirancang berlangsung sekitar tiga tahun. Program ini mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pelaku UMKM, pemuda-pemudi, dan niniak mamak untuk mengembangkan potensi lokal melalui digitalisasi, penguatan tata kelola, pariwisata berkelanjutan, dan peningkatan daya saing usaha.

Dua potensi utama yang menjadi perhatian adalah Tapian Tabiang Barasok dan UMKM Kopi Bukik Apik. Keduanya dikembangkan sebagai bagian dari satu ekosistem. Destinasi wisata menghadirkan pengalaman alam dan budaya, sementara kopi lokal menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus membuka peluang pendapatan bagi masyarakat.

Tim pengabdian Universitas Andalas terdiri atas Prof. Vera Pujani, Dr. Rida Rahim, Prof. Ratni Primalita, Dr. Andasuryani, serta mahasiswa jenjang S1, S2, dan S3. Dari pihak mitra, kegiatan melibatkan Ketua Pokdarwis Tapian Tabiang Barasok, Antoni, dan Ketua UMKM Kopi Bukik Apik, Ganda Jesmiga. Program juga memperoleh dukungan dari Kelurahan Bukik Apik Puhun, pemuda-pemudi Bukik Apik, serta niniak mamak yang mempunyai peran penting dalam menjaga nilai, identitas, dan keberlanjutan kegiatan di tengah masyarakat.

Pada tahun pertama, rangkaian pelatihan dan pendampingan difokuskan pada penguatan fondasi pengelolaan destinasi. Persoalan yang hendak dijawab bukan hanya bagaimana memperkenalkan objek wisata, tetapi juga bagaimana memastikan destinasi memiliki tata kelola, pelayanan, promosi, dan administrasi yang dapat berjalan secara berkelanjutan. Dalam banyak destinasi wisata berbasis masyarakat, daya tarik alam dan budaya belum selalu diikuti pembagian tugas yang jelas, standar pelayanan, kalender kegiatan, promosi digital yang terarah, serta pencatatan keuangan yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.

Karena itu, pendampingan tidak berhenti pada penyampaian materi, melainkan pengelola bersama tim menyusun dan mempraktikkan perangkat kerja yang dapat digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Hasilnya, Pokdarwis kini memiliki arah pengembangan yang lebih jelas melalui rumusan visi, misi, tujuan, struktur organisasi, pembagian tugas, dan agenda tahunan. Fungsi dalam organisasi juga diperjelas, mulai dari kepemimpinan, administrasi, keuangan, pengembangan usaha, daya tarik wisata, dokumentasi dan publikasi, keamanan, hingga kebersihan destinasi. Luaran tahun pertama menghasilkan pengurus telah mempunyai panduan kerja, rancangan promosi, format administrasi dan laporan keuangan digital, serta agenda kegiatan yang dapat langsung dijalankan.

UMKM memperoleh arah standardisasi produk, penguatan merek, pengembangan kemasan, dan perluasan pemasaran. Capaian tersebut penting karena membuat kedua mitra memiliki alat kerja yang sama untuk merencanakan, melaksanakan, mencatat, dan mengevaluasi kegiatan. Salah satu capaian penting adalah tersusunnya arah bersama untuk menjadikan Tapian Tabiang Barasok sebagai destinasi wisata alam berbasis masyarakat yang berkelanjutan, berkualitas, dan mampu memberikan pengalaman autentik kepada pengunjung. Arah tersebut diterjemahkan ke dalam program yang lebih operasional, sehingga kegiatan tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari rencana pengembangan destinasi.


Keindahan alam bukan satu-satunya faktor yang menentukan pengalaman wisatawan. Cara pengunjung diterima dan dilayani masyarakat juga menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. Karena itu, pengurus mendapatkan pelatihan hospitality agar mampu menyambut dan melayani pengunjung secara ramah, bersih, aman, dan nyaman. Pendampingan juga menghasilkan panduan pelayanan dan prosedur kerja yang dapat digunakan oleh pengelola. Dengan pendekatan tersebut, kualitas destinasi tidak hanya dilihat dari daya tarik alam, tetapi juga dari kualitas interaksi antara pengunjung dan masyarakat setempat. Penguatan berikutnya dilakukan melalui pemasaran digital.

Pokdarwis didampingi dalam merancang konten, mengelola media sosial, menyusun kalender publikasi, serta menghubungkan promosi dengan agenda wisata. TikTok, Instagram, dan Facebook diarahkan menjadi etalase digital yang memperkenalkan alam, budaya, kuliner, dan aktivitas masyarakat Bukik Apik Puhun. Promosi juga diperluas melalui jejaring dengan sekolah, agen perjalanan, pelaku promosi, dan figur lokal. Promosi juga diperkuat melalui jejaring dengan sekolah, agen perjalanan, pelaku promosi, dan figur lokal. Namun, digitalisasi tidak ditempatkan hanya sebagai upaya mengejar jumlah tayangan. Pendampingan juga menghubungkan aktivitas digital dengan pengelolaan usaha.

