
Membangun Kepercayaan terhadap Teknologi Kesehatan Dimulai dari Literasi Radiasi

Padang (ANTARA) - Kemajuan teknologi kesehatan dalam dua dekade terakhir berkembang sangat pesat. Berbagai pemeriksaan berbasis pencitraan medis kini mampu membantu dokter menemukan penyakit pada stadium yang jauh lebih dini dibandingkan sebelumnya. Di balik kemajuan tersebut, terdapat peran ilmu fisika medis yang memastikan setiap prosedur menggunakan radiasi berlangsung secara aman, akurat, dan memberikan manfaat klinis yang optimal bagi pasien.
Namun, pengalaman dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Nagari Taeh Baruah, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat memperlihatkan bahwa tantangan pelayanan kesehatan tidak hanya berada pada aspek teknologi. Tantangan lain yang tidak kalah penting justru berada pada pemahaman masyarakat terhadap teknologi itu sendiri.
Ketika berdiskusi dengan kader Pos Kesehatan Nagari (Poskesri), ditemukan bahwa pembicaraan mengenai deteksi dini kanker payudara hampir selalu bermuara pada satu kata yang sama, yaitu radiasi. Bagi sebagian peserta, istilah tersebut lebih dahulu memunculkan kekhawatiran dibandingkan manfaat yang sebenarnya dapat diberikan oleh pemeriksaan medis.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi kesehatan belum selalu diikuti oleh peningkatan literasi kesehatan masyarakat. Akibatnya, keputusan untuk menjalani pemeriksaan medis sering kali dipengaruhi oleh persepsi yang terbentuk dari cerita di lingkungan sekitar, media sosial, atau informasi yang tidak utuh.
Padahal, dalam pelayanan kesehatan modern, penggunaan radiasi telah diatur melalui berbagai standar keselamatan yang ketat. Setiap pemeriksaan radiologi dilakukan berdasarkan indikasi medis dengan mempertimbangkan keseimbangan antara manfaat dan risiko. Prinsip inilah yang menjadi dasar penerapan proteksi radiasi di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
Dalam bidang fisika medis dikenal prinsip justifikasi dan optimisasi. Pemeriksaan hanya dilakukan apabila manfaat klinisnya jelas bagi pasien, sementara dosis radiasi diupayakan serendah mungkin tanpa mengurangi kualitas informasi diagnostik. Prinsip tersebut menjadi bagian dari praktik sehari-hari di rumah sakit dan terus diawasi melalui program jaminan mutu serta pengendalian kualitas peralatan.
Sayangnya, prinsip-prinsip tersebut belum banyak diketahui masyarakat. Yang lebih sering terdengar justru anggapan bahwa semua radiasi memiliki risiko yang sama. Persepsi seperti ini dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk menunda bahkan menolak pemeriksaan yang sebenarnya sangat dibutuhkan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian ketika membahas kanker payudara. Berdasarkan berbagai laporan nasional, sebagian besar pasien di Indonesia masih datang berobat pada stadium lanjut. Salah satu faktor yang berkontribusi adalah keterlambatan melakukan pemeriksaan ketika gejala awal mulai muncul. Padahal, deteksi dini memberikan peluang yang jauh lebih besar terhadap keberhasilan pengobatan.
Karena itu, membangun literasi radiasi seharusnya dipandang sebagai bagian dari upaya meningkatkan keselamatan pasien. Keselamatan tidak hanya ditentukan oleh kualitas alat atau kompetensi tenaga kesehatan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat memahami informasi yang benar sehingga dapat mengambil keputusan kesehatan secara tepat.
Inilah pelajaran penting yang diperoleh selama berdiskusi dengan kader Poskesri. Kader merupakan kelompok yang memiliki kedekatan dengan masyarakat dan menjadi salah satu sumber informasi kesehatan yang dipercaya. Ketika mereka memahami manfaat, risiko, serta prinsip penggunaan radiasi dalam pelayanan kesehatan, informasi tersebut akan diteruskan kembali kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat di sekitarnya.
Pendekatan semacam ini memiliki nilai strategis. Literasi kesehatan tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas atau rumah sakit. Ia dapat tumbuh melalui percakapan sederhana di posyandu, pertemuan warga, atau kegiatan pemberdayaan masyarakat. Dalam ruang-ruang seperti itulah berbagai kesalahpahaman dapat diluruskan menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami.
Sebagai dosen Fisika Medis, pengalaman tersebut juga memperluas cara pandang kami mengenai pengabdian kepada masyarakat. Selama ini fisika medis sering dipersepsikan sebagai bidang yang bekerja di balik layar, berkaitan dengan alat kesehatan, pengukuran dosis, atau pengujian kualitas peralatan. Padahal, hasil dari seluruh proses tersebut pada akhirnya bermuara pada satu tujuan, yaitu memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan bermanfaat bagi masyarakat.
Oleh sebab itu, peningkatan literasi radiasi perlu menjadi bagian dari strategi promosi kesehatan di Indonesia. Kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan kader kesehatan perlu terus diperkuat agar masyarakat memperoleh informasi yang benar mengenai teknologi medis yang mereka gunakan.
Teknologi kesehatan akan terus berkembang. Alat diagnostik akan semakin canggih, kualitas pencitraan akan semakin baik, dan standar keselamatan akan semakin tinggi. Namun, seluruh kemajuan tersebut baru akan memberikan dampak nyata apabila diiringi dengan tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan.
Pada akhirnya, keberhasilan pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan kita memastikan bahwa masyarakat memahami alasan mengapa teknologi itu hadir, bagaimana teknologi tersebut bekerja, dan mengapa mereka tidak perlu takut memanfaatkannya ketika memang diperlukan.
Penulis merupakan Dosen Fisika Medis, Departemen Fisika, Universitas Andalas
Oleh Dr. Ramacos Fardela, S.Si., M.Sc., F.Med.
COPYRIGHT © ANTARA 2026
