
Pemkab Pasaman Barat koordinasikan ke Pertamina terkait ketersediaan bio solar

Simpang Empat (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat segera berkoordinasi dengan pihak Pertamina dan pemerintah provinsi terkait sulitnya masyarakat memperoleh Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bio solar di daerah itu
"Antrean panjang kendaraan memperoleh bio solar terus terjadi. Kita telah turun kelapangan melihat langsung kondisi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Hasilnya akan kita koordinasi untuk mencari solusinya baik berupa penambahan kuota sementara maupun penguatan pengawasan distribusi," kata Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Pasaman Barat Agusli di Simpang Empat, Senin.
Menurutnya pihaknya telah melakukan inspeksi mendadak ke SPBU Simpang Empat beberapa waktu lalu menyikapi keluhan masyarakat
Dari kunjungan kelapangan itu tersebut, tim DPKUKM memperoleh beberapa informasi penting yakni pihak SPBU Simpang Empat membenarkan kondisi antrian panjang yang terjadi, namun ini tidak hanya terjadi di tempat mereka tetapi juga hampir di semua SPBU di Sumbar.
Kuota penyaluran bio solar untuk SPBU Simpang Empat tetap 16 ton per hari. Tidak ada pengurangan alokasi dari Pertamina.
Lonjakan permintaan terjadi karena perbedaan harga yang sangat besar antara bio solar subsidi Rp6.800 per liter dengan dexlite non subsidi yang sudah menyentuh Rp27.150 per liter.
Banyak kendaraan yang seharusnya menggunakan dexlite beralih ke bio solar.
Dia menjelaskan bangunan SPBU yang ada di Simpang Empat sedang direnovasi untuk perluasan lokasi.
Hal itu mengakibatkan kapasitas kendaraan yang bisa antre di dalam SPBU berkurang, sehingga sebagian besar kendaraan harus berada di luar area SPBU dan memanjang ke jalan umum.
"Pihak manajemen SPBU juga menegaskan komitmen untuk menyalurkan bio solar sesuai aturan yang berlaku. Setiap pembelian wajib menggunakan barcode kendaraan, dan satu barcode hanya dapat digunakan satu kali dalam sehari," katanya.
Sementara untuk menjaga ketertiban, pihak SPBU juga telah berkoordinasi dengan Polsek setempat agar antrean kendaraan berjalan lebih tertib dan mengurangi potensi kemacetan serta praktik percaloan.
Kelangkaan bio solar ini paling dirasakan oleh pelaku usaha kecil dan pemilik angkutan umum. Waktu yang terbuang untuk mengantre mengurangi jam kerja dan pendapatan harian mereka.
Jika kondisi ini berlarut, dikhawatirkan akan memicu kenaikan ongkos angkut dan harga kebutuhan pokok di pasaran.
Keluhan masyarakat Pasaman Barat terkait sulitnya mendapatkan BBM jenis bio solar semakin menguat sebulan terakhir.
Salah seorang pengendara Rudi (40) mengharapkan ketersediaan bio solar mencukupi di Pasaman Barat.
"Antrean panjang tiap hari terjadi sehingga bisa memakan waktu setengah hari. Kami berharap ini cepat bisa diatasi sehingga tidak perlu antrean panjang," katanya.
Pewarta: Altas Maulana
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026
