Logo Header Antaranews Sumbar

Menlu As di Timur Tengah 13-15 Juni

Selasa, 4 Juni 2013 08:30 WIB
Image Print

Ramallah, Wilayah Palestina, (Antara/AFP) - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry akan mengunjungi Timur Tengah pada 13-15 Juni untuk membahas upaya perdamaian dengan para pejabat Israel dan Palestina, kata Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Malki Senin. Namun dia mengatakan belum jelas apakah diplomat tinggi Washington itu akan mengunjungi Ramallah. Ucapannya disampaikan dalam satu wawancara dengan radio Voice of Palestine sehari setelah Menteri Luar Negeri Jordania Nasser Judeh mengatakan pada konferensi pers di Ramallah bahwa Kerry akan mengunjungi Amman "dalam beberapa hari ini". Pengumuman Judeh dilakukan setelah dia mengadakan pembicaraan dengan Presiden Palestina Mahmud Abbas mengenai upaya AS untuk menghidupkan kembali proses perdamaian yang hampir mati, dan menyerahkan surat dari Raja Abdullah II. Dia tidak mengatakan apakah Kerry akan melakukan perjalanan ke Yerusalem dan Ramallah. "Kerry akan datang lagi ke daerah itu untuk menemui Israel, Yordania dan Pemimpin Palestina, sehingga kunjungan Judeh adalah untuk mengkoordinasikannya," kata Malki. "Ditegaskan bahwa Kerry akan kembali ke wilayah tersebut pada 13, 14 dan 15 bulan ini. Kami masih tidak tahu apakah ia juga akan mengunjungi Ramallah. " Di Washington, Kerry mengatakan kepada wartawan pada Senin bahwa Israel dan Palestina "menimbang pilihan" keperluan mereka untuk melanjutkan pembicaraan damai dengan "sangat, sangat serius". Dia mengatakan ia terbuka untuk gagasan kembali ke wilayah untuk membantu mendorong para pihak kembali ke perundingan yang terhenti sejak 2010, namun ia tidak mengkonfirmasi laporan perjalanan lain segera terjadi. "Saya yakin bahwa kedua pihak menimbang pilihan mereka dengan sangat, sangat serius. Saya benar-benar yakin tentang itu," kataKerry. "Saya pikir mereka harus memiliki kesempatan untuk melakukan itu, dan saya akan menjadi wasit di beberapa titik apakah saya perlu mendorong sedikit atau membantu proses itu. Dan saya pasti bersedia. " Dalam empat bulan terakhir, Kerry telah terlibat dalam pertarungan diplomasi intensif yang ditujukan untuk menemukan jalan kembali ke perundingan langsungi. Dia terakhir mengunjungi Jerusalem dan Ramallah pada 23-24 Mei pada perjalanan keempat. Pada Kamis, ia berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mengungkapkan keprihatinannya atas rencana Israel untuk membangun lebih dari 1.000 rumah di Jerusalem timur yang dicaplok dan membahas upaya perdamaian. Kerry menelepon Abbas pada Jumat pagi dan lagi pada Sabtu, kata para pejabat Palestina. Meskipun diplomasi intensif, Kerry belum menyajikan prakarsa diplomatik dan mendorong Palestina untuk kembali ke perundingan "tanpasyarat," kata mereka. Para pemimpin Palestina ingin total membekukan pembangunan permukiman Israel sebelum melanjutkan pembicaraan perdamaian, yang dikatakan harus didasarkan pada garis sebelum perang Enam Hari pada tahun 1967 di mana Israel menduduki wilayah Palestina. Juga pada Senin, Menteri Pertahanan Israel Moshe Yaalon menuduh Abbas, yang akrab dikenal sebagai Abu Mazen, berusaha untuk menghindari pembahasan serius. "Kami siap untuk bergerak maju dalam proses perdamaian dan Abu Mazen yang menghindari dengan menetapkan prasyarat," katanya kepada satu komite parlemen. Padahal, sejak awal Palestina menegaskan perundingan perdamaian bisa dilakukan jika Israel menghentikan pembangunan permukimandi wilayah yang diduduki, yang terus dilakukan mengabaikan tuntutan Palestina. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026