
Pemerintah: Titik api di Sumbar turun sejak pertengahan Agustus

Padang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) menyebutkan jumlah titik api di provinsi setempat turun lebih dari lima puluh persen pada periode 14-23 Agustus.
"Jumlah titik api di Sumbar mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan sebelumnya, kami berharap ini bisa dipertahankan," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbar Tasliatul Fuaddi, di Padang, Senin.
Ia mengatakan pada periode sebelumnya yakni 1-13 Agustus jumlah titik api yang terpantau di wilayah Sumbar sebanyak 232 titik, sesuai data Sipongi Gakkum Kehutanan.
Titik api terpantau di sejumlah kabupaten atau kota provinsi setempat, paling banyak terpantau di Pesisir Selatan, kemudian Dhamasraya, Pasaman, Pasaman Barat, Sijunjung, dan Lima Puluh Kota.
Sementara pada periode 14-23 Agustus jumlah titik api turun lebih dari lima puluh persen menjadi
103 titik.
Ia meminta seluruh pemerintah daerah serta masyarakat sama-sama menekan angka itu dengan cara menghindari hal-hal yang dapat memicu terjadinya kebakaran lahan dan hutan.
"Perlu upaya kita bersama dalam meningkatkan kewaspadaan, agar jumlah titik api di Sumbar tidak naik lagi," jelasnya.
Menurutnya dalam hal lahan, sudah ada instruksi dari Mendagri yang melarang pembukaan lahan dengan cara dibakar untuk semua wilayah.
Pemerintah juga melarang warga untuk membakar sampah, dan kepada para petani tidak diperkenankan membakar jerami usai panen.
"Bagi warga yang beraktivitas di hutan seperti berburu atau berladang, jangan lalukan pembakaran atau membuang puntung rokok sembarangan," katanya.
Ia menjelaskan puncak dampak kemarau akibat fenomena el nino akan terjadi pada Agustus-September 2026, dan berpotensi meningkatkan kebakaran hutan dan lahan.
Pewarta: Fathul Abdi
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026
