Menunggu kereta gantung bangkitkan pariwisata Sumatera Barat

id kereta gantung,ekonomi sumbar,pariwisata sumbara

Menunggu kereta gantung bangkitkan pariwisata Sumatera Barat

Ilustrasi kereta gantung (cable car) di pengunungan Switzerland. (pixabay.com)

Jakarta (ANTARA) - Pariwisata adalah salah satu sektor penting dalam pembangunan ekonomi Sumatera Barat yang diharapkan menjadi industri dan salah satu basis pembangunan Sumatera Barat untuk lima tahun mendatang di samping pertanian.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Pemprov Sumatera Barat 2021-2026, sektor pariwisata memiliki misi tersendiri yaitu meningkatkan ekonomi kreatif dan daya saing kepariwisataan.

Oleh karena itu, pembenahan destinasi wisata baik lokal maupun internasional perlu dilakukan pembenahan. Strategi pembenahan yang direncanakan adalah meningkatkan atraksi, aksesibilitas dan amenitas di destinasi wisata.

Selanjutnya, mengembangkan objek wisata yang bersifat unik dan spesifik, mengajak sektor swasta untuk berperan dalam investasi dan pengembangan destinasi pariwisata, meningkatkan peran masyarakat pengelolaan pariwisata

Salah satu atraksi wisata yang ditawarkan kepada Investor untuk dibangun di Sumatera Barat adalah wahana kereta gantung (skylift/cabel car/sky pass). Kereta gantung adalah sebuah gandola yang menggantung dan berjalan menggunakan kabel.

Jalur kereta gantung umumnya berupa garis lurus dan hanya dapat berbelok pada sudut yang kecil yang ada pada stasiunnya. Awalnya kereta gantung digunakan pada tempat-tempat wisata seperti Taman Mini Indonesia Indah, Taman Impian Jaya Ancol, Pulau Kumala, dan lain sebagainya.

Di negara-negara maju skylift atau sky cable mudah di temui di daerah bersalju, daerah pegunungan, atau taman hiburan, bahkan kini telah juga digunakan untuk transportasi umum di daerah perkotaan.

Kereta gantung memiliki disain teknologi yang sederhana namun aman jika dibanding dengan monorel, biaya investasinya jauh lebih murah. Satu kabin bisa memuat 4-12 orang penumpang.

Namun kereta gantung juga memiliki jenis kabin yang kapasitasnya lebih besar yang mampu mengangkut sampai dengan 150 penumpang. Kapasitas kereta gantung dapat mencapai 3.000 penumpang per jam dengan kecepatan 4-6 meter per detik.

Jika kereta gantung dibangun di Kawasan Puncak Lawang, Maninjau, atau di Kawasan Danau Kembar Gunung Talang, Kabupaten Solok, asumsi spesifikasinya satu kabin direncanakan akan menampung 6 orang dengan 1 orang kabin service. Jarak tempuh satu putaran akan melewati 2,85 km selama 20 menit jika kecepatan ada pada 5 meter per detik.

Diapungkannya ide mengenai Skylift/kereta gantung tidak lepas dari beberapa pertimbangan. Di pulau Sumatera belum ada wahana kereta gantung.

Dibangunnya Skylift di Sumatera Barat akan menjadi atraksi wahana yang unik pertama yang melintasi kawasan geopark yang sejuk dan indah sehingga dapat menjadi destinasi wisata primadona di Sumatera Barat. Wahana kereta gantung dapat menjadi alternatif sarana transportasi bagi wisatawan sekaligus menikmati pemandangan pada sudut pandang 360 derajat.

Geopark

Pembangunan wahana yang unik dan pertama di Sumatera ini diharapkan akan menarik minat wisatawan terutama dari kawasan Sumatera dengan potensi indahnya kawasan Geopark Sumatera Barat.

Terakhir, kelak hadirnya atraksi wisata Skylift akan menjadi multiplier effect pada terbukanya lapangan kerja, meningkatnya aktivitas UKM, terbukanya peluang investasi di sektor hotel dan restoran, serta meningkatnya daya tarik wisata Sumbar secara keseluruhan.

Ada dua alternatif lokasi yang potensial sebagai kawasan pembangunan atraksi wisata Skylift yaitu Kawasan Talang dan Maninjau. Kawasan Talang yang terletak di Kabupaten Solok berada di ketinggian 2.597 mdpl, bersuhu sangat sejuk dan memiliki pemandangan yang istimewa karena dari atas kita dapat menikmati pemandangan 5 buah danau sekaligus.

Kawasan Maninjau juga tidak kalah potensial untuk pembangunan Skylift. Dari ketinggian di Puncak Lawang kita dapat menyaksikan indahnya hamparan sawah dan bentangan danau Maninjau yang menyejukkan hati.

Kawasan Talang memiliki potensi di mana jarak tempuh dari kota Padang yang cukup dekat. Kawan ini juga merupakan kawasan Geopark yang juga telah memiliki area-area perkemahan, paragliding dan bike mountain.

Terdapat juga sumber air panas alami, kebun teh kualitas premium, dan keanekaragaman flora yang penuh warna. Kawasan Gunung Talang sangat cocok bagi wisatawan pencinta alam yang menyenangi relaksasi dengan pemandangan alami, terapi kesehatan dengan air hangat vulkanis, pencinta realfood buah sayur organik, pencinta teh, dan pencinta olahraga alam yang cukup menantang.

Sementara itu, Maninjau juga memiliki banyak kelebihan untuk menjadi kawasan atraksi Skylift. Jarak tempuh yang tidak terlalu jauh dari kota Padang dan juga dekat dengan kota Bukittinggi. Maninjau juga merupakan Geopark dan kawasan KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) yang bersuhu sejuk.

Kawasan ini juga merupakan kawasan wisata sejarah di mana merupakan tanah kelahiran Buya Hamka. Kawasan Maninjau sebenarnya sudah popular oleh wisatawan mancanegara akan sejarahnya, sunset yang indah di danau, dan kuliner yang unik dan lezat.

Kedekatan Maninjau dengan kota Bukittinggi juga menjadi nilai plus di mana wisatawan tidak hanya akan menikmati cantiknya alam Maninjau sebagai Geopark, namun juga dekat dengan akses belanja, wisata sejarah, dan kebun binatang.

Bukittinggi adalah kota yang cukup terkenal di Sumatera sebagai pusat perbelanjaan tekstil terlengkap, dan terkenal di mancanegara akan banyaknya peninggalan-peninggalan zaman kolonial Belanda dan Jepang.

Di dalam analisa pasar, wahana Skylift atau kereta gantung pertama di Sumatera Barat, akan di dukung oleh akses transportasi Tol Trans Sumatera yang saat ini sedang dalam proses pembangunan.

Tol ini akan menjadikan jarak tempuh ke destinasi menjadi semakin singkat dan murah. Dengan keberadaan Tol trans Sumatera, pariwisata Sumatera Barat dapat melebarkan bidikan potensi wisatawan dari Sumatera Selatan, Riau, Jambi, dan Bengkulu.

*) Medi Iswandi adalah Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumbar
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2021