
Petani terdampak bencana di Padang Pariaman dapat pelatihan agroekologi wujudkan kedaulatan pangan

Parik Malintang (ANTARA) - Petani di Nagari Anduriang, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat yang terdampak bencana hidrometeorologi yang terjadi akhir tahun 2025 mendapatkan pendidikan argroekologi dari Serikat Petani Indonesia (SPI) guna mewujudkan kedaulatan pangan melalui penerapan sistem organik.
"Semangat petani harus bangkit pasca-bencana, kemudian kami tambah dengan pendidikan argroekologi sehingga mereka tidak ketergantungan dengan pupuk kimia," kata Ketua Dewan Pimpinan Wilayah SPI Sumbar, Rustam Efendi usai pembukaan kegiatan tersebut di 2x11 Kayu Tanam, Kamis.
Ia mengatakan SPI ingin mewujudkan ketahanan pangan seperti yang dicanangkan pemerintah dengan cara menjadikan petani berdaulat atau tidak ketergantungan. Tidak ketergantungan yang dimaksud salah satunya lepas dari penggunaan pupuk kimia yang khusus bersubsidi selain susah didapat juga terkadang pendistribusiannya terlambat sedangkan pupuk nonsubsidi harganya mahal.
Oleh karena itu pada pendidikan dan pelatihan tersebut pihaknya tidak saja membina puluhan petani dalam pengolahan media tanam yang baik juga memproduksi dan menggunakan pupuk organik padat dan cair.
Ia menjelaskan penggunaan pupuk organik pada kegiatan tersebut karena penggunaan pupuk kimia secara bertahap dapat merusak kesuburan tanah sehingga produksi pertanian akan menurun.
"Padahal dengan penggunaan pupuk organik selain murah dan mudah hasilnya lebih baik dari pada penggunaan pupuk kimia," katanya.
Menurutnya kurangnya minat generasi muda saat ini untuk menjadi petani karena selama ini penggunaan pupuk kimia mahal sedangkan hasil pertanian tidak maksimal dan harganya pun tidak sesuai yang diharapkan.
Ia menyampaikan nantinya pihaknya akan mendeklarasikan daerah itu sebagai kawasan berdaulat pangan dengan memanfaatkan 55 lahan sawah yang tidak terdampak bencana.
Ia berharap dengan konsep kedualatan pangan tersebut maka penggunaan pupuk kimia berkurang serta generasi muda tertarik untuk menjadi petani.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (DLHPKPP) Padang Pariaman Andri Satria Masri mengatakan kegiatan tersebut mendukung pemerintah daerah dalam upaya pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk.
"Kegiatan ini tentu bisa membantu petani mendapatkan pupuk karena pupuk kimia terkadang sulit didapatkan serta mengurangi produksi sampah yang terus menjadi permasalahan," ujarnya.
Ia mengatakan dengan kegiatan tersebut petani bisa mengolah media tanam dan memproduksi pupuk dengan harga murah karena menggunakan bahan-bahan dari alam.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Holtikultura, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Padang Pariaman Salmiati mengatakan pihaknya sebelumnya telah sering melaksanakan sosialisasi penggunaan pupuk organik untuk pertanian bahkan sampai produksi.
"Bahkan dulu ada beras organik, sayur organik, tapi mengubah perilaku petani memang agak sulit," ujarnya.
Oleh karena itu, lanjutnya pemerintah daerah terbantu dengan kegiatan yang diinisiasi oleh SPI tersebut karena dapat meningkatkan pemahaman petani terkait penggunaan pupuk dan pengolahan media tanam dengan cara alami.
Pewarta: Aadiaat Makruf S.
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026
