
Kolaborasi UNP & MGMP untuk peningkatan pedagogi guru geografi lewat OPTIC-SCRAP

Padang (ANTARA) - Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Universitas Negeri Padang (UNP), melakukan kolaborasi dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk peningkatan pedagogi guru geografi lewat OPTIC-SCRAP, di Kota Padang Panjang, Provinsi Sumatera Barat.
"Pembelajaran geografi terutama pada topik litosfer yang banyak menggunakan peta dan data geospasial, masih ditemukan siswa cenderung hanya melihat peta sebatas simbol dan warna, tanpa benar-benar memahami makna yang terkandung di dalamnya, kata Ketua Tim Pengabdi,
Bigharta Bekti Susetyo, M.Pd, di Padang, Kamis.
Ia menjelaskan proses belajar seperti itu, membuat siswa hanya sekadar mengingat informasi, bukan menganalisis lebih jauh.
Padahal, geografi menuntut siswa untuk mampu berpikir kritis, analitis, dan sistematis, misalnya ketika membaca jenis batuan hingga patahan geologi pada peta, yang memiliki berbagai karakteristik didalamnya.
Ia menyebut kebutuhan Deep Learning dalam pembelajaran geografi, muncul karena banyak jawaban siswa ketika diberi soal berbasis peta masih singkat, belum berkembang dan masih belum tampak analisis spasial, yang erat dengan pisau analisis geografi.
Siswa sering mengalami kesulitan dalam menghubungkan pengetahuan yang sudah ada dengan informasi baru pada peta, sehingga penjelasan yang mereka tulis belum runtut dan kurang mendalam.
"Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran masih berada pada tingkat sederhana, sehingga perlu ada cara agar siswa bisa membaca, mengolah, dan memahami data spasial melalui alat bantu deskripsi dan bahan ajar seperti peta dengan lebih teliti," jelasnya.
Selain itu guru juga menghadapi tantangan karena bahan ajar geografi, seperti bahan ajar berupa peta, seringkali hanya digunakan sebagai pelengkap visual, bukan sebagai sarana untuk menganalisis.
Akibatnya, potensi peta dalam membantu siswa berpikir spasial, dan kritis tidak sepenuhnya dimanfaatkan.
"Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang mendorong siswa untuk membaca peta secara lebih mendalam, menyimpulkan informasi penting, lalu mengaitkannya dengan fenomena geografi yang nyata," lanjutnya.
Ia menjelaskan penerapan pembelajaran melalui OPTIC-SCRAP yang berbasis literasi spasial, membuat kendala dalam pembelajaran geografi dapat diatasi, melalui pendekatan yang sederhana dan relevan dengan materi yang dipelajari.
"Melalui penerapan ini, peserta didik dilatih untuk membaca, menafsirkan, serta menghubungkan informasi spasial dengan konsep geografi. Dengan demikian, proses belajar tidak hanya berhenti pada pengenalan simbol peta, tetapi juga berkembang pada pemahaman yang lebih mendalam terhadap fenomena geografi yang diwakili," sebutnya.
Pengabdian dilaksanakan lewat pelatihan dengan metode Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK), yang diintegrasikan dengan bahan ajar, berupa peta geologi yang digunakan dalam proses pembelajaran.
"Ini sebagai salah satu solusi untuk melatih literasi spasial, sehingga guru dan siswa mampu mengaitkan konsep geografi dengan informasi yang ditampilkan di bahan ajar," katanya.
Selain hal tersebut, pengabdian dielaborasi dengan pembelajaran team-based project.
Pendekatan literasi spasial OPTIC-SCRAP yang digunakan, diharapkan dapat meningkatkan kefokusan siswa, dalam mengamati dan membaca informasi, sekaligus menumbuhkan minat mereka untuk memahami informasi spasial, sebagai bagian dari keterampilan berpikir geografis.
"Tujuan dari pengabdian ini, untuk penguatan kapasitas pedagogi guru dalam Geoactivity OPTIC -SCRAP, sebagai kerangka asesmen literasi spasial," sebutnya.
Dengan pendekatan ini, guru diharapkan mampu mengembangkan pembelajaran berbasis media peta, dan data geospasial yang kontekstual, serta mudah diakses oleh peserta didik.
Selain itu, kegiatan ini mendorong guru untuk mengintegrasikan konsep geospasial dalam pembelajaran litosfer, sehingga peserta didik dapat berlatih berpikir kritis, analitis, dan sistematis.
"Melalui penguasaan framework OPTIC-SCRAP, guru juga dapat melakukan asesmen literasi spasial secara lebih terarah, sekaligus berinovasi dalam menciptakan suasana belajar yang kreatif, menyenangkan, dan relevan dengan tuntutan pembelajaran abad ke-2," jelasnya.
Kegiatan pengabdian dilakukan secara daring dan luring. Untuk kegiatan daring telah dilakukan pada 16 Agustus lalu, dengan pemateri Ketua Tim Pengabdi, Bigharta Bekti Susetyo, M.Pd.
Materi yang disampaikan tentang pengenalan mengenai konsep OPTIC-SCRAP, yang dikaitkan dengan literasi spasial geografi.
Sedangkan materi Deep Learning disampaikan oleh Zaky Farid Lutfi, M.Pd.
Kegiatan dihadiri sekitar 25 guru MGMP Geografi, Kota Padang Panjang dan sekitarnya.
Sedangkan untuk kegiatan luring dilakukan pada 22 Agustus, bertempat di Kampus II MAN 2 Kota Padang Panjang (Islamic Center).
Kegiatan berfokus pada pelatihan menggunakan peta geologi, dengan modul pendekatan literasi spasial berbasis OPTIC-SCRAP, yang disampaikan oleh Ketua Tim dan pemateri Dipo Caesario, S.T., M.T.
Kegiatan diawali dengan pemahaman terhadap prosedur pembelajaran yang akan dilaksanakan, kemudian dilanjutkan dengan aktivitas OPTIC-SCRAP (merancang aktivitas kelas, visualisasi tugas dan asesmen spasial), menggunakan peta geologi yang dipandu oleh tim pengabdi.
Pada kegiatan tersebut juga melibatkan dua mahasiswa, yakni Rino Wahyudi dan Gita Marlina, dari Departemen Geografi FIS UNP, untuk pengalaman lapangan dan melatih kepekaan permasalahan yang terjadi di lapangan.
"Semua kegiatan yang dilakukan dirancang terstruktur, terukur dan berdampak, yang dilatar belakangi untuk selalu berkolaborasi, antar unsur stakeholder pendidikan, demi mewujudkan sustainable development goals dalam berinovasi menghadirkan pendidikan yang berkualitas," jelasnya.
Menurunya pembelajaran semakin relevan, kontekstual dan efektif dengan perkembangan teknologi terkini. Siswa dapat berlatih berpikir spasial, kritis, kreatif, kolaboratif dan komunikatif dengan pendekatan OPTIC- SCRAP.
Dengan pendekatan ini, proses belajar lebih menyenangkan, kontekstual, dan membuat siswa bersentuhan langsung dengan media pembelajaran berbasis peta dan data geospasial.
Sedangkan guru dapat memberikan umpan balik kepada tim pengabdi, untuk menyempurnakan pengembangan media dan modul, serta keberlanjutan kegiatan pengabdian di masa mendatang.
Ia berharap kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang sudah dilakukan, membawa banyak manfaat.
Pewarta: Melani Friati
Uploader: Jefri Doni
COPYRIGHT © ANTARA 2026
