
Rp125 juta kerugian petani KJA Danau Maninjau dampak kematian ikan

Lubuk Basung (ANTARA) - Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Agam, Sumatera Barat mencatat sekitar Rp125 juta kerugian petani keramba jaring apung (KJA) di Danau Maninjau dampak kematian ikan secara massal pada awal 2026.
"Kerugian Rp125 juta dari kematian ikan sebanyak lima ton pada akhir Januari 2026 dengan harga ikan tingkat petani Rp25 ribu per kilogram," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam Rosva Deswira didampingi Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Perikanan Tangkap Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam Doni Afdison di Lubuk Basung, Selasa.
Ia mengatakan kematian ikan milik sejumlah petani tersebar di Nagari Bayua, Kecamatan Tanjung Raya.
Kematian tersebut akibat oksigen berkurang di danau vulkanik tersebut setelah curah hujan cukup tinggi disertai angin cukup kencang.
Dengan kondisi itu, ikan mengapung dan menjadi pusing sehingga mati secara massal.
"Hujan disertai angin kencang mengakibatkan naiknya air permukaan danau, sehingga oksigen berkurang," katanya.
Ia menambahkan saat ini petani mulai melakukan aktivitas berbudidaya ikan setelah kondisi cuaca sudah membaik.
Namun ia mengimbau petani agar mengurangi tebar benih ikan dan segera memanen ikan apabila angin cukup kencang dalam meminimalisir kematian ikan.
"Ini harus dilakukan agar ikan tidak mati, sehingga kita tidak mengalami kerugian," katanya.
Ia mengakui kerugian petani keramba jaring apung di Danau Maninjau mencapai Rp35,71 miliar dengan kematian ikan 1.428,73 ton selama 2025.
Kematian ikan secara massal tersebut terjadi saat bencana hidrometeorologi melanda daerah itu pada akhir November-Desember 2025.
"Ada beberapa kali ikan mati di danau saat bencana hidrometeorologi melanda daerah itu," katanya.
Pewarta: Yusrizal
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026
