
21 hari mengiringi Harimau Puti Batuah

Lubuk Basung (ANTARA) - Dengan kondisi nafas ngos-ngosan, Tim Gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat melihat pintu kandang jebak yang dipasang di lahan perkebunan warga Batang Palupuh, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam sudah tertutup, Jumat (22/5).
Kandang jebak yang terbuat dari besi dengan panjang sekitar 180 centimeter dan lebar 90 centimeter itu kondisi pintu tertutup sekitar pukul 09.30 WIB.
"Pintu kandang sudah tertutup. Kita harus waspada dan lihat sekitar kita apakah individu harimau lainnya ada," seru Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar Ade Putra kepada petugas lainnya dan masyarakat.
Petugas melihat kandang sudah tertutup dengan jarak sekitar 30 meter dengan lokasi perjalanan yang cukup terjal.
Suasana menjadi hening, dua petugas BKSDA Sumbar, Tim Patroli Anak Nagari (Pagari), wartawan Antara Sumbar dan dua warga setempat mencoba mendekati lokasi kandang jebak.
Menjelang beberapa meter sampai di kandang, satwa dilindungi dengan nama latin Panthera Tigris Sumatrae mengeluarkan auman beberapa kali dan mencoba meronta-ronta di dalam kandang.
Tiba-tiba, Tim Pagari melihat satu individu harimau dengan jarak sekitar 30 meter dari lokasi kandang.
Harimau itu melihat ke lokasi kandang yang di dalamnya ada individu harimau lainnya yang masuk perangkap.
"Harimau terlihat sedih melihat kawannya sedang berada di dalam kandang dan pergi masuk ke semak-semak akibat kami ada di sekitar kandang," kata anggota Pagari Baringin Adeka.
Sebelumnya harimau tersebut berada di sekitar kandang untuk menemani kawannya yang berada di dalam kandang.
Ini terlihat dari hasil kamera treap atau jebak yang dipasang di sekitar kandang tersebut.
"Harimau masuk kandang pada Jumat (22/5) sekitar pukul 02.30 WIB. Satu individu harimau masih bertahan di luar menemani kawannya dan berkemungkinan harimau itu di lokasi sampai kami di daerah itu," katanya.
Harimau masuk kandang jebak merupakan yang beberapa kali muncul di Kecamatan Palembayan, Matur dan Palupuh.
Harimau sempat ketemu dengan masyarakat Taruyan, Nagari Tigo Balai, Kecamatan Matur saat berada di kebun pada Sabtu (2/5) dan masyarakat Matua Katiak, Nagari Matua Hilia, Kecamatan Matua pada Selasa (5/5).
Penanganan interaksi negatif atau konflik satwa dengan manusia tersebut telah dilakukan semenjak 2 Mei 2026, usai pasangan suami istri di Taruyan, Nagari Tigo Balai, Kecamatan Matur didekati harimau tersebut.
Di lokasi, petugas juga menemukan tanda-tanda keberadaan dan petugas langsung interaksi dengan satwa itu, sehingga diputuskan untuk evakuasi.
Di Taruyan, Nagari Tigo Balai, Kecamatan Matur telah di pasang kandang jebak dan tidak membuahkan hasil, karena sudah berpindah ke Matua Katiak, Nagari Matua Hilia, Kecamatan Matur dan Kecamatan Palupuh.
Dengan kondisi itu, penanganan konflik dialihkan ke Matua Katiak, Sitingkai, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh sampai Batang Palupuh, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh.
Setidaknya ada tiga kandang jebak yang dipasang, satu unit di Taruyan, satu unit di Koto Rantang dan satu unit di Batang Palupuh. Namun masuk kandang jebak di Batang Palupuh pada Jumat (22/5), setelah kandang jebak dipasang pada Rabu (20/5).
"Sudah 21 hari kita mengiringi harimau yang diberi nama Puti Batuah oleh tokoh masyarakat Batang Palupuh, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam," katanya.
Evakuasi harimau
Setelah diketahui masuk kandang jebak Jumat (22/5) sekitar pukul 09.30 WIB, BKSDA Sumbar menyiapkan evakuasi satwa langka dan dilindungi tersebut dengan mendatangkan dokter hewan milik BKSDA Sumbar.
Mengingat waktu cukup pendek yang akan melaksanakan Shalat Jumat, maka evakuasi dilakukan usai Shalat Jumat yang dibantu oleh Polsek Palupuh, Dandim Palupuh, Pagari Baringin, Pagari Salareh Aia, Pagari Pasia Laweh dan masyarakat setempat.
Ratusan warga berdatangan untuk menyaksikan secara langsung evakuasi harimau tersebut sembari mengabadikan menggunakan telpon genggam milik mereka.
Sebelum evakuasi, dokter hewan memberikan obat bius ke harimau dengan cara ditembak menggunakan sumpit.
Setelah harimau tertidur, petugas gabungan langsung mengevakuasi harimau dengan usia di bawah dua tahun tersebut.
Evakuasi dilakukan dengan cara ditandu secara bersama-sama menggunakan kain sarung dari lokasi kandang jebak sampai ke pemukiman dengan jarak sekitar 500 meter.
Tim gabungan terlihat kesulitan mengevakuasi harimau itu, mengingat jalan yang dilalui cukup kecil dan memiliki turunan yang terjal.
Sesampai di pemukiman, harimau langsung dibawa menggunakan mobil BKSDA Sumbar ke kantor Seksi Wilayah I BKSDA Sumbar di Kota Bukiittinggi.
Evakuasi dari lokasi sampai kantor Seksi Wilayah I BKSDA Sumbar di Kota Bukiittinggi selesai sekitar pukul 16.00 WIB.
Setelah itu harimau langsung dibawa ke Kebun Binantang Kota Sawahlunto untuk observasi kesehatannya.
Pantau Batang Palupuh usai evakuasi harimau
Petugas BKSDA Sumbar, bersama Yayasan Sintas Indonesian dan Pagari melakukan pemantauan keberadaan harimau pada lokasi satwa tersebut masuk kandang di Batang Palupuh, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh.
Pemantauan itu dilakukan menggunakan drone thermal dilakukan usai satu individu harimau berkelamin betina masuk kandang jebak pada Jumat (22/5).
Pemantauan dilakukan pada malam dan pagi hari untuk memudahkan memantau keberadaan harimau sedang berkeliaran.
Teknologi yang digunakan cukup membantu, sehingga bisa memantau keberadaan satwa dari pancaran suhu tubuh dari harimau.
"Pemantauan ini untuk memastikan apakah individu yang lain masih berada di lokasi, karena drone termal bisa memantau keberadaan satwa dari pancaran suhu tubuh harimau," katanya.
Petugas BKSDA Sumbar juga memasang kamera treap atau jebak di sejumlah titik di lokasi harimau masuk kandang jebak.
Petugas BKSDA bersama Yayasan Sintas Indonesian dan Pagari juga melakukan penyisiran di daerah itu.
Apabila sudah tidak terpantau, maka penanganan konflik tersebut bakal dihentikan.
Sementara Team Leader Yayasan Sintas Indonesian Sepriyoga Virdana Khan menambahkan drone termal belum mendapatkan tanda keberadaan harimau di Batang Palupuh, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh.
Sebelumnya drone thermal pernah memantau keberadaan harimau di Tigo Nagari, Kabupaten Pasaman, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam dan Koto Tabang, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam.

Pewarta: Yusrizal
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026
