Logo Header Antaranews Sumbar

Akademisi Unand temukan pendeteksi kualitas kedelai sensor akustik

Senin, 14 September 2026 04:37 WIB
Image Print
Pendugaan mutu biji kedelai yang umum dilakukan oleh tengkulak di tingkat petani masih mengandalkan penilaian berdasarkan indera manusia, yang memiliki keterbatasan dalam menghasilkan penilaian yang objektif dan konsisten. ANTARA/HO/Akademisi Unand

Padang (ANTARA) - Akademisi Universitas Andalas (Unand) Sumatera Barat (Sumbar) menemukan teknologi pendeteksi kualitas biji kedelai menggunakan sensor gelombang suara (akustik) yang mampu mengidentifikasi karakteristik biji berdasarkan tingkat kadar air.

"Respons akustik yang muncul dari biji kedelai mengalami perubahan seiring dengan perbedaan kadar air. Hal ini menunjukkan bahwa suara yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi mengenai karakteristik biji," kata Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian Unand, Khairil Agustoria, MT di Padang, Sabtu.

Ia mengatakan penelitian dilakukan dengan mengamati karakteristik suara yang dihasilkan biji kedelai setelah mengalami benturan, kemudian mengaitkannya dengan kondisi kadar air biji tersebut.

"Ketika biji kedelai dijatuhkan dan mengalami tumbukan pada sebuah pelat, muncul respons suara yang dapat ditangkap oleh sensor. Sistem yang dikembangkan menggunakan mesin sortasi, mikrokontroler, dan sensor suara untuk merekam respons akustik tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan kadar air pada biji kedelai diikuti perubahan nilai amplitudo suara yang terdeteksi sensor," ujarnya.

Menurut dia, penggunaan data akustik memberikan peluang untuk mengurangi ketergantungan penilaian secara manual yang dapat menghasilkan perbedaan hasil antara satu orang dengan orang lain. Kecepatan pemeriksaan juga terbatas ketika jumlah produk yang harus diperiksa mencapai ribuan atau bahkan jutaan butir. Di sinilah peran penting sensor mulai mengubah cara bekerja.

Ia mengemukakan pemanfaatan sensor akustik masih dapat dikembangkan dengan mengombinasikannya dengan teknologi pengukuran lainnya, seperti kamera untuk mengenali warna dan bentuk, sensor untuk mengukur kadar air, serta sistem komputer yang mengolah berbagai hasil pengukuran. Penggabungan sejumlah informasi tersebut dapat membantu meningkatkan proses identifikasi karakteristik hasil pertanian.

Ia mengatakan pemanfaatan sensor dan pengolahan data tidak hanya diarahkan untuk mempercepat pekerjaan, tetapi juga membantu memperoleh informasi mengenai kondisi dan karakteristik hasil pertanian secara lebih terukur.

"Data yang diperoleh dari sensor dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kondisi hasil pertanian. Jadi, teknologi ini bukan sekadar membuat proses pemeriksaan lebih cepat, tetapi juga membantu menghasilkan penilaian yang lebih objektif," ujarnya.

Ia mengemukakan ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai masih tinggi. Kebutuhan kedelai hingga kini masih banyak dipenuhi dari pasokan luar negeri, sementara produksi kedelai di Indonesia belum mampu mencukupi permintaan.

"Pada periode 2019–2023, porsi impor kedelai berada pada kisaran 94,64–97,66 persen, sedangkan produksi dalam negeri pada 2024, hanya memenuhi sekitar 13,5 persen kebutuhan nasional," kata dia.

Ia menyatakan pemanfaatan teknologi tersebut dapat membantu mempercepat proses pengukuran, pengelompokan dan pengelolaan hasil pertanian berdasarkan karakteristik yang terukur, sehingga berpotensi mendukung peningkatan nilai ekonomi produk.

Ia mengemukakan pengembangan teknologi pertanian tidak hanya membutuhkan pembuatan mesin, tetapi juga pengujian dan penyesuaian agar dapat diterapkan di lapangan.

Ia mengutarakan respons akustik biji kedelai dipengaruhi tidak hanya oleh kadar air, tetapi juga ukuran dan massa biji. Karena itu, teknologi tersebut perlu melalui proses kalibrasi sensor, pengolahan data, pelatihan algoritma, serta pengujian pada kondisi nyata.

Ia menyatakan selain aspek teknis, penerapan teknologi juga perlu mempertimbangkan biaya dan keterampilan pengguna agar dapat dimanfaatkan secara efektif oleh petani.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Akademisi Unand temukan pendeteksi kualitas kedelai sensor akustik



Pewarta:
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026