Logo Header Antaranews Sumbar

Anhar Gonggong : Bukittinggi Kota Perjuangan dalam kenyataan kedaruratan Republik Indonesia

Sabtu, 20 Juni 2026 16:43 WIB
Image Print
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias bersama sejarawan nasional Prof. Anhar Gonggong saat menyampaikan orasi ilmiah di Seminar "Bukittinggi Kota Perjuangan". ANTARA/AL FATAH

Bukittinggi (ANTARA) - Sejarawan nasional, Prof. Anhar Gonggong menyampaikan pendapatnya terkait kata "Kota Perjuangan" yang kini dilekatkan untuk Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia sekaligus mengingatkan keberlanjutan dari julukan yang digagas sebagai upaya menjadikan daerah setempat menjadi wilayah khusus di Indonesia.

"Bukittinggi sebagai kota perjuangan pasti benar untuk Bukittinggi dalam konteks waktu. Namun, harus ada kelanjutannya, agar Bukittinggi memiliki kekhasan yang tidak dimiliki daerah lain, saat masa mempertahankan kemerdekaan," kata Anhar Gonggong di Bukittinggi, Sabtu.

Anhar menyampaikan orasi ilmiahnya dalam seminar nasional "Bukittinggi Kota Perjuangan", di Balairung rumah dinas wali kota. Dalam paparannya ia mengingatkan Pemkot Bukittinggi dan seluruh sejarawan, agar dapat menambah kelanjutan dari kata "Kota Perjuangan" yang memberikan kekhasan terhadap Bukittinggi.

"Harus diingat kata perjuangan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan itu berada di semua kota. Nah persoalannya, apa khas nya Bukittinggi dibanding dengan kota-kota yang lain, sehingga dia mempunyai hak yang berbeda dengan harga dari kota-kota yang lain itu? Kalau saya ditanya, maka saya akan mengatakan, Kota Bukittinggi kota perjuangan dalam kenyataan kedaruratan Republik. Itu yang membedakannya dari daerah lain," katanya.

Menurutnya, saat Belanda ingin melakukan agresi kedua, Amerika melalui tiga petinggi negaranya, telah mengingatkan, bahwa posisi Indonesia itu sangat penting untuk waktu puluhan tahun yang akan datang. Namun, Belanda tidak mengindahkan hal itu dan tetap melakukan agresi kedua.

Anhar meminta Pemkot Bukittinggi mendiskusikan hal yang menunjukkan kekhasan kata perjuangan yang dikaitkan dengan Bukittinggi, untuk diminta kepada pemerintah pusat karena Papua sudah diberikan istimewa apalagi Yogyakarta sebagai ibukota kedua.

"Sekali lagi saya katakan Bukittinggi adalah ibukota atau kota yang punya kekhasan. Dan saya mendukung Wali Kota dalam memperjuangan kota istimewa. Saya tentu tidak mungkin menyalahi kenyataan sejarah, bahwa Bukittinggi, memiliki sikap, memiliki kenyataan yang berbeda dengan daerah-daerah lain, dengan kota-kota lain, dibanding dengan kota-kota di dalam periode kemerdekaan itu. Khasnya ada dan tidak akan pernah ada yang menyamainya," katanya.

Saat ini, Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias bersama tokoh masyarakat sedang aktif memperjuangkan agar Bukittinggi diakui secara resmi sebagai Daerah Istimewa atau Daerah Khusus.

"Usulan status istimewa tersebut didasarkan pada nilai sejarah penting kota ini, yang meliputi antaranya pernah menjadi ibu kota Indonesia dan pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada tahun 1948 juga ibu kota Provinsi Sumatra, Sumatra Tengah, dan Sumatra Barat serta tempat lahirnya banyak pahlawan bangsa, utamanya proklamator Muhammad Hatta'" kata Ramlan.



Pewarta:
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026