Banyak PNS Bukittinggi pasang foto Wako digambar profil medsosnya, ini kata pegiat media

id berita bukittinggi,berita sumbar,medsos

Banyak PNS Bukittinggi pasang foto Wako digambar profil medsosnya, ini kata pegiat media

Profil di medsos yang ramai diperbincangkan. (Antarasumbar/Al Fatah)

Contoh wartawan, profesinya mengamanahkan untuk menyampaikan berita, kalau asam lambung naik, ia lebih pilih makan dulu, baru menulis berita,
Bukittinggi (ANTARA) - Hampir seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemkot Bukittinggi serentak mengganti foto profil mereka dengan gambar Wali Kota (Wako) setempat Erman Safar di media sosial, gambar tersebut begitu seragam dengan disertai tulisan “Tidak Loyal adalah Bibit Seorang Penghianat” .

Tidak hanya di WhatsApp, langkah itu juga dilakukan di Facebook dan Instagram, sikap para PNS tersebut kini hangat diperbincangkan, sejumlah grup medsos pun dibanjiri komentar netizen, banyak yang mengapresiasi, tapi tidak sedikit pula yang mencibir.

“Serangkaian kata-kata yang disertai gambar atau foto adalah produk komunikasi, ada pesan yang ingin disampaikan seorang komunikator kepada komunikan. Chanel yang dipakai adalah medsos, apa efek komunikasi yang ditimbulkan, ini tentu perlu kajian,” kata pemerhati Ilmu Komunikasi, Rifa Yanas di Bukittinggi, Kamis.

Ia mengatakan pendapatnya tentang adanya penguatan branding imej, yaitu peluncuran suatu produk komunikasi dimaksudkan untuk membangun citra positif.

Penggunaan new media oleh pemerintah, kata dia merupakan cara efektif dalam pembentukan wacana publik, menurutnya ini adalah jalan singkat untuk memutus siklus hubungan tradisional antara pengambil keputusan dengan publik.

“Bayangkan saja kalau seandainya pemerintah harus menempuh cara-cara lama dalam membangun wacana, prosesnya bisa panjang dan melelahkan,” kata Rifa Yanas yang juga Ketua Forum Jurnalis Keterbukaan Informasi Publik (FJKIP) Bukittinggi itu.

Ditanyakan tentang pesan yang ingin disampaikan oleh Pemkot Bukittinggi tentang kata-kata loyalitas dalam bingkai foto wali kota, menurutnya berpotensi memunculkan beragam persepsi.

“Berbicara loyalitas, saya jadi ingat sepakbola, bursa transfer pemain yang ditutup awal September 2021 menjadi ajang patah hati para fans, misalnya fans Barcelona patah hati ketika Lionel Messi berlabuh ke PSG, tidak sedikit fans yang memberi cap, Messi tidak loyal,” tuturnya.

Pria berkacamata ini menambahkan bahwa loyalitas seringkali dijadikan acuan kebersamaan, satu komando, senasib sepenanggungan, serta identik dengan kesetiaan, tidak loyal akan mudah dicap penghianat, bahkan tukang selingkuh.

Peraih Penghargaan Bawaslu Award 2019 itu menjelaskan, kata-kata loyal, juga sering disandingkan dengan rasionalitas dan objektivitas, misalnya orang bisa disebut berpikir rasional ketika menjatuhkan pilihan pada yang ia sukai, atau penting bagi kehidupannya.

“Contoh wartawan, profesinya mengamanahkan untuk menyampaikan berita, kalau asam lambung naik, ia lebih pilih makan dulu, baru menulis berita, tentu bukan berarti wartawan ini tidak loyal pada profesinya tapi ia bertindak rasional, tidak ada berita seharga nyawa,” katanya.

“Tidak hanya di dunia korporasi, di lingkungan pemerintahan bisa juga demikian, bawahan yang takut kehilangan pangkat dan jabatan, takut kehilangan fasilitas dan tunjangan, tuntutan ekonomi keluarga, mereka akan bertindak rasional dan objektif, karena itu dalam politik dikenal istilah tidak ada lawan dan kawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan abadi,” tegasnya.

Lulusan pascasarjana Ilmu Komunikasi Unand ini menambahkan, setiap pesan komunikasi yang digaungkan pemerintah sudah pasti menimbulkan reaksi publik.

Sementara seorang Jurnalis senior di Bukittinggi, Wahyu Sikumbang mengatakan adalah hal biasa jika seorang bawahan mengikuti arahan dari pimpinan dalam sistem pemerintahan atau komando di instansi manapun.

"Harus, bawahan harus patuh pada atasannya, seperti polisi atas arahan Kapolri, ASN Bukittinggi atas arahan wali kota, saya rasa itu pas sudah dijalurnya," kata Wahyu.

Menurutnya, setiap orang atau warga yang ingin mempermasalahkan itu adalah hak mereka masing-masing.

"Saya fikir ini bukan suatu hal aneh yang harus difikirkan, ada banyak hal yang lebih penting yang harus dikawal dan diperhatikan," kata dia.

Pewarta :
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2021