Minimalkan jumlah korban dengan struktur bangunan aman gempa, kata guru besar Unand

id berita padang,berita sumbar,gempa

Minimalkan jumlah korban dengan  struktur bangunan aman gempa, kata guru besar Unand

Orasi ilmiah dan pengukuhan  Guru besar Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand) Padang Prof Jafril Tanjung  di Padang, Kamis (24/6). (Antara/HO-Unand)

Belajar dari berbagai kejadian gempa yang terjadi, robohnya bangunan disebabkan karena kesalahan pada struktur bangunan sehingga ada slogan yang menyatakan bukan gempanya tapi bangunannya,
Padang (ANTARA) - Guru besar Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand) Padang, Prof Jafril Tanjung mengemukakan struktur bangunan yang aman gempa akan mampu meminimalkan korban manusia ketika gempa terjadi.

"Belajar dari berbagai kejadian gempa yang terjadi, robohnya bangunan disebabkan karena kesalahan pada struktur bangunan sehingga ada slogan yang menyatakan bukan gempanya tapi bangunannya," kata dia di Padang, Kamis.

Ia menyampaikan hal itu pada orasi ilmiah pengukuhan sebagai guru besar tetap dalam Ilmu Analisa Struktur pada Fakultas Teknik Unand dengan judul Peranan Analisis Struktur Dalam Mengevaluasi Dampak Bencana Gempa Bumi Terhadap Struktur Bangunan.

Menurut dia berdasarkan penelitian yang dilakukan pada bangunan yang rusak akibat gempa terdapat sejumlah kesalahan sehingga dapat menjadi pelajaran berharga.

Pertama mutu beton yang digunakan relatif rendah, berupa keropos, tidak padat hingga penggunaan material batu pecah yang tidak memadai.

"Kemudian pemakaian semen yang kurang, serta air sembarangan, kondisi ini banyak dijumpai pada bangunan swadaya masyarakat dan yang tidak diawasi ahli bangunan," kata dia.

Kedua kerap ditemukan kurangnya tulangan baja yang digunakan mulai dari tulangan utama hingga tulangan geser atau sengkang.

Dalam banyak kasus dijumpai tidak mencukupi jumlah minimum yang disyaratkan dan saat gempa terjadi struktur menerima beban bolak balik sehingga menurunkan kinerja struktur bangunan.

Ia menyarankan pada daerah rawan gempa penggunaan tulangan ulir amat disarankan untuk tulangan utama dan geser karena daya rekat baja tulangan ulir ke beton relatif lebih baik dibandingkan tulangan polos.

"Penggunaan tulangan ulir membuat komponen struktur yang terdiri atas baja tulangan dan beton menjadi monolit dan lebih mampu menerima beban," ujarnya.

Lalu ia juga kerap menemukan hal yang luput dalam konstruksi adalah detailing penulangan pada sambungan antara balok dan kolom.

"Seringkali dijumpai kurangnya bahkan tidak ada penulangan geser pada sambungan balok dan kolom," kata dia.

Pada sisi lain, Jafril mengungkapkan pada 2016 hingga 2017 pihaknya mengobservasi pelaksanaan konstruksi bangunan di lima kota di Sumbar pada hampir 100 bangunan milik pemerintah dan masyarakat.

Hasilnya cukup mengejutkan, masih banyak pekerjaan konstruksi bangunan beton bertulang yang tidak mengikuti kaedah struktur bangunan aman dan ramah gempa.

"Walaupun pada bangunan pemerintah sudah relatif baik akan tetapi masih ada yang belum memenuhi kaedah aman gempa," kata dia.

Tak hanya itu ia juga menemukan sebagian besar pekerja konstruksi tidak punya pengetahuan yang memadai soal pengerjaan konstruksi beton bertulang yang aman gempa.

"Karena Sumbar adalah daerah rawan gempa salah satu solusi untuk meminimalkan korban adalah perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan struktur bangunan rekayasa sipil yang aman dan ramah gempa," katanya.

Pewarta :
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2021