Logo Header Antaranews Sumbar

Rektor UNAND bekali lulusan tentang kecerdasan buatan serta tantangan global

Minggu, 12 Juli 2026 13:54 WIB
Image Print
Rektor Universitas Andalas (UNAND), Sumatera Barat (Sumbar) Efa Yonnedi menyalami para lulusan perguruan tinggi tersebut di sela-sela prosesi wisuda di Padang, Minggu, (12/7). Antara/HO-Humas Universitas Andalas

Padang (ANTARA) - Rektor Universitas Andalas (UNAND), Sumatera Barat (Sumbar) Efa Yonnedi membekali para lulusan perguruan tinggi tersebut tentang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta tantangan dinamika global yang terjadi saat ini.

"AI boleh membantu. AI boleh menjadi co-pilot. Tapi pilotnya adalah saudara-saudara sendiri," kata Rektor UNAND Efa Yonnedi di Padang, Minggu.

Hal tersebut disampaikan Rektor UNAND pada rangkaian wisuda periode III 2026 dengan meluluskan sebanyak 1.389 orang selama dua hari pelaksanaan di Auditorium Kampus Limau Manis.

Eks Konsultan Bank Dunia tersebut mengingatkan di balik prosesi akademik yang sudah dilalui terdapat hal yang jauh lebih penting. Sebab, saat ini lulusan perguruan tinggi dituntut mampu menjadi manusia yang berpikir kritis, berkarakter, dan adaptif di tengah percepatan perkembangan AI serta meningkatnya ketidakpastian global.

Rektor mengajak para lulusan melihat wisuda bukan sebagai akhir perjalanan belajar, melainkan awal memasuki dunia yang berubah sangat cepat. Ia membagikan pengalaman mengikuti Google Leaders Series di Singapura bersama para pimpinan perguruan tinggi kawasan Asia Pasifik yang membahas masa depan pendidikan tinggi di era AI.

Dari forum tersebut, rektor membawa satu gagasan penting, yakni konsep human in the loop, yang menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan utama dalam pemanfaatan kecerdasan buatan.
ujarnya.

Menurutnya, kemajuan AI telah mengubah cara manusia memperoleh informasi. Namun, keunggulan lulusan perguruan tinggi tidak diukur dari kemampuan mendapatkan jawaban dalam hitungan detik, melainkan dari kemampuan memahami persoalan, berpikir kritis, menghasilkan gagasan kreatif, membangun komunikasi, dan berkolaborasi.

"Anda tidak diwisuda hari ini karena bisa mendapat jawaban dengan cepat. Anda diwisuda karena telah belajar berpikir. Berpikir kritis, berpikir kreatif, mampu berkomunikasi, dan mampu berkolaborasi adalah modal untuk tetap kompetitif di era AI dan robot," katanya.

Ia menjelaskan, tantangan yang dihadapi lulusan saat ini semakin kompleks. Mengacu pada Global Risks Report 2026 yang diterbitkan World Economic Forum, risiko terbesar dunia kini bergeser dari persoalan bencana alam menjadi konfrontasi geoekonomi, disinformasi, polarisasi sosial, hingga meningkatnya dampak perkembangan AI. Kondisi tersebut menuntut lulusan perguruan tinggi memiliki kemampuan beradaptasi, integritas, dan ketangguhan dalam mengambil keputusan di tengah perubahan yang berlangsung cepat.

"Dunia kerja tidak lagi mencari lulusan yang sekadar pintar. Dunia mencari lulusan yang tangguh, yang mampu membedakan informasi benar dari yang salah, serta mampu beradaptasi di tengah ketidakpastian yang kini menjadi keniscayaan," tegasnya.

Rektor turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh wisudawan, khususnya mereka yang menjadi sarjana pertama di keluarganya. Ia menyebut keberhasilan tersebut bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga membuka sejarah baru bagi keluarga dan generasi berikutnya.

Mengakhiri sambutannya, Rektor mengajak seluruh alumni UNAND untuk terus menjadi pembelajar sepanjang hayat, menjaga integritas, serta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Di zaman AI sekalipun, manusia tetap membutuhkan nilai-nilai kemanusiaan, kejujuran, dan kebijaksanaan. Jadilah lulusan yang berilmu, beradab, tangguh menghadapi ketidakpastian, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi bangsa," ujar dia.



Pewarta:
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026