Ini dideklarasikan ACT Padang untuk pembebasan Palestina dari Zionis Israel

id berita padang,berita sumbar,act

Ini dideklarasikan ACT Padang untuk pembebasan Palestina dari Zionis Israel

Perwakilan MUI Padang, Drs Johardi Dt. Bandaro Putiah membacakan isi deklarasi KKIPP yanh diikuti oleh Tim ACT dan beberapa komunitas yang hadir di Padang, Kamis. (Antarasumbar/Mutiara Ramadhani)

Melalui KKIPP ini, kita mulai bergerak menghimpun semua dukungan serta seluruh negara juga berkumpul, itu yang akan kita ajukan ke internasional bahwa kita sangat mendukung pembebasan Palestina,
Padang (ANTARA) - Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kota Padang bersama perwakilan MUI dan berbagai komunitas lainnya mendeklarasikan peluncuran Komite Kemanusiaan Internasional Pembebasan Palestina (KKIPP) untuk membebaskan Palestina dari segala bentuk penjajahan demi terwujudnya peradaban dunia yang lebih baik.

Ketua KKIPP Padang, Aan Saputra dalam kegiatan deklarasi komite tersebut di Padang, Kamis, mengatakan pembentukan komite ini merupakan gerakan awal di masyarakat dengan tujuan untuk terus mendukung pembebasan Palestina.

"Melalui KKIPP ini, kita mulai bergerak menghimpun semua dukungan serta seluruh negara juga berkumpul, itu yang akan kita ajukan ke internasional bahwa kita sangat mendukung pembebasan Palestina," kata dia.

Ia mengatakan sejauh ini antusiasme masyarakat dalam membantu Palestina sungguh luar biasa apalagi dengan adanya ambulan masyarakat Padang di negara tersebut membuat semua elemen masyarakat ingin membantu Palestina.

Oleh karena itu, lanjutnya, ACT mewadahinya dengan meluncurkan KKIPP untuk masyarakat menunjang pembebasan Palestina.

Langkah-langkah yang akan dilakukan oleh KKIPP yang pertama yakni dengan mengumpulkan dukungan atau petisi dari masyarakat bahwasanya banyak masyarakat yang mendukung Palestina.

Selanjutnya, seiring banyaknya massa yang dikumpulkan maka dukungan tersebut akan berlanjut ke lembaga internasional sebab komite tersebut tidak hanya digerakkan di Indonesia namun tersebar di negara-negara lain. Di Indonesia, KKIPP tersebar di 96 cabang.

Aan mengatakan tragedi kemanusiaan yang menimpa Palestina, terutama yang terjadi pada hari-hari terakhir di bulan Ramadan sungguh tidak manusiawi. Jika tragedi itu terus berlanjut, menurut dia bukan tidak mungkin peradaban di Palestina akan hilang.

“Selama 73 tahun Palestina dijajah, tidak ada langkah tegas dan konkret yang dilakukan otoritas politik dunia maupun pemangku kepentingan dunia untuk menyelesaikan permasalahan di Palestina. Maka, perlu masyarakat sipil dunia untuk menyudahi penjajahan ini," ujarnya.

Saat ini, lanjut Aan Saputra hampir dua per tiga dunia tengah melakukan demonstrasi menunjukkan pembelaan kepada Palestina. Ini merupakan modal besar yang jika dikelola dengan baik akan mengenyahkan penjajahan atas Palestina.

Sementara Dewan Penasehat KKIPP Sumbar, Zeng Wellf menerangkan bahwa KKIPP merupakan wadah perjuangan bagi berbagai elemen masyarakat dan beragam entitas untuk memperjuangkan kebebasan Palestina dengan langkah-langkah yang sistematis dan terorganisir.

"KKIPP bertekad mengajak seluruh kekuatan masyarakat, komunitas, NGO, dan yang lainnya baik di dalam maupun di global, mari kita wujudkan kemerdekaan Palestina," ucap Zeng.

Ia mengatakan KKIPP akan melakukan aksi dalam berbagai bidang untuk menyejahterakan warga Palestina, seperti aksi ekonomi, medis, pendidikan, hingga diplomasi, menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang diagendakan.

"Bersama-sama, kita akan mengorganisir dan mengelola setiap kekuatan elemen civil society untuk membebaskan rakyat Palestina dari kelaparan, memastikan mereka mendapat pelayanan kesehatan baik yang bersifat darurat maupun reguler," ujarnya.

Sekaligus, lanjutnya memastikan mereka dan keluarganya mendapat kehidupan dan pendidikan yang layak, serta juga memastikan bahwa kemerdekaan rakyat Palestina bisa diwujudkan secara de facto dan de jure.

Peluncuran KKIPP di Padang dideklarasikan oleh Perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Padang, Drs Johardi Dt. Bandaro Putiah.

Pewarta :
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar