Padang (ANTARA) - Program Pengabdian Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Hibah Kemdiktisaintek RI2025 resmi memulai rangkaian kegiatannya dengan menggelar sosialisasi program di komunitas Seni Saluak Badeta pada Sabtu (25/10).
Program pengabdian tersebut diketuai oleh seorang akademisi bernama Venny Rosalina S Sn, M Sn, dengan mengusung tema tema “Penguatan potensi komunitas saluak Badeta dalam penggarapan Randai tragedi Perang Sintuak berbasis dekonstruksi dan platform digital.”
"Sosialisasi ini menjadi titik awal bagi rangkaian workshop, pelatihan, monitoring, hingga penampilan puncak Randai “Tragedi Perang Sintuak 1947” yang akan dipentaskan pada 22 November," terang Venny Rosalina di Padang, Minggu.
Ia menceritakan sosialisasi dilakukan langsung di Nagari Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat (Sumbar).
Sasarannya adalah kelompok seni pertunjukan di Kenagarian setempat, khususnya komunitas Saluak Badeta.
Tim pelaksana sosialisasi adalah Robby Ferdian, S Sn, M Sn, Nessya Fitryona, S Pd, M Sn, serta tim mahasiswa yang turut memaparkan tujuan program, arah pengembangan randai, hingga strategi kolaborasi dengan komunitas mitra.
"Tim memperkenalkan tujuan program pengabdian ke mitra yaitu komunitas seni Saluak Badeta, wali nagari, dan ketua museum terkait inovasi yang bisa dilakukan dalam pertunjukan randai daerah setempat dan penguatan kapasitas komunitas seni pertunjukan," jelas Venny.
Ia melanjutkan materi sosialisasi meliputi peningkatan kapasitas kreatif dan teknis anggota komunitas dalam menggarap randai supaya menghasilkan pertunjukan randai dengan struktur dramaturgi, musik, dan tata artistik yang lebih kuat.
Kemudian mendorong kaderisasi generasi muda agar bisa mempertahankan seni tradisi randai yang ada di komunitas, peningkatan pemanfaatan media digital untuk promosi, dokumentasi, dan publikasi randai dan potensi sejarah yang ada di daerah Sintuak sebagai wisata budaya.
Venny menekankan Randai tragedi perang Sintuak penting untuk diangkat, karena seni pertunjukan lokal yang dulunya rutin digelar kini nyaris punah dan tidak memiliki ruang tampil.
Salah satunya terjadi pada komunitas seni Saluak Badeta di Nagari Sintuak yang fokus pada kegiatan randai dengan cerita tragedi perang Sintuak.
Randai Tragedi Perang Sintuak yang diproduksi masih terikat pada gaya lama, belum menunjukkan penguasaan dramatik yang memadai, serta nilai estetika yang tinggi.
Selain itu proses regenerasi juga berjalan lambat, dan kemampuan bersaing dalam konteks pertunjukan seni harus bisa ditingkatkan sehingga dinikmati oleh khalayak.
Ketua Komunitas Saluak Badeta Alfandi Memet, S Kom menyambut baik program tersebut dengan harapan bisa membuka ruang baru bagi seniman muda untuk memperkaya teknik randai.
Serta dapat menyajikannya dengan pendekatan artistik yang lebih kontemporer, namun tetap berakar pada budaya Minangkabau.
Pada bagian lain, Ketua Tim Pengabdian Venny menerangkan bahwa pihaknya berupaya melestarikan seni tradisi Minangkabau melalui pendekatan kreatif (dekonstruksi, dokumentasi digital, pertunjukan inovatif).
Hal itu sejalan dengan cita-cita pembangunan nasional untuk memperkuat identitas dan kepribadian bangsa, melalui kebudayaan yang berakar pada sejarah dan kearifan lokal.
Pada akhir program nanti diharapkan terjadinya pengembangan randai yang disajikan secara kontemporer dan profesional guna mendukung pariwisata budaya, memperluas jaringan penghayatan seni, serta meningkatkan kesejahteraan para pelaku seni
Kemudian revitalisasi pertunjukan seni yang berbasis pada komunitas sebagai agenda tahunan atau event lokal.
Inovasi yang dihasilkan tidak hanya pada aspek artistik pertunjukan (dramaturgi, gerak, kostum, musik), akan tetapi juga pada aspek manajemen, pendidikan, dan digitalisasi seni tradisi.
Dengan demikian Randai Tragedi Perang Sintuak bukan hanya dipertontonkan sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai produk seni inovatif yang mendukung pelestarian, pendidikan, dan ekonomi kreatif.
Ia mengatakan sosialisasi adalah pintu awal dalam program, selanjutnya akan diadakan pelatihan dramaturgi dan penyusunan naskah, pelatihan koreografi, gerak silek dan tari, pelatihan musik pertunjukan dan tata artistik.
Kemudian penerapan teknologi digital dan produksi karya, pendampingan proses dan monitoring, evaluasi dan pertunjukan publik, serta strategi keberlanjutan.
