Logo Header Antaranews Sumbar

Pemkab Pasaman perkuat sinergi lintas sektor penurunan prevalensi stunting

Selasa, 19 Agustus 2025 18:41 WIB
Image Print
Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Pemkab Pasaman Parulian Dalimunte yang juga Wakil Bupati Pasaman saat memimpin rapat koordinasi percepatan penurunan prevalensi stunting di aula lantai III Kantor Bupati Pasaman, Selasa (19/8/2025).ANTARA/Heri Sumarno

Lubuk Sikaping (ANTARA) - Tim percepatan penurunan stunting Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasaman, Sumatera Barat perkuat sinergitas lintas sektor untuk penurunan prevalensi stunting didaerah setempat.

Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Pemkab Pasaman Parulian Dalimunte mengatakan penurunan prevalensi stunting jadi peran semua sektor OPD, pemerintah kecamatan hingga nagari (desa) pemangku kepentingan lainnya.

"Hari ini kita laksanakan rapat koordinasi (rakor) dengan lintas sektor OPD, kecamatan hingga nagari dalam percepatan penurunan prevalensi stunting di Pasaman. Kita harapkan semua satu misi dan kerja nyata dalam pelaksanaan di lapangan," ungkap Parulian Dalimunte yang juga Wakil Bupati Pasaman saat ini.

Menurut Wabup Parulian, penurunan stunting ini harus dilaksanakan secara holistik, integratif dan berkualitas melalui sinergi dan koordinasi lintas sektor.

"Berbagai program inovasi diharapkan muncul dari lintas sektor sehingga dapat mendongkrak peningkatan layanan kesehatan dan penurunan prevalensi stunting di Pasaman," tambahnya.

Parulian juga menekankan bahwa jajaran tim percepatan akan selalu berperan secara efektif, konvergen dan terintegratif dengan melibatkan lintas sektor terkait.

"Kita terus melaksanakan penajaman strategi intervensi dari hulu melalui kegiatan prioritas pencegahan lahirnya anak stunting. Mengoptimalkan peran tim pendamping keluarga yang sudah ada di masing-masing nagari," katanya.

Saat ini kata dia terus berjalan tim pendampingan terhadap keluarga atau terindikasi melahirkan bayi stunting dengan memberikan paket makanan bergizi.

"Memberikan pendampingan kepada calon pengantin, ibu hamil, pasca melahirkan dan keluarga yang memiliki anak usia 0-5 tahun. Melakukan pendampingan ketersediaan asupan gizi anak, pola asuh dan meningkatkan akses layanan kesehatan serta akses sanitasi dan air bersih," katanya.

Hingga saat ini data terakhir hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 yang dirilis bulan Mei 2025, menunjukan bahwa angka prevalensi stunting di Kabupaten Pasaman di angka 29,1 persen.

"Turun 0,3 persen dari data sebelumnya 29,4 persen. Angka tersebut masing tergolong tinggi dibandingkan target nasional 19,8 persen. Ini tentu akan jadi konsentrasi dan kerja serius kita bersama dengan lintas sektor agar angka prevalensi stunting bisa ditekan," katanya.

Pemkab Pasaman kata dia akan terus berupaya bersama lintas sektor agar angka prevalensi stunting bisa diatasi dari hulu hingga hilir.

Disisi lain, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Pasaman Furqan mengatakan terus melaksanakan upaya bersama untuk menyatukan langkah dan strategi dalam menekan angka prevalensi stunting di Pasaman.

"Kita laksanakan loka karya mini (lokmin) stunting di kecamatan. Program Gerakan orang tua asuh cegah stunting dan pendampingan keluarga beresiko stunting (Genting) oleh tim pendamping keluarga yang terdiri dari bidan desa, kader PKK dan kader KB," jelas Furqan.

Menurut Furqan stunting bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga menyangkut masa depan generasi penerus bangsa.

“Anak-anak kita adalah aset berharga bangsa. Jika mereka tumbuh sehat, cerdas, dan kuat, maka Pasaman akan memiliki generasi emas yang siap membawa daerah ini menuju kemajuan. Penurunan stunting adalah investasi jangka panjang untuk masa depan,” tutupnya.



Pewarta:
Uploader: Jefri Doni
COPYRIGHT © ANTARA 2026