Logo Header Antaranews Sumbar

Komunitas Surau Kreatif kenalkan Budaya Minangkabau di lingkungan Unbrah melalui "Hadirnyo Surau Kami"

Senin, 6 Juli 2026 14:28 WIB
Image Print
Komunitas Surau Kreatif menghadirkan Festival "Hadirnyo Surau Kami" di lingkungan Universitas Baiturrahmah (Unbrah). (ANTARA/HO-Unbrah)

Padang (ANTARA) - Geliat pelestarian kebudayaan lokal yang bertumpu pada penguatan kesehatan mental kini mulai merambah ke lingkungan perguruan tinggi, salah satunya melalui kolaborasi strategis Unbrah dan Komunitas Surau Kreatif

Sebagai langkah awalnya Komunitas Surau Kreatif menghadirkan Festival "Hadirnyo Surau Kami" di lingkungan Universitas Baiturrahmah (Unbrah), Kota Padang, Sumatera Barat yang diselenggarakan 2 hingga 4 Juli 2026

Kegiatan yang pertama kali diselenggarakan di Unbrah ini mengemas nilai-nilai luhur Minangkabau ke dalam serangkaian lokakarya, pameran visual, dan diskusi interaktif lintas disiplin.

Kegiatan ini melibatkan civitas akademika di lima fakultas. Pada hari pertama 2 Juli 2026, diselenggarakan kegiatan "talkshow" tematis keilmuan, seperti kajian praktik penyembuhan tradisional Minangkabau dari sudut pandang medis oleh Fakultas Kedokteran, telaah budaya menginang (menyiriah) kaitannya dengan kesehatan gigi oleh Fakultas Kedokteran Gigi, serta bahasan ilmiah Batangeh (sauna ala Minangkabau) berbasis riset oleh Prodi Farmasi Klinis Fakultas Ilmu Kesehatan.

Tidak ketinggalan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis turut membedah strategi hilirisasi ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.

Selain diskusi ruang, festival ini juga memanjakan civitas akademika dengan dibukanya galeri visual pameran arsip sejarah surau, pameran instalasi seni trapi, bazar produk kreatif dan kuliner tradisional buatan mahasiswa, hingga dibukanya kunjungan khusus ke Museum Aromaterapi Unbrah.

Di hari-hari berikutnya, para peserta juga diajak langsung mempraktikkan pengolahan etnosains pangan lokal, mulai dari meracik minyak pijat herbal, pembuatan minuman jahe tradisional "serobat" instan, hingga metode higienis pembuatan "dadiah"—susu kerbau fermentasi khas Minangkabau

Ketua Surau Kreatif, Suci Shawmy Febrita, M.Psi., Psikolog, yang bertindak langsung sebagai pucuk pimpinan komunitas, mengungkapkan bahwa inisiatif kolektif ini sengaja dirancang untuk merawat dan menjaga "mental health" atau kesehatan mental masyarakat, khususnya generasi muda, melalui beragam media karya. Pemanfaatan seni budaya sebagai sarana ekspresi dan terapi psikologis dipandang sebagai antitesis yang tepat dalam menghadapi belenggu rasa takut dan cemas di era disrupsi.

"Gerakan ini lahir bukan sekadar untuk mendirikan kembali bangunan fisik surau dengan arsitektur masa lalu. Jauh dari itu, kami ingin menghidupkan kembali esensi, ruh, dan fungsi luhur surau tempo dulu sebagai pusat pengembangan diri dan pembentuk peradaban yang holistik. Salah satunya adalah menjaga mental health melalui beragam karya, baik seni pertunjukan maupun literasi," ujar Suci saat ditemui di sela-sela persiapan kegiatan.

Suci yang juga seorang psikolog ini menjelaskan bahwa perhelatan besar di lingkungan kampus tersebut merupakan buah manis dari penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) kemitraan strategis yang telah disepakati antara Universitas Baiturrahmah dan Komunitas Surau Kreatif.

Integrasi antara dua lembaga ini dirancang untuk melahirkan ruang aman bagi generasi muda dalam berekspresi sekaligus menggali kearifan lokal.

Lebih lanjut, Suci menilai kompleks kampus Unbrah memiliki kecocokan yang sangat tinggi dengan filosofi perjuangan komunitasnya.

Alasan Unbrah dipilih karena dinilai berhasil menerapkan prinsip budaya Minangkabau yang berlandaskan tatanan kepemimpinan ideal, yakni Tungku Tigo Sajarangan. Filosofi pertalian tiga unsur pembuat keputusan ini tercermin nyata dari tata letak tata ruang kampus.

"Unbrah dinilai cocok karena memiliki penerapan prinsip budaya Minangkabau "tungku tigo sajarangan". Hal ini karena keberadaan rumah bagonjong, masjid, dan gedung kampus berada dalam satu komplek terpadu.

Menurut Suci tata letak arsitektural ini secara visual dan sosiologis langsung mengidentifikasi adanya keterwakilan tokoh adat (tungku niniak mamak melalui rumah bagonjong), tokoh agama (tungku alim ulama melalui masjid), dan tokoh pendidikan (tungku cadiak pandai melalui kampus) yang berjalan beriringan seirama.

Kegiatan ini menjadi bagian dari pendanaan Program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bagian Dana Indonesiana.

Komunitas Surau Kreatif menghadirkan Festival "Hadirnyo Surau Kami" di lingkungan Universitas Baiturrahmah (Unbrah). (ANTARA/HO-Unbrah)

Menanggapi kolaborasi erat tersebut, Rektor Universitas Baiturrahmah, Prof. Dr. Ir. Musliar Kasim, MS, menyambut hangat implementasi kemitraan ini. Menurut mantan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI tersebut, kehadiran pergelaran Surau Kreatif di dalam lingkungan universitas sangat sejalan dengan visi pembentukan karakter mahasiswa yang selama ini dibangun secara konsisten oleh Unbrah.

Prof. Musliar Kasim menambahkan bahwa Unbrah senantiasa menekankan tiga pilar kompetensi utama pada lulusannya, yakni aspek sikap "attitude", aspek keterampilan "skill" serta aspek pengetahuan "knowledge" .

Pola pembentukan karakter tersebut diperkaya dengan keunikan tata nilai lokal yang menjadi pembeda utama perguruan tinggi ini.

"Langkah nyata kolaborasi ini sejalan dengan karakter yang dibentuk oleh Unbrah, yakni mencakup penguatan sikap, keterampilan yakni dari sisi pendidikan, dan pengetahuan. Bahkan, kita di Unbrah memiliki program University Social Responsibility (USR).

"Melalui program USR ini, kami menggabungkan seluruh unsur budaya Minangkabau tadi dan diperkuat oleh implementasi Tridharma Perguruan Tinggi yang mencakup aspek pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat," tutur Prof. Musliar tegas.



Pewarta:
Editor: Miko Elfisha
COPYRIGHT © ANTARA 2026