Logo Header Antaranews Sumbar

Pelaku UMKM ikan bilih alami lonjakan pasokan pascabencana banjir

Minggu, 25 Januari 2026 11:57 WIB
Image Print
Pekerja UMKM ikan bilih goreng menunjukkan ikan bilih yang siap dijual ke sejumlah pusat oleh-oleh di Kabupaten Tanah Datar, Minggu (25/1/2026). ANTARA/Muhammad Zulfikar

Kabupaten Tanah Datar (ANTARA) - Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) penggorengan ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) atau ikan endemik Danau Singkarak, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar) mengalami lonjakan pasokan dari nelayan pascabanjir bandang yang terjadi di akhir November 2025.

"Alhamdulillah, setelah galodo (banjir bandang) pasokan ikan dari nelayan meningkat pesat," kata pemilik UMKM penggorengan ikan bilih, Nasir di Nagari Guguak Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Minggu.

Nasir mengatakan dalam beberapa hari terakhir ia bahkan menerima pasokan ikan endemik tersebut hingga 200 kilogram. Jumlah itu meningkat drastis dari hari biasanya yang hanya berkisar 10 hingga 15 kilogram.

Di awal-awal bencana terjadi, ia sempat tidak menerima pasokan ikan dari para nelayan sekitaran Danau Singkarak karena kualitas ikan yang kurang bagus. Sebab, beberapa kali ikan yang diterima dari nelayan, daging ikan terasa agak pahit setelah digoreng.

Kini, dua bulan setelah bencana berlalu kualitas ikan bilih hasil tangkapan nelayan di Danau Singkarak sudah kembali bagus dan terasa gurih. Ia menduga hal tersebut bisa saja dipengaruhi oleh aliran sungai yang tercemar akibat banjir bandang.

Nasir mengaku produksi UMKM ikan bilih goreng miliknya tidak hanya dijual di sekitaran Danau Singkarak tetapi sudah menyasar ke Kota Payakumbuh, Kota Dumai hingga Depok, Provinsi Jawa Barat.

Untuk harga beli dan jual ikan bilih tergantung kepada ketersediaan ikan dari para nelayan. Jika pasokan sedang banyak, ia menebus Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram dari nelayan.

Namun, jika hasil tangkapan nelayan tidak begitu banyak atau ikan sulit didapatkan, maka harga beli ke nelayan bisa mencapai Rp100 ribu per kilogram. Kondisi tersebut akan berdampak langsung kepada nilai jual ikan bilih goreng di sejumlah pusat oleh-oleh.

Sementara itu, Evi, salah seorang pekerja di UMKM penggorengan ikan bilih milik Nasir mengatakan sudah menekuni pekerjaan itu sejak satu tahun terakhir.
Ia mendapatkan upah sebesar Rp5 ribu setiap satu kilogram ikan bilih yang sudah dibersihkan.

"Jadi, kita di sini digaji sesuai dengan berapa banyak ikan yang bisa kita bersihkan termasuk proses pengorengannya," ujar dia.

Rata-rata dalam sehari ia bersama pekerja lainnya bisa mendapatkan upah Rp50 ribu hingga Rp70 ribu, atau tergantung dari banyaknya ikan bilih yang berhasil ia bersihkan sebelum digoreng.

"Selain di sini, saya juga bekerja di tempat lain untuk membersihkan ikan bilih, tergantung dari pesanan pemilik UMKM," ujarnya.



Pewarta:
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026