
Akademisi ingatkan pentingnya komunikasi dokter-pasien hindari konflik

Padang (ANTARA) - Akademisi sekaligus ahli hukum kesehatan dari Universitas Andalas (Unand) Sumatera Barat Yussy Adelina Mannas mengingatkan pentingnya menjaga pola komunikasi yang baik antara dokter dengan pasien untuk menghindari terjadinya konflik.
"Kalau kita bicara hubungan dokter dan pasien, sama artinya kita bicara dengan manusia yang sakit atau tidak sehat," kata Yussy Adelina Mannas di Padang, Kamis.
Hal tersebut disampaikan Yussy menanggapi dugaan penganiayaan dua orang dokter magang di salah satu puskesmas di Lampung Barat oleh dua orang pasien.
Menurut dia, seseorang yang tidak sehat (pasien) maka kondisi psikologisnya tidak bisa disamakan dengan orang normal atau sehat. Oleh karena itu, faktor komunikasi antara dokter dengan pasien sangat penting untuk diperhatikan guna menghindari terjadinya konflik dan sebagainya.
Apalagi, kata dia, orang yang dalam keadaan sakit bisa saja mengalami tekanan (under presure), takut, gelisah, dan segala macam, bahkan tidak bisa merespons sesuatu dengan baik layaknya orang normal (sehat).
"Itu harus dipahami dalam berkomunikasi dengan pasien. Pasien ini orang yang sedang sakit, jadi perlu tata cara komunikasi tersendiri," kata dia.
Jika merujuk pada aspek keilmuan hukum kesehatan, ujarnya, maka terdapat beberapa pola komunikasi antara dokter dengan pasien.
Ia menerangkan dari beberapa kasus yang terjadi, faktor komunikasi yang tidak tepat antara dokter dan pasien cukup mendominasi munculnya permasalahan tersebut.
"Misalnya miskomunikasi, komunikasi yang tidak dua arah atau ada dokter sudah menjelaskan, namun banyak istilah kesehatan yang tidak dipahami pasien sehingga komunikasi tidak timbal balik," kata Yussy.
Pewarta: Muhammad Zulfikar
Uploader: Jefri Doni
COPYRIGHT © ANTARA 2026
