Logo Header Antaranews Sumbar

UNP bantu kelompok tani di Solok kelola limbah lewat mesin pencacah jerami

Senin, 31 Agustus 2026 15:28 WIB
Image Print

Padang (ANTARA) - Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Padang (UNP) melaksanakan Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB), melalui penerapan teknologi tepat guna berupa mesin pencacah atau perajang jerami pada Kelompok Tani Aliran Imang, Jorong Kapuah, Nagari Sumani, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat.

"Program ini bertujuan membantu petani dalam mengelola limbah jerami pascapanen, meningkatkan efisiensi pengolahan jerami, serta mendorong pemanfaatan jerami menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi," Ketua Tim Pengabdian, Dr. Eko Indrawan, S.T., M.Pd., di Padang, Senin.

Ia menjelaskan selama ini jerami masih sering dibakar atau dibiarkan menumpuk di lahan, sehingga dapat mengganggu kegiatan pertanian berikutnya, dan berdampak terhadap lingkungan.

Kegiatan yang digelar pada Sabtu, (29/8) melibatkan masyarakat serta anggota Kelompok Tani Aliran Imang.

"Sebanyak 20 orang peserta mengikuti pelatihan pengoperasian, perawatan, dan pemeliharaan mesin pencacah jerami," lanjutnya.

Ia menjelaskan salah satu permasalahan yang dihadapi petani adalah belum optimalnya pengelolaan jerami setelah panen.

"Jerami yang menumpuk membutuhkan waktu lama untuk terurai, dan dapat menghambat persiapan lahan untuk musim tanam berikutnya," jelasnya.

Selain itu, pembakaran jerami dapat menimbulkan pencemaran udara dan mengurangi kandungan bahan organik tanah.

"Melalui program PPUB, UNP menghadirkan mesin pencacah atau perajang jerami sebagai solusi teknologi tepat guna untuk mempercepat proses pengolahan jerami," katanya.

Ia mengatakan mesin dirancang dengan konstruksi yang sederhana, sehingga mudah digunakan dan dirawat oleh masyarakat.

Mesin yang dikembangkan memiliki dimensi sekitar 1,5 meter panjang, 1 meter lebar, dan 1 meter tinggi, dengan berat sekitar 50 kilogram.

"Alat ini menggunakan rangka besi dan komponen pisau baja, serta memiliki kapasitas pencacahan sekitar 500 kilogram hingga 1 ton jerami per jam, tergantung kondisi jerami yang digunakan," lanjutnya.

Hasil pencacahan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik maupun pakan ternak. Penerapan mesin diharapkan dapat mengurangi waktu dan tenaga dalam pengolahan jerami, sekaligus mengurangi praktik pembakaran limbah pertanian.

Jerami yang telah dicacah dapat diolah lebih lanjut menjadi pupuk organik, kompos, mulsa, media tanam, maupun pakan ternak melalui proses fermentasi.

Selain penerapan mesin, tim UNP juga memberikan pelatihan pengoperasian, perawatan, dan pemeliharaan mesin.

"Masyarakat diberikan praktik secara langsung agar mampu mengoperasikan teknologi dengan benar, serta melakukan perawatan sederhana sehingga mesin dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan," katanya.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pelatihan memberikan hasil yang sangat baik. Rata-rata keterampilan peserta dalam pengoperasian mesin mencapai 96,00, sedangkan kemampuan perawatan mesin mencapai 94,25.

"Hasil tersebut menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki kemampuan yang baik, dalam menggunakan dan merawat mesin secara mandiri," lanjutnya.

Tim pengabdian yang terdiri dari anggota Fiki Efendi, S.Pd., M.Pd.T., Andril Arafat, S.T., M.Eng., Ph.D., dan Ade Irferamuna, M.Pd. juga memberikan pelatihan mengenai manajemen usaha dan pemanfaatan jerami padi.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta, dengan nilai rata-rata pretest 51,75 meningkat menjadi 92,25 pada posttest.

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin memahami potensi jerami sebagai sumber daya yang dapat memberikan nilai tambah.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Aliran Imang, Joni Lihardi, berperan sebagai koordinator masyarakat penerima manfaat.

"Mitra turut mendukung penyediaan lokasi kegiatan, pelaksanaan pelatihan, penerapan mesin, serta keberlanjutan pemanfaatan teknologi setelah program pengabdian selesai," jelasnya.

Pelaksanaan program dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari survei dan identifikasi kebutuhan masyarakat, perancangan mesin, fabrikasi, perakitan, pengujian, pelatihan, hingga penyerahan mesin kepada kelompok tani.

Mesin telah diuji dan dinilai dapat beroperasi sebagaimana mestinya sebelum diserahkan kepada Kelompok Tani Aliran Imang.

Melalui Program Pengabdian UNP Berdampak, Universitas Negeri Padang terus mendorong penerapan hasil riset, dan inovasi teknologi tepat guna yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Penerapan mesin pencacah jerami di Kelompok Tani Aliran Imang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan limbah pertanian, mengurangi pembakaran jerami, meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, serta mendukung pertanian yang lebih produktif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Pemanfaatan jerami melalui teknologi tepat guna dalam program Pengabdian UNP Berdampak, tidak hanya membantu petani mengatasi persoalan limbah pascapanen, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sumber daya pertanian secara lebih produktif.

Pengolahan jerami menjadi pupuk organik, kompos, mulsa, maupun pakan ternak mendorong praktik produksi yang lebih ramah lingkungan, sementara penerapan mesin pencacah mempercepat proses pengolahan dan meningkatkan efisiensi kerja petani.

Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengelolaan dan pemanfaatan kembali limbah pertanian.

Kemudian SDGs 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur) melalui penerapan teknologi tepat guna, serta SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan nilai tambah dan peluang ekonomi dari pemanfaatan jerami.



Pewarta:
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026