
BNPB siapkan OMC kurangi dampak abu vulkanik Anak Krakatau

Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mendatangkan hujan sebagai upaya meluruhkan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mengganggu aktivitas masyarakat dan penerbangan.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau telah menurun, tetapi sebaran abu vulkanik masih terjadi sejak hari sebelumnya hingga pagi.
“Kemudian untuk sebaran abu vulkanik, dari mulai kemarin, terus sampai malam, sampai pagi ini masih ada,” kata Suharyanto di Jakarta, Senin.
Menurut dia, kondisi tersebut sebelumnya menyebabkan sejumlah penerbangan di Jakarta, Lampung, dan Jawa Barat, terganggu sehingga pesawat OMC belum dapat diberangkatkan dari sejumlah bandara.
BNPB kemudian menyiapkan alternatif penerbangan OMC dari Bandara Kertajati di Majalengka setelah bandara tersebut kembali dapat digunakan.
“Hari ini, Alhamdulillah, sudah bisa karena Kertajati di Majalengka sudah kebuka. Jadi kita mungkin nanti dari situ,” kata Suharyanto.
BNPB juga memindahkan pesawat TMC dari Kalimantan ke Semarang sebagai alternatif apabila kondisi penerbangan di wilayah DKI Jakarta, Banten, Lampung, dan Sumatera Selatan, masih terganggu.
“Nah nanti kalau memang di wilayah DKI, Banten, Lampung, Sumatera Selatan, enggak bisa kebuka, kita akan melaksanakan OMC-nya dari Jawa Tengah, dari Semarang,” kata Suharyanto.
Operasi tersebut diarahkan untuk menghasilkan hujan yang dapat membantu meluruhkan abu vulkanik sehingga dampaknya terhadap aktivitas masyarakat dan penerbangan dapat dikurangi.
“Mudah-mudahan hari ini, besok, sehingga bisa meluruhkan abu vulkanik yang sekarang mengganggu kehidupan kita,” ujar Suharyanto.
Suharyanto mengatakan hujan buatan menjadi salah satu upaya yang disiapkan pemerintah untuk mempercepat peluruhan abu vulkanik ketika kondisi penerbangan dan cuaca memungkinkan pelaksanaan OMC.
Sebelumnya, Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangan resminya diterima di Jakarta, Senin, menjelaskan episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB.
Setelah periode tersebut berakhir, aktivitas erupsi kembali menunjukkan pola letusan ringan yang menjadi karakteristik Gunung Anak Krakatau yang berada di Provinsi Lampung tersebut.
Lana menyampaikan meski episode erupsi menerus telah selesai, hasil pemantauan instrumental pada periode 6-7 September 2026 masih menunjukkan dinamika kegempaan yang tinggi.
Berdasarkan hasil pengamatan, tercatat tiga kali gempa erupsi, sembilan kali gempa hembusan, 93 kali gempa low frequency, 98 kali gempa hibrid/fase banyak, empat kali gempa tremor menerus, serta satu kali gempa vulkanik dangkal.
Kondisi tersebut membuat tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). Badan Geologi menilai potensi terjadinya letusan dalam beberapa periode ke depan masih cukup tinggi.
Pihaknya mengimbau masyarakat, wisatawan, dan pendaki, untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Selain itu masyarakat yang terdampak abu vulkanik juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker guna mencegah gangguan pernapasan.
Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026
