Logo Header Antaranews Sumbar

Film jadi instrumen ekonomi baru

Sabtu, 7 Maret 2026 21:22 WIB
Image Print
Arsip foto - Pengunjung menunggu penayangan film di bioskop rakyat di The Hallway Space, Bandung, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi.)

Ia mencontohkan film Antara Mama, Cinta, dan Surga yang mengambil lokasi syuting di kawasan Danau Toba.

“Ini sekaligus mengangkat potensi destinasi internasional maupun nasional. Bagi diaspora, menonton film ini bisa menggugah emosional mereka untuk kembali ke kampung halaman dan ikut berkontribusi dalam pengembangan pariwisata,” ujarnya.

Namun demikian, Lamhot menyoroti ketimpangan distribusi film nasional. Saat ini sekitar 70 persen bioskop terkonsentrasi di Pulau Jawa, sementara masyarakat di wilayah timur Indonesia masih kesulitan menikmati film nasional.

“Ini yang akan kami dorong ke depan supaya ada pemerataan. Regulasi akan kami perbaiki dan permudah agar produser bergairah memproduksi film,” katanya.

Terkait wacana pembangunan bioskop negara oleh Produksi Film Nasional (PFN), Lamhot menyatakan dukungan namun menekankan pentingnya konsep “layar lebar untuk rakyat”.

Gedung-gedung pemerintah daerah, menurutnya, dapat dimanfaatkan sebagai ruang pemutaran film sehingga akses masyarakat terhadap film nasional semakin mudah.

“Jika sinergi regulasi dan implementasi berjalan, film akan menjadi instrumen baru bagi ekonomi kita dan membantu APBN,” ucapnya.

 

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Komisi VII DPR dukung film jadi instrumen ekonomi baru

 



Pewarta:
Editor: Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026