"Malam" sawit beri alternatif bahan baku natural bagi UMKM batik

id Malam batik,malam sawit, sawit,sumbar,natural

"Malam" sawit beri alternatif bahan baku natural bagi UMKM batik

Belajar membatik menggunakan malam sawit yang diperkenalkan PT Apical. (ANTARA/ist)

Padang (ANTARA) - Pelaku UMKM batik di Sumatera Barat memiliki alternatif baru yang lebih natural untuk membuat produk kain batik dengan beragam motif dan warna yang lebih cerah.

Owner Batik Shanumesty, Sekar Hanum Pramesty di Padang, Selasa mengatakan biasanya ia menggunakan malam atau lilin parafin berbasis minyak bumi untuk membuat batik. Bahan itu adalah bahan yang lazim digunakan oleh pengrajin batik.

Namun satu bulan terakhir, ia penasaran dengan varian baru berupa malam berbahan dasar HPS (Hydrogenated Palm Stearin) yang merupakan turunan dari produk sawit.

"Perkenalan pertama dengan malam sawit ini melalui group Apical yaitu PT Padang Raya Cakrawala. Kebetulan tempat produksi kami berdekatan," kata lulusan SMK 4 Padang itu.

Ia mengatakan melalui PT PRC, ia mendapatkan malam sawit dan melakukan beberapa percobaan untuk memproduksi batik. Ternyata, ia menemukan beberapa keunggulan untuk bahan berbasis sawit itu.

"Menggunakan malam sawit ini, untuk mencuci setelah proses canting tidak perlu air yang mendidih. Cukup air dengan suhu panas. Ini membuat penggunaan energi seperti gas LPG jauh lebih hemat. Selain itu, dengan penggunaan air hangat (bukan mendidih) membuat warna menjadi lebih cerah," katanya.

Menurutnya, jika menggunakan malam atau lilin berbahan parafin maka untuk mencuci perlu air mendidih. Sementara, semakin tinggi suhu air yang digunakan, akan berpengaruh pada warna yang menjadi agak pudar.

Ia menyebut ke depan akan terus bekerjasama dengan Apical untuk mengembangkan industri batik dengan nilai-nilai budaya dan keberlanjutan di Sumbar.

Sementara itu, Head of Corporate Communications Apical, Prama Yudha Amdan mengatakan penggunaan HPS sebagai malam batik tidak hanya memberikan manfaat dalam hal efisiensi energi, tetapi juga mendukung praktik berkelanjutan.

"Dengan titik leleh yang lebih rendah, HPS dapat mengurangi penggunaan energi hingga 50 persen, yang berarti proses produksi batik menjadi lebih hemat energi dan ramah lingkungan," katanya.

Keunggulan lain dari HPS adalah kemampuannya untuk meningkatkan tekstur kain dan ketajaman warna, memudahkan para pembatik untuk menciptakan desain yang lebih hidup dan detail. Malam batik berbasis HPS sudah mulai diterapkan oleh komunitas pembatik di Laweyan, Solo, yang telah menggandeng Apical sejak 2021.

Hingga saat ini, sekitar 40 pengusaha batik di Laweyan telah beralih menggunakan malam batik berbasis sawit ini, yang diproduksi sesuai dengan standar keberlanjutan RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil).

"Melalui kerjasama ini, kami berharap dapat memperkenalkan malam batik berbasis sawit kepada lebih banyak pembatik di berbagai daerah, termasuk Padang," tambah Prama.

Pimpinan PT Padang Raya Cakrawala, Dodi Saputra mengatakan, saat ini pihaknya baru menggandeng batik Shanumesty untuk di Sumbar. Namun ia membuka ruang untuk mendukung masyarakat terutama para perajin batik khususnya di Padang, untuk bisa bertransformasi menggunakan produk-produk yang lebih berkelanjutan.

"Dengan demikian, selain memberikan kontribusi terhadap pelestarian budaya batik, penggunaan HPS juga mendukung pengembangan ekonomi lokal dan praktik berkelanjutan," katanya.

Ia mengatakan melalui kerjasama dengan komunitas-komunitas batik seperti di Laweyan dan Padang, Apical terus berkomitmen untuk mendukung UMKM menuju praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, sembari melestarikan warisan budaya Indonesia.*

Pewarta :
Editor: Miko Elfisha
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.