
Upaya swasembada pangan, SP3BESI dilaksanakan di Pasaman Barat

Simpang Empat (ANTARA) - Beras merupakan pangan pokok mayoritas rakyat Indonesia saat ini. Penyediaan beras harus tetap dijaga dan ditingkatkan dengan upaya menjamin produksi padi yang berkelanjutan melibatkan semua pihak.
Dengan segala macam kendala yang dialami petani saat ini harus mampu dicarikan solusinya agar kedaulatan pangan terus terjaga dalam mewujudkan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk mewujudkan Indonesia Emas mencapai swasembada pangan, energi dan air.
Hal itu sejalan dengan visi jangka menengah Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat tahun 2021-2026 adalah "Mewujudkan Pasaman Barat yang Bermartabat, Agamais, Maju dan Sejahtera".
Untuk itu, pengelolaan perpadian (perberasan) memerlukan perhatian khusus dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dengan berkolaborasi meningkatkan produksi padi.
Pemkab Pasaman Barat melalui Dinas Tanaman Pangan Holtikultura saat ini telah memulai program Strategi Peningkatan Produksi Padi Berbasis Kolaborasi (SP3BESI) sebagai terobosan untuk meningkatkan produksi padi melalui pendekatan berbasis kolaborasi antara petani, dinas dan stakeholder di Pasaman Barat mulai dari hulu sampai hilir.
"Upaya mendukung ketahanan pangan terutama meningkatkan produksi padi tidak hanya bisa dilakukan oleh Dinas Tanaman Pangan Holtikultura saja. Tetapi semua pihak harus memiliki komitmen berkolaborasi karena keberadaan padi begitu fundamental bagi rakyat Indonesia," kata Bupati Pasaman Barat Yulianto.
Permasalahan dan Kondisi
Produksi padi yang tidak optimal akibat adanya permasalahan mulai dari pertanaman, pemeliharaan sampai pemasaran.
Saat musim tanam dibutuhkan alat mesin pertanian yang membantu petani sehingga tenaga, waktu dan biaya lebih efisien.
Selama pertumbuhan padi perlu pemeliharaan tanaman agar terhindar dari serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sehingga diharapkan hasil panen meningkat bahkan dapat mewujudkan swasembada pangan.
Setelah panen dibutuhkan tempat penampungan hasil panen dengan harga yang bagus diharapkan pendapatan petani meningkat.
Pemenuhan kebutuhan dan ketersediaan pangan bagi masyarakat menuju ketahanan pangan Kabupaten Pasaman Barat dapat dilaksanakan dengan meningkatnya produksi pertanian tanaman pangan dan hortikultura yang dihasilkan.
Menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura Pasaman Barat Doddy San Ismail penyebab terjadinya permasalahan ketersediaan padi diantaranya adalah belum optimalnya produksi dan produktivitas pertanian tanaman pangan, tingginya laju konversi lahan pertanian ke non pertanian dan
Serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) tidak terkendali.
Lalu juga masih terbatasnya akses petani ke permodalan dan teknologi, masih kurangnya kualitas sumber daya manusia petani serta menurunnya kesuburan tanah.
Potensi pertanian yang ada di Kabupaten Pasaman Barat terdiri dari lahan sawah seluas 8.873 hektare, produksi padi tahun 2024 sebesar 88.414 ton gabah atau sejumlah 51.192 ton beras dengan rata-rata produktivitas 4,65 ton per hektare
Dengan rata-rata konsumsi beras penduduk Pasaman Barat sebesar 50.406 ton pertahun maka tersedia beras untuk masyarakat Pasaman Barat untuk setahun saja.
Indeks pertanaman (IP) rata-rata masih satu sampai dua sehingga masih berpotensi untuk dioptimalkan lagi.
Selain itu, yang menyebabkan IP rendah adalah sumberdaya petani masih rendah dalam menerapkan teknologi budidaya padi sawah.
Permasalahan lain yang menyebabkan produksi rendah adalah adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang mengakibatkan gagal panen.
Juga lahan sawah yang ada semakin lama akan semakin berkurang akibat laju konversi lahan yang tinggi.
Untuk mengantisipasinya Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Pasaman Barat sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Nomor 5 Tahun 2023 diharapkan tidak terjadi lagi alih fungsi lahan namun implementasi dikalangan masyarakat masih rendah atau belum berjalan efektif.
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi padi adalah meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait serta bersama-sama mendampingi petani dalam meningkatkan produksi, melakukan pengawalan petani dimulai dari penyediaan benih bersertifikat, pupuk bersubsidi, penggunaan tekhnologi, pengendalian serangan OPT.
Juga pembekalan kepada penyuluh dan petani sangat diperlukan, kemudian implementasi Perda LP2B di kalangan masyarakat dapat mengatasi tingginya laju alih fungsi lahan.
"Penerapan Good Agricultural Practice (GAP) dan Good Handling Practice (GHP) dapat meningkatkan nilai tambah produksi sehingga pendapatan petani meningkat," kata Doddy.
Dalam melaksanakan berbagai upaya itu diperlukan sinergi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan produksi padi melalui dukungan benih bersertifikat berkolaborasi dengan Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Sumbar agar hasil padi lebih tinggi.
Juga pelatihan tekhnologi tanaman padi sawah bagi kelompok tani sesuai GAP dan GHP berkolaborasi dengan Badan Riset Mekanisasi Pertanian (BRMP) Provinsi Sumbar sehingga petani dapat menjual padi dengan harga tinggi.
Diadakannya pelatihan pengendalian OPT bagi kelompok tani berkolaborasi dengan Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Sumbar sehingga tidak terjadi gagal panen.
Peningkatan sumber daya manusia (SDM) petani pada kegiatan pasca panen agar hasil produksi bisa meningkat harga jualnya melalui pendampingan dari Unversitas Andalas Padang.
"Kita juga berkolaborasi dengan PLN melalui pengunaan huller listrik yang memberikan manfaat mengurangi biaya Bahan Bakar Minyak (BBM), efisiensi waktu dan tenaga, ramah lingkungan dan tidak bising.

