Dari klaster ini berawal peningkatan COVID-19 di Padang

id berita padang,berita sumbar,covid

Dari klaster ini berawal peningkatan COVID-19 di Padang

Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Ferimulyani Hamid. (Antarasumbar/Ikhwan Wahyudi)

Dari 30 orang tersebut ternyata 25 anak positif dan akhirnya karena tidak mau ambil risiko, Dinas Kesehatan mengunjungi sekolah tersebut dan berkonsultasi dengan pengurus serta yayasan untuk melakukan tes usap massal,
Padang (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kota Padang mengungkap terjadinya peningkatan kasus COVID-19 di kota itu sehingga status Padang naik menjadi zona oranye dipicu oleh hasil penelusuran riwayat kontak di salah satu sekolah berasrama yaitu Perguruan Islam Ar Risalah.

"Dari akhir November 2020 hingga awal April 2021, kasus baru COVID-19 bisa dikendalikan namun memasuki pekan ketiga April kembali naik karena Dinas Kesehatan melakukan pemeriksaan masif di salah satu sekolah berasrama dan ditemukan banyak kasus positif," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Ferimulyani Hamid di Padang, Rabu.

Feri menceritakan awal mula temuan kasus ini berawal dari tiga siswa di sekolah tersebut yang pulang dijemput orang tua karena kondisinya demam dan setelah diperiksa ternyata positif COVID-19.

Atas dasar itu akhirnya Dinas Kesehatan Padang melakukan pemeriksaan masif di Ar Risalah dan mendapatkan 30 orang yang melakukan kontak erat dengan tiga pasien awal dan dilakukan tes usap.

"Dari 30 orang tersebut ternyata 25 anak positif dan akhirnya karena tidak mau ambil risiko, Dinas Kesehatan mengunjungi sekolah tersebut dan berkonsultasi dengan pengurus serta yayasan untuk melakukan tes usap massal," kata dia.

Pada saat itu diputuskan semua orang yang ada di Perguruan Islam Ar Risalah di tes usap sebanyak 1.500 orang dalam beberapa tahap.

Tahap I dites usap sebanyak 614 orang dan ditemukan positif 122 siswa dan 3 tenaga pendidik. Lalu hari berikutnya dilanjutkan tes usap dan total yang ditemukan positif sebanyak 239 orang sampai kemaren.

"Semua yang positif kita isolasi karena mayoritas memang tanpa gejala dan gejala ringan diisolasi di sekolah tersebut, lalu yang negatif dikembalikan ke orang tua, " ujarnya.

Oleh sebab itu, lonjakan kasus yang terjadi adalah karena upaya tes usap massal yang dilakukan dan kasusnya tidak menyebar di masyarakat.

Adanya temuan peningkatan kasus baru merupakan konsekuensi dari upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan dalam melalukan penelusuran kontak dengan mereka yang sudah terpapar lebih dahulu untuk dilakukan tes usap.

"Dari pada dibiarkan orang tanpa gejala COVID-19 tapi tidak diketahui lebih baik dilakukan penelusuran dan tes usap massal walaupun secara statistik status Padang berubah dari zona kuning menjadi oranye," kata dia.

Ia menyampaikan Padang tak akan pindah dari zona kuning ke zona oranye jika tidak dilakukan tes usap massal.

"Tapi dampaknya adalah para siswa yang positif tapi tidak diketahui mereka akan pulang ke rumah masing-masing dan bisa menularkan ke keluarga secara diam-diam karena tidak bergejala," katanya lagi.

"Apalagi jika tertular kepada lansia akan lebih fatal dampaknya, lebih baik melakukan tes usap massal namun temuan meningkat ketimbang dilakukan pembiaran," lanjutnya.

Secara epidemiologi semakin banyak temuan kasus positif kian baik, sebab kasus baru tidak akan ketemu jika tidak dilakukan penelusuran sehingga mata rantai bisa diputus, katanya.

Sementara hingga 27 April 2021 total warga Padang yang terpapar COVID-19 mencapai 17.387 orang, sembuh 16.319 orang, meninggal dunia 320 orang.

Pewarta :
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar