
Sastra sebagai ikon sebuah kota

Padang (ANTARA) - Hingga tahun 2000-an, Payakumbuh hanyalah kota kecil tak tercatat dalam peta sastra Indonesia. Wilayah yang terletak arah timur laut Kota Padang itu lebih dikenal sebagai Kota Batiah.
Kini, seperempat abad kemudian, Payakumbuh telah bertransformasi menjadi salah satu titik penting dalam sastra Indonesia. Aktivitas dan produktifitas sastra di wilayah itu bahkan mengatasi Kota Padang— ibukota provinsi. Payakumbuh kini dikenal sebagai kota puisi, yang melahirkan banyak penyair dan menjadi penyelenggara tetap sebuah iven puisi tingkat internasional.
Penyair dan komunitas
Apa fungsi penyair sebagai warga di sebuah kota? Perubahan apa yang bisa dilakukan seorang penyair? Melalui komunitas yang dipimpinnya, Iyut Fitra (1968- 2026) membuktikan bahwa seorang penyair bersama komunitasnya mampu membangun citra dan ikon bagi kota asalnya.
Sebagai sastrawan, lelaki berambut gondrong itu telah mempublikasikan sepuluh antologi puisi dan sebuah antologi cerita pendek. Banyak prestasi telah diraihnya. Di antaranya, penghargaan dari Perpustakaan Nasional, Kemendikbud, hingga Badan Bahasa.
Berbeda dari kebanyakan lelaki Minangkabau, Iyut Fitra tinggal dan berkarya di kampung halamannya, Kota Payakumbuh, Sumatra Barat. Di kota inilah, pada awal Mei 1990, Iyut Fitra bersama beberapa Gus tf Sakai, Ijot Goblin dan Yusril Katil mendirikan sebuah kelompok kesenian bernama Komunitas Intro. Sekretariatnya di ruang sederhana yang terletak di halaman belakang rumah gadang keluarganya, di Kelurahan Padang Tangah Payakumbuh Barat.
Aktivitas kelompok ini mencakup bidang sastra, tari, musik, teater dan film. Halaman rumah gadang menjadi arena latihan menulis karya sastra, membaca puisi, bermain drama, musikalisasi puisi, dan teater. Hasil latihan kesenian itu kemudian dirangkai menjadi acara pertunjukan pertunjukan untuk masyarakat di kota itu.
Ketiadaaan gedung pertunjukan sama sekali tidak menyurutkan nyali anggota komunitas. Mereka mengadakan pertunjukan di lapangan, pasar, hingga terminal oplet. Tata lampu untuk pertunjukan memanfaatkan lampu jalan dan obor. Pentasnya berbentuk undakan berupa tangga di pusat pertokoan. Meski diselenggarakan dengan sarana terbatas, pertunjukan Komunitas Intro selalu ramai dan disambut meriah warga kota. Salah satu acara yang banyak dinantikan adalah lomba baca puisi, yang jurinya dipilih dari penonton yang hadir. Maka ada juri dari kalangan seniman, tukang ojek, pedagang kaki lima hingga makelar.
Setelah beberapa tahun, nama komunitas ini mulai dikenal dan mereka diundang untuk mengisi acara di iven yang lebih luas. Komunitas Intro juga meraih beberapa penghargaan di tingkat daerah maupun nasional. Mereka mulai menerbitkan buku dan compact disc (CD) musik. Sampai saat ini Intro telah menghasilkan lebih dari 30 pertunjukan teater dan musik. Penyair yang belajar dari komunitas ini juga telah mendapat tempat di arena sastra Indonesia. Salah satunya, Heru Joni Putra, penulis Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, dan Pada Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan yang meraih beberapa penghargaan di tingkat nasional.
Payakumbuh Poetry Festival
Secara historis, Payakumbuh dan kampung di sekitarnya merupakan wilayah asal banyak sastrawan. Dari daerah inilah berasal A. Damhoeri dan Joesoef Sjoe’ib, dua pengarang roman populer dari masa sebelum kemerdekaan. Dari sini juga kampung asal Chairil Anwar, ‘binatang jalang’ pelopor angkatan 45; penyair Adri Sandra yang sajak panjangnya meraih rekor MURI; sastrawan Gus tf (Sakai), peraih SEA Write Awards tahun 2004; hingga cerpenis dan eseis Damhuri Muhammad.
Dari sini juga berasal pemikir dan tokoh pejuang sosialis Tan Malaka, jurnalis P.K.Ojong yang mendirikan Harian Kompas, ahli bahasa dan sastra Lukman Ali, serta sosiolinguis Prof. Khaidir Anwar.
Bisa jadi, latar belakang historis itu menjadi salah satu alasan bagi Komunitas Intro untuk menggagas Payakumbuh Poetry Festival (PPF). Acara ini berawal di tahun 2020 berupa arena pembacaan puisi yang melibatkan penyair dari berbagai daerah. Pada tahun berikutnya, ditambah dengan diskusi, dan kunjungan ke sekolah. Tahun berikutnya lagi, dilengkapi dengan lomba penulisan manuskrip puisi. Setiap tahun, penyelenggara mengusung tema yang berbeda. Di antaranya “Distopia” (2023), “Penyembuhan” (2024), “Antar-dunia dalam Puisi” (2025).
Sejak tiga tahun terakhir saya selalu hadir dalam acara PPF. Iven ini tidak saja menjadi pertemuan para penyair dan ajang baca puisi, tapi juga menjadi arena pertukaran gagasan. Peserta pun makin meluas. Pada 2023, forum itu dihadiri penyair negara ASEAN. Di antaranya, Tulayan, penyair perempuan asal Filipina yang banyak menciptakan puisi visual; Ng Yi-Sheng asal Singapura yang berbicara soal performance poetry; serta Rossanee Nurfarida penyair Thailand yang kerap menciptakan karya puisi lewat audio-visual.
Pesertanya juga tidak melulu penyair. Penulis scenario Salman Aristo dan musisi Ananda Sukarland juga pernah diundang dan tampil dalam iven tersebut.
Yang tak kalah menarik, sekaligus mengharukan, adalah acara kunjungan penyair ke sekolah-sekolah di Kota Payakumbuh. Selama acara, sekelompok penyair mendatangi beberapa sekolah yang diatur penyelenggara PPF untuk berdialog, berdiskusi dan membaca puisi bersama para siswa. Kedatangan para penyair disambut meriah di setiap sekolah. Diskusi dan pembacaan puisi penuh antusias. Beberapa siswa membawa puisi yang mereka tulis sebelumnya untuk dikonsultasikan. Dengan cara itu, penyelenggara acara mendekatkan penyair dan karya sastra dengan siswa.
Pelibatan masyarakat luas juga terjadi dalam acara diskusi dan pertunjukan. Acara diskusi tidak hanya dihadiri para penyair dan seniman, tapi juga masyarakat biasa, guru, dan karyawan. Saat pertunjukan, yang tampil tidak melulu penyair tapi juga anak-anak, remaja dan pembaca umum. Dalam PPF berlaku aturan, ‘yang bukan penyair silakan ambil bagian”.
Pada tahun ini, 2026, PPF memasuki tahun ketujuh. Iven ini kini telah tumbuh menjadi salah satu arena sastra penting di kalangan penyair Indonesia. Melalui kegiatan PPF, puisi bukan lagi barang asing di kota ini,. Puisi dengan mudah ditemukan di sekolah, hingga warung kopi. Di kafe, pengamen tak hanya memainkan musik, tapi juga membacakan puisi.
Payakumbuh telah tumbuh menjadi kota kata-kata, ranah para penyair. Ia menjadi kota yang penuh gairah melalui diskusi sastra dan melahirkan banyak penulis muda. Semua itu membuktikan bahwa seorang penyair mampu memiliki peran bagi perkembangan sebuah kota.
Dalam kapasitasnya sebagai penyair, Iyut Fitra telah menjadikan puisi sebagai ikon bagi kota kelahirannya. Itulah salah satu jasa utama penyair Iyut Fitra— yang meninggal empat bulan lalu— bagi kota asalnya.
* Penulis adalah dosen dan peneliti sastra modern di Universitas Andalas, Padang,
Oleh Ivan Adiila
Editor: Miko Elfisha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
