
Angka kelahiran Sumbar turun namun masih konsisten sedekade terakhir

Kota Padang (ANTARA) - Hasil survei penduduk antarsensus (Supas) 2025 Badan Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) menunjukkan angka kelahiran total di provinsi setempat sebesar 2,39 atau turun dibandingkan survei 2020 yakni 2,46 namun masih konsisten dalam satu dekade terakhir.
"Hasil survei ini menegaskan bahwa tren penurunan masih terus berlanjut meskipun dengan laju yang lebih landai," kata Kepala BPS Sumbar Nurul Hasanudin di Kota Padang, Senin.
Hasanudin menjelaskan angka kelahiran total atau disebut juga dengan total fertility rate (TFR) menggambarkan rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup oleh perempuan selama masa reproduksinya yakni rentang 15–49 tahun.
Ia menjelaskan angka kelahiran total di Sumbar mengindikasikan bahwa provinsi setempat semakin mengarah ke tingkat penggantian (replacement level), atau angka kelahiran rata-rata yang dibutuhkan agar suatu populasi dapat menggantikan dirinya sendiri dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa migrasi.
Hasil Supas 2025 juga menunjukkan tingkat fertilitas di Sumbar bervariasi antarwilayah. Sebagai contoh, Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan daerah dengan angka kelahiran total tertinggi yakni sebesar 2,73. Sementara, daerah angka kelahiran total paling rendah berada di Kota Padang 2,20.
"P," ujarnya.
Dalam survei tersebut, BPS juga mendalami angka kelahiran menurut kelompok umur tertentu yang menggambarkan jumlah kelahiran hidup per 1.000 perempuan pada kelompok umur tertentu.
Selama periode 2010–2025 menunjukkan adanya penurunan fertilitas terutama pada perempuan usia 15–24 tahun. Pada kelompok umur 15–19 tahun, angka kelahiran terus menurun dari 27,60 kelahiran per 1.000 perempuan pada 2010 menjadi 10,36 kelahiran per 1.000 perempuan pada 2025.
Sementara itu, puncak fertilitas selama periode 2010–2025 masih berada pada kelompok umur 25 hingga 29 tahun meskipun mengalami penurunan dari 165,90 menjadi 156,69. Kemudian, BPS juga menemukan angka kelahiran kasar sebesar 18,23 kelahiran hidup per 1.000 penduduk di provinsi setempat. Angka ini menurun 0,84 poin dibandingkan hasil survei 2020 yakni sebesar 19,07.
Pewarta: Muhammad Zulfikar
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026
