Logo Header Antaranews Sumbar

SAFE KIDS, Tim PkM Unbrah perkuat peran orang tua cegah kekerasan seksual pada anak di Timpeh Dharmasraya

Minggu, 13 September 2026 19:33 WIB
Image Print
Tim PkM Unbrah melaksanakan program SAFE KIDS (Safety Awareness for Families) di Dharmasraya. (ANTARA/HO-Unbrah)

Pulau Punjung (ANTARA) - Kekerasan seksual pada anak merupakan persoalan perlindungan anak yang dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap perkembangan fisik, psikologis, dan sosial. Pencegahan perlu dimulai dari lingkungan terdekat anak, terutama keluarga.

Orang tua berperan sebagai pelindung utama anak. Pengetahuan mengenai faktor risiko, komunikasi protektif, body safety, serta pengawasan aktivitas anak termasuk di lingkungan digital perlu diperkuat melalui edukasi dan pemberdayaan berbasis komunitas.

Atas dasar tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Baiturrahmah yang diketuai Hendri Devita, SKM, M.Biomed., bersama Vitri Yuli Afni Amran, S.SiT, M.Keb., Dr. drg. Yenita Alamsyah, M.Kes., Dr. drg. Yulia Rahmad, M.Kes., drg. Resti Iswani, Sp.RKG (K), Dr. Sevilla Ukhtil Huvaid, SKM, M.Kes., Drs. Eka Trio Efandilus, M.Si., Sri Minda Yani, SKM, M.Kes., apt. Afdil Arel, M.Farm., Dian Eka Nursyam, SST, M.Keb., dan Annisa Wahyuni, SKM, M.Kes., melaksanakan program SAFE KIDS (Safety Awareness for Families).

Kegiatan bertajuk “SAFE KIDS (Safety Awareness for Families): Model Optimalisasi Kapasitas Orang Tua dalam Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak Berbasis Komunitas” dilaksanakan pada 25 Agustus 2026 di Kecamatan Timpeh, Kabupaten Dharmasraya. Pemerintah Kecamatan Timpeh bersama TP-PKK menjadi mitra dalam mendukung pelaksanaan dan keberlanjutan program.

Sasaran kegiatan meliputi orang tua, kader Posyandu/PKK, dan tokoh masyarakat di Kecamatan Timpeh. Keterlibatan berbagai unsur masyarakat tersebut diarahkan untuk membangun lingkungan yang lebih protektif sehingga upaya perlindungan anak tidak hanya dilakukan keluarga, tetapi juga diperkuat oleh komunitas.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan edukasi mengenai kekerasan seksual pada anak yang mencakup pengertian, bentuk, faktor risiko, tanda-tanda anak berisiko atau menjadi korban, serta dampaknya. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya pengawasan terhadap aktivitas anak, termasuk penggunaan media digital.

Edukasi kemudian dilanjutkan dengan pelatihan komunikasi protektif antara orang tua dan anak. Melalui simulasi, peserta dilatih membangun komunikasi terbuka, mengenalkan konsep body safety, mengajarkan perbedaan sentuhan aman dan tidak aman, serta membiasakan anak untuk berani menolak dan menceritakan pengalaman yang membuatnya merasa tidak nyaman.

Salah satu instrumen edukasi yang digunakan adalah SAFE KIDS Smart Cards, yakni 12 kartu edukasi perlindungan anak berbasis keluarga dan masyarakat. Kartu tersebut dirancang sebagai media yang mudah dipahami dan dipraktikkan oleh orang tua, kader, dan pendamping ketika memberikan pendidikan perlindungan diri kepada anak.

Materi SAFE KIDS Smart Cards dimulai dengan “Tubuhku Milikku” untuk mengenalkan hak anak atas tubuhnya, dilanjutkan “Sentuhan Aman” dan “Sentuhan Tidak Aman”. Anak juga diperkenalkan dengan kartu “Aku Berani Berkata Tidak”, “Siapa yang Bisa Dipercaya?”, serta “Rahasia Baik dan Rahasia Buruk” sebagai bekal untuk mengenali situasi yang aman maupun berisiko.

Enam kartu lainnya membahas “Aman Bermain di Luar Rumah”, “Aman Menggunakan Gadget”, “Berani Bercerita kepada Orang Tua”, “Keluarga Hebat, Anak Selamat”, “Kenali Perasaanmu, Berani Bilang”, dan “Jaga Diri, Jaga Masa Depan”. Dengan demikian, perlindungan yang dikenalkan tidak terbatas pada sentuhan fisik, tetapi juga keamanan di lingkungan sosial, keluarga, dan digital.

Penggunaan SAFE KIDS Smart Cards dilakukan secara interaktif. Orang tua dapat menggunakan satu hingga dua kartu dalam satu sesi, menunjukkan gambar kepada anak, menanyakan pemahamannya, mendiskusikan situasi menggunakan bahasa sederhana, kemudian melatih anak mengatakan atau melakukan tindakan yang aman. Anak juga diberikan kesempatan bertanya dan bercerita, sementara orang tua diarahkan untuk mendengarkan tanpa menyalahkan atau menakut-nakuti.

Selain kartu edukasi, program SAFE KIDS menggunakan media berupa buku cerita bergambar dan boneka peraga untuk mendukung simulasi komunikasi protektif. Pendekatan tersebut membuat kegiatan tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi memberikan keterampilan praktis kepada orang tua untuk mengajarkan perlindungan diri kepada anak dalam kehidupan sehari-hari.

Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pengetahuan dan kesiapan peserta setelah memperoleh edukasi dan simulasi. Program juga diarahkan untuk memperkuat jejaring rujukan komunitas yang melibatkan kader, unsur masyarakat, serta layanan perlindungan perempuan dan anak sehingga terdapat jalur pendampingan ketika ditemukan anak yang berisiko.

Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai kekerasan seksual terhadap anak, meningkatkan keterampilan komunikasi protektif, memperkuat kemampuan mengajarkan body safety dan mengenali tanda risiko, serta membangun jejaring komunitas dalam pencegahan kekerasan seksual pada anak. Melalui SAFE KIDS, keluarga didorong menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar melindungi diri, berani berkata tidak, serta terbuka menceritakan pengalaman kepada orang dewasa yang dipercaya.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini menjadi bagian dari pelaksanaan University Social Responsibilities (USR) Universitas Baiturrahmah di Kabupaten Dharmasraya. Program SAFE KIDS sekaligus menjadi bentuk implementasi tridarma perguruan tinggi melalui pemberdayaan keluarga dan masyarakat dalam memperkuat perlindungan anak berbasis komunitas. Kegiatan PkM ini didanai oleh Yayasan Pendidikan Baiturrahmah melalui alokasi anggaran Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Baiturrahmah.

Tim PkM Unbrah melaksanakan program SAFE KIDS (Safety Awareness for Families) di Dharmasraya. (ANTARA/HO-Unbrah)



Pewarta:
Editor: Miko Elfisha
COPYRIGHT © ANTARA 2026