Logo Header Antaranews Sumbar

Menikmati tarian Sumatra di kawasan Utara Kota Padang

Minggu, 24 Mei 2026 10:11 WIB
Image Print

Padang (ANTARA) - Kopi akhir pekan selalu terasa lebih nikmat, apalagi kalau menyeduhnya sambil menikmati pertunjukkan tari tradisional yang memukau.

Begitulah yang terjadi di Fabriek Blok pada Sabtu (24/5) malam, sebuah kafe yang berada di utara Kota Padang, persisnya di pinggir Jalan Prof Dr Hamka.

Di bawah langit malam yang cerah, para penari menggerakkan tubuhnya secara teratur dan indah. Seirama dengan musik khas melayu yang mengiringi penampilan.

Ada benang halus yang mengikat mata, seolah-olah pandangan harus mengikuti setiap gestur yang dibuat oleh sang penari.

Entah itu gerakan kaki, bahu, pinggang, jari, tangan, leher, kepala, hingga eskpresi dan mimik wajah.

Total ada delapan puluh penari yang unjuk gigi malam itu, mereka tampil secara berkelompok mengenakkan pakaian tradisional daerah.

Tidak hanya pakaian tradisional Minangkabau saja yang merupakan penghuni mayoritas di Sumatera Barat (Sumbar), tapi juga dari etnis lain yang ada di Pulau Sumatra.

Para penari merupakan mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP), dari program studi Pendidikan Seni Tari, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS).

Mereka sengaja datang ke ruang publik demi mengenalkan tari tradisi kepada masyarakat secara luas khususnya generasi muda dengan tajuk "Langgam Ranah Sumatra".

Delapan karya tari ditampilkan malam itu, semuanya berakar pada seni tradisional di Sumatra. Mulai dari Aceh, Lampung, Sumatera Utara, dan Sumbar.

Beberapa judul karya yang tampil adalah "Pusaka Irama Gayo", "Gemulai Serumpun, "Suhul Ni Dolok", dan "Tari Piriang Galatiak".

Pusaka Irama Gayo (Aceh)

adalah tari kreasi yang berakar pada Tari Saman di Aceh. Tarian tersebut menggambarkan kekayaan budaya masyarakat Gayo yang diwariskan turun-temurun sebagai pusaka berharga.

Melalui gerakan yang serempak, cepat, dan penuh kekompakan, para penari menampilkan semangat kebersamaan, disiplin, serta nilai persatuan yang menjadi ciri khas Tari Saman.

Irama tepukan tangan, dada, dan lantunan syair yang mengalun selaras mencerminkan harmoni dalam kehidupan masyarakat Gayo yang menjunjung tinggi adat, agama, dan solidaritas.

Setiap perubahan tempo dalam tarian melambangkan dinamika kehidupan—dari ketenangan, kebersamaan, hingga semangat yang membara dalam menjaga warisan budaya.

Tarian tersebut menjadi simbol bahwa dalam kesatuan dan kekompakan, tercipta keindahan yang mampu menyatukan perbedaan dalam satu irama.

Gemulai Serumpun (Lampung)

Tari "Gemulai Serumpun" merupakan tarian kreasi untuk 14 penari yang memadukan antara kelembutan Tari Bedana dan ritme Tari Zapin dari Lampung.

Dalam penampilannya penari menggunakan kipas, selendang, dan properti Menara Siger sebagai simbol kehormatan, keagungan, serta kemuliaan.

Penari menampilkan gerakan yang anggun dan serempak untuk menggambarkan kebersamaan, persatuan, serta identitas budaya Lampung.

Lewat perpaduan gerak yang harmonis, tari tersebut mengajak penonton untuk merayakan keberagaman dan menunjukkan bahwa dengan saling menghormati, hidup bisa menjadi indah dan penuh makna.

Suhul Ni Dolok (Sumatera Utara)

Karya Suhul Ni Dolok merupakan pengembangan dari Tari Dolok Pusuk Buhit milik masyarakat Batak Toba.

"Suhul Ni Dolok" yang secara harfiah berarti gagang atau pegangan gunung, menggambarkan keteguhan prinsip, kekuatan pondasi hidup, dan kedalaman spiritualitas masyarakat Toba.

Tarian kreasi ini terinspirasi dari kesakralan Dolok Pusuk Buhit—gunung yang diyakini sebagai tempat mula penciptaan dan asal-usul silsilah suku Batak.

Serta filosofi suhul sebagai simbol pegangan adat yang kokoh agar manusia tidak kehilangan jati dirinya.

Tari Piriang Galatiak (Sumbar)

Tarian ini merupakan tari kreasi yang menggambarkan kelincahan, semangat, dan kegembiraan pemuda Minangkabau dalam mengekspresikan rasa syukur atas limpahan rezeki.

Penampilan tari menggunakan properti piring yang digerakkan dengan ritme cepat dan dinamis oleh para penari.

Setiap karya yang ditampilkan mampu memukau pengunjung kafe malam itu, bahkan beberapa anak kecil "terinfeksi" dan mengikuti gerakan penari yang dilihatnya dari luar pentas.

Penampilan malam itu merupakan bagian dari kewajiban akademis para mahasiswa Pendidikan Seni tari untuk mata kuliah "Tari Industri kreatif" dan "Tari Sumatra".

Para dosen yang mengampu mata kuliah yakni Nerosti dan Vina Aulya (Tari Industri Kreatif), dan Susniarti (Tari Sumatra) hadir langsung menyaksikan.

"Mata kuliah tari industri kreatif memang mendorong para mahasiswa untuk mengakses ruang-ruang publik lalu tampil di sana, sehingga apresiasi yang didapatkan lebih luas," kata Nerosti.

Ia mengatakan generasi muda harus dikenalkan kepada seni tradisi yang dimiliki berbagai daerah seperti Aceh, Minang, Batak, Lampung, dan Bengkulu.

"Karya yang ditampilkan malam ini adalah tari kreasi, sedangkan pijakan dasarnya adalah seni tradisi yang ada di berbagai daerah di Sumatra," jelasnya.

Ia mengharapkan penampilan itu bisa membuka wawasan dan khazanah pengetahuan kepada para anak muda bahwa daerah Sumatra kaya akan seni tradisi.

Susmiarti mengatakan Seni tradisi adalah ekspresi budaya dari masyarakat-masyarakat etnik di Sumatra yang harus dilestarikan sekaligus dikenalkan kepada generasi penerus.

Sementara Vina Aulya menceritakan proyek akhir dari mata kuliah tari industri kreatif adalah mampu menjual jasa, maka dalam konteks seni tari jasa itu berarti sebuah pertunjukkan.

Pihak kampus berkomitmen untuk terus memajukan dunia tari tradisi melalui pembelajaran dan praktik, serta memadukannya dengan seni tari modern atau kontemporer.

Salah seorang pengunjung kafe Sani (36), mengapresiasi pertunjukkan tari kreasi yang telah dilakukan oleh Program Studi pendidikan Seni Tari UNP tersebut.

Ia berharap kegiatan serupa terus dilakukan secara berkelanjutan sehingga berbagai seni tradisi bisa diketahui oleh masyarakat, dan dapat dinikmati sebagai pertunjukkan dengan sentuhan kreasi.



Oleh
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026