Penjelasan BMKG penyebab bencana alam di Sumbar

id BMKG,bencana alam di sumbar,cuaca sumbar

Penjelasan BMKG penyebab bencana alam di Sumbar

Warga melintasi banjir di Korong Kasai, Nagari Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Selasa (24/1/2023). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/rwa.

Parik Malintang (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan tingginya curah hujan yang menyebabkan bencana di sejumlah daerah di Sumatera Barat (Sumbar) pada Senin (23/1) disebabkan ada belokan angin dengan kecepatan 18 knots dari Samudra Hindia.

"Angin tersebut mendorong awan-awan hujan dari perairan menuju daratan. Hal ini yang mendorong hujan merata di Sumbar dengan intensitas lebat dan sangat lebat," kata Kepala Stasiun Klimatologi Sumbar Heron Tarigan di Padang, Selasa.

Ia mengatakan dari citra kondisi awan yang terbentuk memiliki suhu yang dingin berwarna jingga hingga krem yang berpotensi menyebabkan terjadinya hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat dengan durasi yang lebih lama.

Awan-awan yang terbentuk di Samudera Hindia tersebut terdorong terus oleh adanya angin yang cukup kencang sekitar 18 knot pada lapisan 925 Hpa dengan arah berbelok menuju ke daratan pulau Sumatera.

Baca juga: Bencana banjir dan longsor dilaporkan tewaskan dua orang di Padang Pariaman

Baca juga: Padang Pariaman dilanda banjir dan longsor


Pemanasan suhu muka laut di pagi hingga siang hari membentuk awan-awan konvektif (rendah). Awan rendah tersebut (cumulus dan cumulonimbus) terkonsentrasi sangat tebal pada pukul 13.00 WIB di Kota Padang, Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan dengan intensitas hujan sangat lebat atau hujan ekstrem.

Ia juga mengungkapkan terkait dengan hujan yang terjadi di Padang Pariaman khususnya di Kecamatan 2x11 Kayu Tanam merupakan hujan dengan intensitas paling tinggi sepanjang 38 tahun terakhir dengan curah hujan 251,6 milimeter.

Hujan dengan intensitas tinggi kedua di kecamatan tersebut terjadi pada 22 September 2022 dengan curah hujan 239,6 milimeter. Pada 30 Januari 2004 juga pernah terjadi hujan ekstrem dengan curah hujan 235 milimeter.

Sebelumnya Lima daerah di Sumatera Barat diterjang banjir dan tanah longsor akibat tingginya curah hujan yang mengguyur sejak Senin (23/1) siang hingga Selasa (24/1) dini hari.

"Ada lima daerah yang melaporkan kejadian bencana masing-masing Agam, Padang Pariaman, Padang dan Pesisir Selatan dan Mentawai. Hingga pagi ini personel BPBD daerah setempat terus memantau situasi," kata Kepala Pelaksana BPBD Sumbar, Jumaidi di Padang.

Sejumlah masyarakat terdampak banjir tadi malam juga sempat mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena khawatir air terus naik ke pemukiman, namun pagi ini sebagian besar sudah kembali ke rumah masing-masing.

Baca juga: Polri siapkan Operasi Aman Nusa II hadapi ancaman bencana di tahun 2023

Baca juga: BPBD Padang Pariaman catat 44 kejadian bencana selama dua hari


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BMKG: Curah hujan tinggi akibat belokan angin dari Samudra Hindia
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2023