DLH Kota Solok olah sampah organik jadi pupuk kompos

id Berita Solok, Sumbar

DLH Kota Solok olah sampah organik jadi pupuk kompos

DLH Kota Solok olah sampah organik jadi pupuk kompos (Antara/Laila)

Solok (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solok, Sumatera Barat mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman.

Kepala Bidang Persampahan, DLH Kota Solok Endriantomy di Solok, Minggu mengatakan pengelolaan sampah organik menjadi pupuk kompos tersebut baru dimulai awal tahun ini.

Selain itu, ia mengatakan sebelumnya DLH Kota Solok sudah mempunyai rumah kompos di dekat Tempat Pembuangan Akhir (TPA), namun tidak terkelola dengan baik karena terbakar pada tahun lalu.

"Rumah kompos pun kembali dibangun di pasar pagi, dekat komplek terminal Bareh Solok," kata dia.

Endrian menyebutkan saat ini sampah organik yang telah dikelola sekitar 400 kilogram dengan menghasilkan sekitar 210 kilogram pupuk kompos. Sampah tersebut berupa sampah sayur yang terdapat di pasar pagi.

"Untuk tahap pertama kita coba olah sampah organik yang di pasar pagi. Jika berhasil maka akan dicoba mengolah sampah-sampah rumah tangga," kata dia.

Ia berharap dengan adanya rumah kompos ini, sampah organik tidak lagi terbuang dan cukup residunya saja yang terbuang ke TPA.

Selain itu, kata dia saat ini pupuk kompos tersebut akan gunakan untuk kebutuhan pupuk taman di Kota Solok, sehingga nantinya mengurangi biaya pembelian pupuk untuk tanaman di taman Kota Solok.

"Selain itu, sarana dan prasarana pun sudah lengkap berupa mesin pencacah sampah, road roller, trolley sampah, gerobak sampah, dan 20 drum plastik," kata dia.

Dalam pengelolaan pupuk kompos DLH Kota Solok juga bekerja sama dengan pihak ketiga yang betul-betul paham akan pengelolaan sampah organik tersebut.

Di samping itu, Teknisi Pupuk Kompos Haris mengatakan teknik pengelolaan sampah organik menjadi pupuk kompos ini menggunakan ecofarming.

Proses pengolahan pupuk kompos tersebut, yakni sampah organik yang sudah dikumpulkan di pasar pagi didiamkan di dalam drum selama empat hari, kemudian dicacah dengan mesin. Sampah tersebut diaduk dengan ecofarming selama tiga hingga empat hari.

"Setelah itu diblending dengan tanah atau pupuk kandang, baru nantinya menjadi pupuk kompos yang bagus untuk tanaman," kata dia.

Ia berharap pengelolaan sampah organik ini betul-betul dikelola dengan baik. Sehingga nantinya dapat berkembang dan menjadi peluang usaha.

"Jika dikelola dengan sungguh-sungguh saya yakin ini akan menjadi peluang usaha di bidang pupuk. Sehingga nantinya masyarakat tidak perlu lagi membeli pupuk ke luar," kata dia.

Pewarta :
Editor: Mario Sofia Nasution
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar