
Tim PKM UNP bantu pengembangan kapasitas kelompok kompos lewat Good Composting Practices dan pencatatan keuangan digital di Kamang Hilia

Padang (ANTARA) - Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada masyarakat Universitas Negeri Padang (PKM LPPM UNP) melaksanakan kegiatan pengembangan kapasitas kelompok usaha kompos melalui Pelatihan Good Composting Practices dan Sistem Pencatatan Keuangan Digital di Nagari Kamang Hilia, Kecamatan Kamang Magek, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat.
"Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya perguruan tinggi dalam mendorong penguatan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal, sekaligus meningkatkan kemampuan teknis, manajerial, dan digital kelompok usaha di tingkat nagari," kata Ketua Tim PKM UNP, Halkadri Fitra, SE, MM, Ak, di Padang, Rabu.
Kegiatan PKM dilaksanakan sejak Juni hingga Oktober 2026, melalui rangkaian pelatihan, diskusi, praktik, pendampingan, serta monitoring dan evaluasi.
Tim PKM UNP ini memiliki anggota yakni Dr. Muhammad Oceano Fauzan, SE, MM dan Dr. Alpon Satrianto, SE, ME.
Kegiatan ini juga melibatkan tiga mahasiswa Program Studi Diploma 3 Akuntansi UNP, yaitu Thio Valentino Edily Pratama, Sandra Dewi Surya, dan M. Rafli Majid.
Halkadri menyebut mitra kegiatan adalah Gapoktan Nagari Kamang Hilia yang diketuai oleh Bapak Fikrul Irsyad.
Salah satu kegiatan usaha yang dikembangkan oleh Gapoktan adalah usaha pengolahan kompos, yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai usaha ekonomi produktif berbasis lingkungan dan pertanian.
Kegiatan PKM ini dibiayai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, sesuai dengan Kontrak Pelaksanaan Program Pengabdian Kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026 Nomor 170/C3/DT.05.00/PM/2026, yang berada pada Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.
Tingkatkan kapasitas produksi dan manajemen usaha
Halkadri menjelaskan bahwa kegiatan ini, tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan teknis dalam menghasilkan kompos, tetapi juga mencakup penguatan aspek manajemen usaha.
“Pengembangan usaha kompos membutuhkan pendekatan yang terintegrasi. Kelompok tidak hanya perlu memiliki kemampuan menghasilkan kompos yang berkualitas, tetapi juga perlu memahami pencatatan keuangan, pengelolaan usaha, pemasaran, dan pemanfaatan teknologi digital,” katanya.
Melalui pelatihan Good Composting Practices, anggota kelompok diberikan pemahaman dan praktik mengenai pengelolaan bahan baku, proses pengomposan, pengendalian kelembapan dan suhu, pemantauan tingkat keasaman atau pH, pengendalian kualitas, hingga pengemasan produk.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk kompos yang dihasilkan, sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih baik dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya petani dan pelaku usaha pertanian di sekitar Nagari Kamang Hilia.
Selain aspek produksi, Tim PKM juga memberikan pendampingan dalam sistem pencatatan keuangan digital.
Penerapan pencatatan keuangan tersebut, diharapkan membantu kelompok dalam memisahkan keuangan usaha dan keuangan pribadi, mencatat transaksi secara lebih tertib, mengetahui biaya produksi, menghitung pendapatan dan keuntungan, serta menghasilkan laporan keuangan yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan usaha.
Didukung peralatan dan teknologi digital
Sementara itu, untuk memperkuat keberlanjutan usaha, kelompok usaha kompos juga mendapatkan dukungan berupa berbagai peralatan dan sarana penunjang kegiatan.
Bantuan tersebut antara lain berupa mesin pengolah kompos, alat pengukur pH kompos, perangkat lunak pelaporan keuangan, media digitalisasi pemasaran, serta berbagai peralatan pendukung lainnya.
Penggunaan peralatan tersebut, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi proses produksi sekaligus memperbaiki kualitas pengelolaan usaha.
Sedangkan untuk pemanfaatan media digital, diarahkan agar produk kompos tidak hanya dipasarkan secara konvensional, tetapi juga dapat diperkenalkan melalui berbagai kanal pemasaran digital.
"Digitalisasi pemasaran menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan ini, karena produk lokal memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas," jelasnya.
Kelompok juga diberikan pemahaman mengenai bagaimana membangun identitas produk, membuat materi promosi, memanfaatkan media sosial, serta mengembangkan komunikasi pemasaran secara digital.
Sinergi dengan Pemerintah Nagari
Dalam pelaksanaan kegiatan, Tim PKM UNP juga berkoordinasi dengan Pemerintah Nagari Kamang Hilia.
Sinergi antara perguruan tinggi, kelompok masyarakat, dan pemerintah nagari dinilai penting untuk memastikan program yang dilaksanakan dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Wali Nagari Kamang Hilia, Drs. Eryanson, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas pelaksanaan kegiatan PKM UNP di Nagari Kamang Hilia.
Ia berharap kerja sama antara Universitas Negeri Padang, Gapoktan, dan Pemerintah Nagari Kamang Hilia dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan pada masa yang akan datang.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Tim PKM Universitas Negeri Padang, yang telah memberikan pendampingan kepada masyarakat Nagari Kamang Hilia. Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada kegiatan saat ini, tetapi dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Menurutnya, pendampingan yang diberikan perguruan tinggi menjadi salah satu bentuk sinergi yang dapat membantu masyarakat dalam mengembangkan potensi ekonomi nagari.
Mendukung Ekonomi Sirkular dan Pembangunan Berkelanjutan
Pengembangan usaha kompos juga memiliki dimensi yang lebih luas karena menghubungkan aspek ekonomi, lingkungan, teknologi, kelembagaan, dan pemberdayaan masyarakat. Pengolahan limbah organik menjadi kompos dapat mengurangi limbah sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.
Kegiatan ini sejalan dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan usaha kompos dapat menciptakan aktivitas ekonomi produktif di tingkat nagari, meningkatkan kapasitas pelaku usaha, membuka peluang pendapatan, serta mendorong terciptanya pekerjaan yang lebih produktif dan berkelanjutan.
SDGs 9 – Industri, Inovasi dan Infrastruktur melalui pemanfaatan mesin pengolah kompos, alat pengukur pH, perangkat lunak keuangan, serta teknologi pemasaran digital merupakan bentuk penerapan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing usaha masyarakat.
SDGs 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab lewat pengolahan bahan organik menjadi kompos merupakan praktik yang mendukung pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien, dan penerapan ekonomi sirkular.
Limbah organik yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi kegiatan pertanian.
SDGs 13 – Penanganan Perubahan Iklim dengan pengelolaan limbah organik secara lebih baik, dan pengembangan praktik pengomposan dapat berkontribusi terhadap upaya pengurangan dampak lingkungan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai praktik usaha yang lebih ramah lingkungan.
SDGs 16 – Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh, melalui penerapan sistem pencatatan keuangan yang tertib, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan membantu memperkuat tata kelola kelompok usaha.
Pendekatan ini juga mendorong budaya administrasi dan pengelolaan organisasi yang lebih baik.
SDGs 17 – Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Kegiatan PKM merupakan wujud nyata kemitraan antara Universitas Negeri Padang, Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Pemerintah Nagari Kamang Hilia, Gapoktan Nagari Kamang Hilia, serta masyarakat.
Kolaborasi tersebut menjadi modal penting untuk memastikan program pemberdayaan masyarakat dapat berjalan secara berkelanjutan.
Diharapkan Menjadi Model Pengembangan Usaha Nagari
Tim PKM UNP berharap kegiatan pendampingan ini, dapat memberikan perubahan nyata terhadap kemampuan kelompok dalam mengelola usaha kompos, baik dari sisi produksi maupun manajemen.
Ke depan, kelompok diharapkan mampu menghasilkan kompos dengan kualitas yang lebih konsisten, memiliki sistem administrasi dan pencatatan keuangan yang tertib, mengembangkan pemasaran berbasis digital, serta meningkatkan kemampuan dalam menghitung biaya dan keuntungan usaha.
Lebih jauh, pengembangan usaha kompos diharapkan dapat menjadi salah satu contoh usaha ekonomi produktif berbasis lingkungan di tingkat nagari yang mengintegrasikan pemanfaatan potensi lokal, teknologi, penguatan kapasitas masyarakat, tata kelola usaha, dan pemasaran digital.
Melalui sinergi berkelanjutan antara perguruan tinggi, pemerintah nagari, dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas kelompok usaha kompos, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap penguatan ekonomi masyarakat dan pencapaian pembangunan berkelanjutan di Nagari Kamang Hilia, Kecamatan Kamang Magek, Kabupaten Agam.

Pewarta: Melani Friati
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026
