
Pemkab Pasaman Barat terapkan tekhnologi bioflok upaya tingkatkan produksi ikan tawar

Simpang Empat (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat melalui Dinas Perikanan mulai menerapkan tekhnologi bioflok ikan nila dalam upaya peningkatan produksi ikan tawar di daerah itu.
Menurut Kepala Dinas Perikanan Pasaman Barat Zulfi Agus di Simpang Empat, Jumat, tekhnologi bioflok dilakukan menyikapi permasalahan yang dialami oleh petani ikan tawar saat ini.
"Sistem bioflok merupakan pendekatan modern yang mengandalkan pengolahan limbah organik langsung dalam kolam budidaya dengan bantuan mikroorganisme," katanya.
Dia mengatakan saat ini permasalahan ketersediaan bibit dan harga pakan ikan relatif tinggi di pasaran yaitu Rp11.000 sampai Rp13.000 per kilogram.
Kondisi harga pakan yang tinggi ini, katanya, membuat masyarakat tidak tertarik berbudidaya ikan air tawar dan menyebabkan kurang terpenuhinya kebutuhan ikan di Pasaman Barat.
Saat ini, produksi budidaya perikanan air tawar mengalami penurunan. Dari data tahun 2024 dengan target produksi budidaya perikanan air tawar sebanyak 5.970 ton per tahun hanya mampu terealisasi sebanyak 4.782 ton per tahun.
"Sementara kebutuhan masyarakat untuk mengkonsumsi ikan, terutama ikan nila terus bertambah," katanya.
Untuk itu, pihaknya mulai menerapkan tekhnologi bioflok yang menguntungkan karena jumlah tebar ikan nila dapat dioptimalkan dalam wadah terbatas dimana airnya dikondisikan menjadi kaya mikroorganisme yang bermanfaat dalam menjaga kualitas air pemeliharaan sehingga kualitas nila tetap terjaga.
Selain untuk menjaga kualitas air, flok juga dimanfaatkan sebagai sumber pakan ikan nila sehingga pemakaian pakan menjadi berkurang.
"Keunggulan dari sistem bioflok yang digunakan menjadi alternatif pemecah masalah limbah budidaya dari sisa pakan dan kotoran, juga dapat menyediakan pakan tambahan sehingga dapat menaikan pertumbuhan dan efisiensi pakan," katanya.
Dia menjelaskan sistem ini memungkinkan efisiensi tinggi dalam penggunaan air dan pakan, serta peningkatan hasil produksi.
Dengan sistem dan teknologi bioflok ini maka kondisi yang diharapkan adalah produktivitas meningkat. Hasil panen lebih tinggi dibandingkan sistem konvensional karena bisa mencapai 2-3 kali lipat per meter persegi.
Lalu waktu panen lebih singkat, karena pertumbuhan ikan lebih cepat dengan kualitas pakan yang lebih baik dari bioflok.
Selain itu bisa mengefisiensi pakan karena mikroorganisme dalam flok menjadi sumber protein tambahan, mengurangi kebutuhan pakan buatan 20 sampai 30 persen.
"Penggunaan air lebih hemat karena sistem bioflok tidak memerlukan penggantian air secara rutin, hanya penambahan jika menguap atau diserap dan cocok untuk daerah dengan keterbatasan sumber air," katanya.
Keuntungan bioflok ini, katanya, juga ramah lingkungan karena Limbah organik tidak dibuang, tetapi diolah menjadi pakan alami oleh bakteri baik.
Juga mengurangi pencemaran lingkungan dan menjaga kualitas air kolam lebih stabil.
"Sistem ini bisa meningkatkan pendapatan petani dengan biaya produksi lebih efisien dan panen lebih besar, laba bersih meningkat. Membuka peluang wirausaha budidaya skala rumah tangga serta meningkatkan keterampilan petani dalam manajemen kualitas air, fermentasi pakan, dan pengendalian penyakit," sebutnya.
Pihaknya juga telah melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada petani tentang budidaya bioflok ini yang didukung olen surat keputusan Bupati Pasaman Barat.
"Saat ini bioflok yang aktif itu baru dua dan target kedepan di 11 kecamatan akan dibentuk," harapnya.
Program ini juga menjadi inovasi yang akan disampaikan saat Pendidikan dan Latihan (Diklat) Kepemimpinan Nasional Tingkat II Angkatan II tahun 2025 oleh Pusat Pengembangan Kompetensi Kepemimpinan Nasional dan Manajerial Aparatur Sipil Negara Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia.
Pewarta: Altas Maulana
Uploader: Jefri Doni
COPYRIGHT © ANTARA 2026