Langkah Strategis Yang Dilakukan
Sebagai tahap awal untuk mewujudkan program itu, Dinas Tanaman Pangan Holtikultura telah melakukan langkah-langkah strategis.
Diawali dengan pembentukan surat keputusan tentang kelompok kerja Strategi Peningkatan Produksi Padi Berbasis Kolaborasi (SP3BESI)
Setelah itu berkolaborasi dengan stakeholder dalam peningkatan produksi melalui Sawah Pokok Murah (SPM).
Kegiatan telah diperkenalkan dan telah terapkan di Pasaman Barat melalui Kelompok Tani Tirto Sari Kecamatan Luhak Nan Duo pada 28 Mei 2025.
Sistem penerapan budidaya Padi Sawah SPM ini dapat menghemat pemakaian benih dan sarana produksi lainnya, mencapai 60 persen lebih dan menghemat biaya pengolahan lahan.
DPTPH Sumbar juga memberikan pendampingan POPT dan bantuan pompanisasi.
BMRP dan Unand Padang memberikan pendampingan kepada petani. Upaya ini sejalan dengan kebijakan Pemprov Sumbar dalam meningkatkan ketahanan pangan daerah, khususnya komoditas padi yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat.
Melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan unsur pemerintah daerah, penyuluh, kelompok tani, pihak swasta, serta akademisi maka SP3BESI dapat menjadi model percepatan peningkatan produksi padi yang efektif dan berkelanjutan.
Dalam penerapan teknologi pascapanen pertanian pihaknya juga telah berkolaborasi dengan Fakultas Teknologi Universitas Andalas Padang berupa pendampingan terhadap petani.
Salah satunya dengan memberikan pengetahuan penanganan pascapanen kepada petani cara meningkatkan nilai hasil produksi pertanian sehingga dapat menjual dengan harga lebih tinggi.
Tujuan utamanya adalah mengurangi kerusakan produk pertanian setelah panen, meningkatkan kualitas produk pertanian dengan meminimalkan kehilangan dan kerusakan serta meningkatkan efisiensi dalam proses pengolahan dan penyimpanan produk pertanian.
Juga melaksanakan forum peningkatan ketahanan pangan dengan huller listrik atau mesin penggiling padi yang menggunakan tenaga listrik berkolaborasi dengan PLN.
Kolaborasi antara petani, pelaku usaha RMU, dan PLN melalui pemanfaatan heller listrik benar-benar membawa dampak positif dalam rantai produksi padi.
Selama ini, proses pengeringan gabah dengan mesin berbasis BBM sering terkendala oleh sulitnya pasokan dan mahalnya harga bahan bakar.
Kehadiran listrik PLN sebagai sumber energi untuk pengoperasian heller menjadi solusi nyata dan efisien.
Penggunaan heller listrik tidak hanya lebih hemat biaya, tetapi juga ramah lingkungan dan meningkatkan kapasitas pengeringan secara signifikan.
"Dengan adanya huller listrik ini kami sangat terbantu dan hemat biaya," kata salah seorang petani di Pasaman Barat Lego Priono (48).
Doddy San Ismail mengharapkan program SP3BESI dapat meningkatkan produksi padi dan kesejahteraan petani, sekaligus mendukung swasembada pangan nasional.
"Kolaborasi dan dukungan semua pihak sangat dibutuhkan untuk keberhasilan program ini kedepannya," harapnya.(***)

Pewarta: Altas Maulana
Uploader: Jefri Doni
COPYRIGHT © ANTARA 2026