Melalui Business Model Canvas, pengurus memetakan calon pengunjung, nilai yang ditawarkan, mitra, sumber pendapatan, aktivitas utama, dan biaya yang perlu dikelola. Pokdarwis juga menyusun prosedur administrasi, rancangan bisnis, serta sistem pencatatan yang lebih teratur. Dengan demikian, perhatian yang diperoleh melalui media digital diharapkan dapat diterjemahkan menjadi kunjungan, transaksi, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Selanjutnya, administrasi keuangan menjadi bagian penting dari pelatihan. Peserta mempelajari cara memisahkan uang organisasi atau usaha dari uang pribadi, mencatat pemasukan dan pengeluaran, mengelola kas, utang, aset, dan modal, serta menyusun laporan laba rugi, arus kas, dan neraca sederhana secara digital. Pencatatan ini memberi dasar yang lebih kuat bagi pengurus untuk mengevaluasi kegiatan, merencanakan anggaran, dan mempertanggungjawabkan dana secara terbuka.

UMKM Kopi Bukik Apik mendapatkan penguatan yang terhubung langsung dengan pengembangan destinasi. Pendampingan mencakup standardisasi proses produksi, penyempurnaan identitas merek, desain kemasan, peningkatan kapasitas produksi, pemasaran digital, serta pencatatan keuangan usaha. Produk kopi lokal ditempatkan sebagai bagian dari pengalaman wisata, bukan sekadar barang dagangan. Kopi dapat hadir dalam agenda Marandang Kopi, paket wisata, demonstrasi proses, hidangan bagi pengunjung, dan produk oleh-oleh. Hubungan antara Pokdarwis dan UMKM menciptakan manfaat timbal balik.

Pokdarwis memperoleh produk lokal yang memperkuat identitas destinasi, sedangkan UMKM memperoleh ruang promosi dan pasar yang lebih luas. Promosi destinasi dapat mengarahkan wisatawan ke kanal pembelian resmi Kopi Bukik Apik, sementara cerita tentang kopi memperkaya narasi Tapian Tabiang Barasok sebagai tempat yang menawarkan alam, budaya, rasa, dan kebersamaan. Pengembangan destinasi juga didukung dengan penyusunan agenda tahunan. Agenda tersebut mencakup perayaan 17 Agustus, Marandang Kopi pada akhir tahun, dan Pengenalan Alam pada masa libur sekolah. Festival kuliner tradisional dan perlombaan Tambuah Tansa disiapkan sebagai kegiatan pengembangan sesuai kesiapan sumber daya. Kalender ini membantu pengurus merencanakan anggaran, promosi, relawan, keamanan, kebersihan, dan evaluasi secara lebih awal.

Program ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa S1, S2, dan S3 yang terlibat dalam kegiatan pengabdian. Mahasiswa tidak hanya membantu pelaksanaan teknis, tetapi juga belajar menghubungkan pengetahuan manajemen dengan persoalan nyata di masyarakat. Pada saat yang sama, pengalaman warga, pemuda-pemudi, dan niniak mamak menjadi sumber pembelajaran yang tidak dapat sepenuhnya diperoleh di ruang kuliah.

Pertemuan pengetahuan akademik, energi generasi muda, dan kearifan lokal membuat solusi yang dihasilkan lebih relevan dan mudah diterapkan. Dukungan Kelurahan Bukik Apik Puhun memperkuat koordinasi dan keberlanjutan program. Pemuda-pemudi berperan penting dalam pengelolaan media digital, kegiatan wisata, dokumentasi, kebersihan, dan inovasi acara. Sementara itu, niniak mamak memberikan dukungan sosial dan membantu memastikan bahwa pengembangan wisata tetap menghormati adat serta nilai masyarakat. Dukungan lintas unsur ini penting karena program nagari binaan tidak dapat bergantung pada satu organisasi atau satu kali pelatihan. Karena program dirancang berjalan sekitar tiga tahun sejak 2026, capaian tahun pertama menjadi fondasi untuk tahap berikutnya.

Pokdarwis perlu mempertahankan rapat evaluasi, kalender konten, standar pelayanan, dan laporan keuangan berkala. UMKM Kopi Bukik Apik perlu menjaga mutu produk, ketersediaan stok, penggunaan kemasan, pencatatan biaya dan penjualan, serta pelayanan pelanggan. Kedua mitra juga perlu memantau kepuasan pengunjung, perkembangan penjualan, partisipasi masyarakat, kebersihan, dan kelestarian lingkungan. Pengalaman tahun pertama di Bukik Apik Puhun memperlihatkan bahwa pengembangan wisata dan UMKM yang berkelanjutan tumbuh dari kerja bersama.

Perguruan tinggi membawa pengetahuan dan metode; kelurahan memperkuat koordinasi; Pokdarwis mengelola destinasi; UMKM menghasilkan nilai ekonomi melalui produk lokal; pemuda-pemudi menggerakkan kreativitas; sedangkan niniak mamak menjaga dukungan sosial dan nilai budaya. Ketika seluruh unsur tersebut terhubung, destinasi tidak hanya menjadi tempat yang dikunjungi, tetapi juga ruang belajar, ruang usaha, dan sumber kesejahteraan yang dikelola bersama.


(Tim Pengabdian Nagari Binaan Universitas Andalas; Vera Pujani, Ratni Primalita dan Andasuryani)



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026